MALANG – Jumat pagi (17/7/2026) silam, menjadi hari yang istimewa bagi kami, mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) yang tergabung dalam program Belajar Bersama Masyarakat (BBM). Saat itu, Posyandu Anyelir di Desa Lumbangsari, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, terasa berbeda dari biasanya. Puluhan warga lanjut usia dari RT 11 hingga RT 13 tampak berkumpul dengan penuh semangat di halaman posyandu. Mereka datang bukan sekadar untuk mengisi waktu luang, tetapi karena kami mengajak mereka berbincang, mendengarkan cerita mereka, dan bersama-sama menjaga kesehatan jiwa. Kegiatan penyuluhan kesehatan mental ini menjadi program kerja utama pertama yang kami jalankan di desa tersebut. Sebelumnya, kami telah menuntaskan delapan program kerja pendukung sebagai langkah awal untuk mengenal lebih dekat kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. Dari hasil pengamatan dan obrolan santai dengan warga, kami menyadari bahwa di balik keramahan dan kesederhanaan warga Lumbangsari, ada isu penting yang kerap terabaikan, yaitu kesehatan jiwa para lansia. Banyak dari mereka yang mulai rentan terhadap rasa kesepian dan kecemasan, namun jarang ada yang memperhatikan. Saat sesi penyuluhan dimulai di Posyandu Anyelir, kami tidak langsung memberikan teori-teori berat yang membuat bosan. Kami memilih pendekatan yang lebih dekat dengan keseharian para kakek dan nenek. Kami memulai dengan pertanyaan sederhana, "Bapak-Ibu, pernah nggak tiba-tiba susah tidur atau jadi gampang marah tanpa sebab?" Dari situlah obrolan hangat mengalir. Kami menyampaikan materi yang cukup lengkap, mulai dari cara mengelola stres sehari-hari, cara mengenali tanda-tanda depresi sejak dini, hingga berbagai aspek kesehatan mental lain yang relevan dengan kondisi lansia di pedesaan. Salah satu bagian yang paling kami tekankan adalah pemaparan mengenai stres. Kami menjelaskan bahwa stres ternyata tidak selalu berdampak buruk. Ada yang disebut sebagai stres positif yang justru memberi dorongan semangat, misalnya saat ingin menyelesaikan pekerjaan rumah atau merencanakan acara keluarga. Namun, yang perlu diwaspadai adalah stres negatif yang datang berlarut-larut tanpa kendali. Untuk memudahkan pemahaman, kami membagikan leaflet yang dirancang khusus dengan tulisan besar dan jelas. Kami sengaja membuatnya demikian agar para lansia tidak kesulitan membacanya. Di dalam leaflet tersebut, kami tuliskan lengkap berbagai informasi penting. Mulai dari pengertian stres secara sederhana, faktor-faktor pemicu yang paling umum dialami lansia seperti rasa kesepian karena ditinggal anak merantau atau kecemasan akan masa depan, hingga dampak psikologis yang bisa ditimbulkan jika stres dibiarkan begitu saja. Kami juga tidak berhenti di situ. Leaflet itu kami lengkapi dengan penjelasan tentang pengaruh stres berlebihan terhadap kesehatan fisik, serta contoh gangguan kesehatan yang sering muncul akibat stres, seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, menurunnya daya tahan tubuh, hingga risiko diabetes tipe 2. Yang paling berharga, kami juga mencantumkan teknik pengelolaan stres yang praktis, rekomendasi kegiatan yang bisa diikuti warga di Desa Lumbangsari seperti senam lansia dan posyandu rutin, serta teknik relaksasi sederhana seperti latihan pernapasan yang bisa dipraktikkan secara mandiri di rumah. Dengan adanya leaflet ini, para lansia bisa membacanya kembali kapan saja, sehingga ilmu yang kami sampaikan tidak hilang begitu saja setelah acara usai. Setelah pemaparan materi selesai, kami membuka sesi berbagi cerita. Momen ini menjadi sangat istimewa bagi kami. Para lansia diberi kesempatan luas untuk menyampaikan pengalaman maupun keluh kesah yang selama ini mereka pendam. Ada yang bercerita tentang kesepian setelah ditinggal anak merantau ke kota, ada pula yang mengeluhkan badan yang mulai sering sakit dan biaya berobat yang semakin mahal. Ada juga yang menceritakan bagaimana ia merasa bingung mengisi waktu setelah pensiun dari pekerjaannya. Kami dengan sabar mendengarkan satu per satu. Tidak ada yang kami potong, tidak ada yang kami hakimi. Sesi ini sengaja kami buat agar para peserta merasa didengar dan diperhatikan. Kami percaya, terkadang obat paling manjur bagi lansia adalah ketika ada orang lain yang mau menyimak keluh kesah mereka dengan penuh perhatian. Agar suasana tidak larut dalam kesedihan, kami lanjutkan kegiatan dengan senam bersama di halaman Posyandu Anyelir. Kami mengajak seluruh peserta berdiri dan menggerakkan badan dengan iringan musik ringan. Gerakannya sederhana—mengayunkan tangan, menoleh ke kiri dan kanan, mengangkat bahu, dan menggerakkan kaki. Meskipun sederhana, senam ini bukan hanya menyehatkan fisik, tetapi juga menjadi sarana mempererat interaksi antara kami dan warga. Tawa dan canda pun terdengar riuh di lingkungan posyandu. Ada yang gerakannya ketinggalan, ada yang terlalu bersemangat hingga hampir terpeleset, tapi semua menikmati. Suasana hangat dan penuh kebersamaan benar-benar tercipta. Kami melihat sendiri bagaimana gerakan-gerakan ringan ini mampu mencairkan suasana dan membuat para lansia merasa lebih segar dan bahagia. Semangat para peserta benar-benar terlihat sepanjang acara di Posyandu Anyelir. Mereka tidak hanya duduk diam, tetapi juga aktif bertanya, menanggapi, dan sangat terbuka saat sesi berbagi cerita. Beberapa di antara mereka bahkan meminta kami untuk datang lagi di lain waktu. Kami pun merasa terharu melihat keterlibatan aktif dari para kakek dan nenek tersebut. Sebagai bentuk apresiasi atas kehadiran dan partisipasi mereka, kami memberikan kerajinan tangan hasil karya kami sendiri kepada setiap peserta. Cendera mata sederhana ini kami buat dengan penuh ketelitian dan kasih sayang. Kami berharap barang kecil ini menjadi kenang-kenangan yang selalu mengingatkan para lansia akan pentingnya menjaga kesehatan mental dan semangat kebersamaan yang telah kami bangun bersama pada hari itu. Kegiatan di Posyandu Anyelir ini mengingatkan kami bahwa menjaga kesehatan mental itu penting di segala usia, termasuk di masa senja. Bagi para lansia, kehadiran kami yang mau mendengarkan dan menemani menjadi bukti bahwa mereka tidak sendiri. Kami juga belajar banyak dari mereka tentang kesabaran, tentang perjuangan, dan tentang arti keluarga. Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi awal yang baik untuk terus memperhatikan kesehatan mental warga desa, terutama para lansia yang sering kali merasa terlupakan. Dukungan dari lingkungan sekitar, baik keluarga maupun masyarakat, sangat berarti untuk mencegah stres dan kecemasan yang sering dialami oleh lansia. Dengan semangat kebersamaan dan kepedulian yang tulus, kami berharap Desa Lumbangsari menjadi tempat yang nyaman bagi semua generasi untuk tumbuh dan menua dengan bahagia.