BANYUMAS, NETRALNEWS.COM- Potensi desa di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah kembali membuktikan mampu bersaing di pasar global. Gula nira organik yang diproduksi Kelompok Nira Mukti Rahayu (Nimura) di Desa Ketanda, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas, sukses menembus pasar ekspor ke sejumlah negara seperti Jepang, Australia, Inggris, dan Belanda. Keberhasilan tersebut menjadi salah satu materi sharing bagi Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto Kelompok 010 saat melakukan kunjungan edukatif ke sentra produksi gula nira organik pada Bulan Juli 2026. Melalui kunjungan ini, mahasiswa mempelajari sejarah pengembangan gula organik, proses produksi, hingga strategi pemberdayaan masyarakat yang berhasil mengangkat komoditas lokal menjadi produk berdaya saing internasional. Ketua sekaligus perintis Kelompok Nimura, Tusino, menjelaskan bahwa pengembangan gula nira organik berawal dari upaya mengubah pola produksi masyarakat dari gula konvensional menjadi gula organik yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Edukasi dilakukan secara bertahap melalui pertemuan warga, kelompok tani, hingga kegiatan kemasyarakatan. "Masyarakat diberikan pemahaman mulai dari budidaya pohon kelapa, teknik penyadapan nira, hingga proses pengolahan gula sesuai standar organik internasional," jelas Tusino. Ia menuturkan, gula nira organik diproduksi tanpa bahan kimia sintetis sehingga menghasilkan produk yang lebih alami, aman dikonsumsi, dan ramah lingkungan. Nilai jualnya pun mencapai lebih dari dua kali lipat dibandingkan gula cetak konvensional karena memenuhi standar mutu yang lebih tinggi. Sebelum dipasarkan ke luar negeri, produk gula organik Desa Ketanda harus melalui proses audit dan pengujian laboratorium, termasuk di Belanda, untuk memastikan seluruh tahapan produksi memenuhi persyaratan sertifikasi organik internasional. Berkat konsistensi menjaga kualitas, Kelompok Nimura kini berhasil menjalin kerja sama dengan sejumlah mitra ekspor. Produk gula nira organik dari Desa Ketanda telah dipasarkan ke berbagai negara dan menjadi salah satu contoh sukses pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal. Menurut Tusino, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari komitmen seluruh anggota kelompok dalam menjaga kualitas mulai dari proses penyadapan nira hingga pengemasan produk. "Menjaga kualitas dan konsistensi adalah kunci utama. Jika seluruh proses sesuai standar organik, produk desa mampu memiliki nilai tambah dan bersaing di pasar dunia," ujarnya. Sekretaris Kelompok 010, Mahasiswa KKN UIN Saizu Purwokerto, Asri menyebutkan, bagi mahasiswa KKN UIN Saizu, kunjungan ini memberikan pengalaman langsung mengenai pentingnya inovasi, tata kelola usaha, dan partisipasi masyarakat dalam membangun ekonomi desa. Mereka juga mempelajari proses sertifikasi organik, strategi pemasaran ekspor, hingga pendampingan masyarakat yang menjadi fondasi keberhasilan Kelompok Nimura. "Kunjungan ke Kelompok Nira Mukti Rahayu (Nimura) memberikan wawasan baru bagi kami bahwa produk lokal desa memiliki peluang besar untuk menembus pasar internasional, apabila dikelola secara profesional dan memenuhi standar kualitas," jelas Asri. Kegiatan tersebut memperkuat peran mahasiswa sebagai agen pemberdayaan masyarakat yang mampu menghubungkan potensi lokal dengan peluang ekonomi global. Kisah sukses Desa Ketanda menjadi bukti bahwa produk desa dapat menembus pasar internasional apabila dikelola secara profesional, berkelanjutan, dan konsisten menjaga kualitas. Pihaknya merasa bangga mengetahui gula nira organik Desa Ketanda telah berhasil diekspor ke Jepang, Australia, Inggris, dan Belanda. "Pengalaman ini memotivasi kami untuk terus belajar mengenai pengembangan potensi desa, pentingnya menjaga kualitas produk, serta pemberdayaan masyarakat agar mampu menghasilkan produk yang berdaya saing global," pungkasnya.