MALANG – Beragam potensi Desa Ngenep, mulai dari wisata alam berbasis mata air, UMKM unggulan, hingga tradisi budaya, kini memiliki "rumah digital" yang terintegrasi. Pada Jum’at (24/07/2026) Kelompok mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) yang sedang melaksanakan kegiatan Belajar Bersama Masyarakat (BBM) berhasil membangun website resmi Desa Ngenep, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, yang mengintegrasikan data 13.829 penduduk, empat UMKM unggulan, empat destinasi wisata alam unggulan, dan tiga tradisi budaya dalam satu platform digital. Program yang berlangsung sekitar 40 hari pada Juni–Juli 2026 ini menjadi langkah awal digitalisasi tata kelola desa yang sebelumnya masih bergantung pada dokumen fisik dan catatan lisan. Ketua tim, Ryanda Putra, mahasiswa Geografi UM, menjelaskan bahwa website ini dibangun dengan enam menu utama: Beranda, Profil Desa, Pemerintahan dan Transparansi, Informasi, Layanan Masyarakat, serta Kontak dan Pengaduan. "Sebelumnya, data UMKM, wisata, dan budaya desa tersebar di catatan lisan warga. Kami menyatukan semuanya dalam satu platform yang bisa diakses siapa saja," ujar Ryan. Kaur Perencanaan Desa Ngenep, Moch. Ainul Cholidian, menyambut baik inisiatif ini. "Empat UMKM kami, destinasi wisata mata air, dan tradisi seperti Grebeg Suro akhirnya punya 'rumah digital'. Ini fondasi penting untuk promosi dan transparansi desa ke depan,". Proses pembangunan website menggunakan metode partisipatif dengan anggota tim yang mewawancarai langsung kepada perangkat desa, pelaku UMKM, Pokdarwis, dan kader Posyandu di duesa Ngenep, lalu memverifikasi kembali seluruh data bersama narasumber sebelum dipublikasikan. Website juga terhubung dengan akun Instagram @desangenep_official sebagai kanal promosi tambahan. Website yang telah dikembangkan selanjutnya diserahkan kepada perangkat desa untuk dikelola secara mandiri, dengan target pembaruan data berkala setiap tahunnya. Ke depan, tim merekomendasikan integrasi website dengan Sistem Informasi Desa (SID) tingkat kabupaten serta pengembangan dashboard analitik untuk memantau jumlah kunjungan dan interaksi pengguna. "Kami tidak ingin website ini berhenti jadi 'monumen KKN'. Perangkat desa sudah memegang penuh akses dan tanggung jawab pengelolaan. Harapannya, konten terus hidup dan diperbarui sesuai perkembangan desa," ujar Ryan. Bagi Desa Ngenep, langkah ini diharapkan menjadi fondasi menuju smart village, bukan karena kecanggihan teknologinya, melainkan karena semangat gotong royong warganya dalam membangun masa depan desa secara bersama-sama.