PURWOREJO, NETRALNEWS.COM- Dua gadis belia adik-kakak berinisial DSA (15) dan KSH (17) dari Desa Banyuurip, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo direnggut hari depannya dan dijerumuskan dalam kuasa kegelapan oleh belasan pria tak bertanggung jawab. DSA adalah adik dari KSH. Mereka tumbuh dan besar dari keluarga tak mampu. Di rumah berdinding batu bata tanpa pelur, mereka habiskan hari-hari panas terik maupun hujan. Sejak kecil, mereka ditinggal meninggal ayahnya dan hidup bersama Sri Untary, ibunya yang sehari-hari bekerja sebagai juru bantu keluarga tetangga yang lebih berada. Tak ada ratapan atau keluhan. Mereka berusaha ceria layaknya anak-anak desa. Meski serba kekurangan, tak ada cerita keluarga itu utang tetangga sana sini atau jadi bahan gunjingan orang. “Tak pernah sih, mereka utang tetangga. Cuman memang, selalu masuk daftar keluarga tak mampu penerima zakat atau bansos desa. Dulu waktu saya banyak rezeki, juga sering membantu sekadar buat bantu biaya makan, Rp100 atau Rp300 ribu. Bantuan seperti ini juga dilakukan beberapa orang lain,” tutur Johan (bukan nama sebenarnya), salah satu tetangga DSA dan KSH, yang tak mau disebutkan nama aslinnya. Johan menyaksikan langsung keseharian DSA dan KSH. Mereka sering bermain dan menyayangi anak-anak 5 sampai 10 tahun. “Sering bermain dengan anak saya. Ya, namanya masih anak. Makanya, miris sekali nasib mereka. Masih anak-anak, tiba-tiba mengalami nasib seperti itu (dirudapaksa, red),” tambah Johan. Sosok Ibu Korban Dalam pemberitaan sebelumnya, ibu DSA dan KSH, Sri Untary, disebut-sebut sebagai sosok berkebutuhan khusus atau terbelakang. Berdasar penelusuran NNC, ternyata ia lebih tepat disebut sebagai wanita berwawasan kurang, mungkin karena faktor pendidikan. Namun, ia mampu berkomunikasi dengan baik. “Bisa berkomunikasi baik. Ya istilahnya agak bodoh, gitulah!” tutur Kepala Dusun Banyuurip, Supriyani, kepada NNC, Selasa (22/10/24). Pernyataan Supriyani juga senada dengan Johan. Buktinya, Ibu DSA dan KSA mampu dan dipercaya menjadi juru bantu oleh tetangga-tetangganya. Selain sebagai juru bantu, ia juga sering mengumpulkan barang bekas (rongsok) untuk sekadar menambal biaya hidup. Awal Mula Prahara “Tahun 2023, DSA sempat ikut latihan kuda lumping. Kala itu, ada persiapan lomba seni kuda lumping antar desa. Dari latihan-latihan inilah, diduga para pelaku mendekati, merayu, hingga terjadi tindak asusila. Namanya masih anak-anak, kan? Ditambah kurang pengawasan karena tak punya bapak. Ya, namanya masih anak-anak, masih SMP, posisinya kan ndak setara dengan orang dewasa. Lemah posisinya, sehingga singkat cerita ‘dimangsa’ oleh beberapa pemuda itu,” tutur Johan. “Warga sekitar sebenarnya sudah tahu semua. Paling tidak ada tiga dari Desa Banyuurip dan dua pemuda dari Desa Sumbersari. Ada satu yang masih di bawah umur, lainnya dewasa,” imbuhnya. Parahnya, dari tindak rudapaksa itu berlanjut hingga ada salah satu pelaku diduga “menjual” DSA kepada teman-temannya. Dugaan inilah yang menurut Johan perlu diungkap oleh kepolisian. Untuk KSH Sedikit Berbeda Sementara untuk nasib tragis KSH, sedikit berbeda dengan DSA. Kejadian kekerasan seksual anak di bawah umur yang dialami KSH terjadi setelah kasus DSA mencuat yang berujung dinikahkan siri. KSH yang masih di bawah umur itu, tertangkap basah oleh warga di sebuah gubuk persawahan. Peristiwa itu terjadi di wilayah Desa Pogung Kecamatan Bayan, Purworejo. Setelah tertangkap warga ketiganya pun langsung dibawa ke Kantor Desa Banyuurip. Atas peristiwa itu, pihak pemerintah desa pun memanggil keluarga masing-masing untuk menyelesaikan kasus tersebut. “Pihak keluarga semua datang. Saat itu kami persilahkan keluarga korban dan keluarga pelaku berembuk, yang akhirnya mereka semua sepakat untuk diselesaikan secara kekeluargaan. Kami tidak ikut-ikut, cuma menfasilitasi. Pengambilan keputusan murni dari hasil musyawarah mereka,” kata Kepala Desa Banyuurip, Teguh Susanto. Pascakejadian itu, KSH masih tetap melanjutkan sekolah sampai sekarang. Namun, penting dicatat, Hotman Paris usai menerima laporan korban, juga menyebutkan bahwa DSA dan KSH juga sempat diperkosa oleh pelaku yang sama. "Inilah dia korban pemerkosaan yang diperkosa selama setahun oleh puluhan orang. Bahkan ada satu pelaku yang memperkosa dua orang ini dalam hari yang sama," kata Hotman Paris. Gambaran Para Pelaku Kepada Hotman Paris, KSA dan DSA menyebutkan jumlah pelaku rudapaksa sebanyak 13 laki-laki. "Diperkosa oleh 13 orang selama setahun penuh bergantian, berulang-ulang hampir tiap bulan diperkosa bahkan ada satu pemerkosa yang memerkosa cewek ini dua-duanya," kata Hotman Paris di Kopi Gemoy, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Sabtu (19/10/2024) silam. Soal berapa pastinya jumlah pelaku dan siapa mereka, sebenarnya bisa dilacak dan diketahui secara lebih jelas. Para pelaku tindak kekerasan seksual terhadap DSA ini sebenarnya terang benderang jika didasarkan pada pernyataan Ketua RT 02 RW 01 Desa Banyuurip, Andriyanto Wijaya. Melalui pernyataannya dalam video berdurasi 4 menit 19 detik, ia menyebutkan bahwa setelah korban DSA (sosok adik) menikah secara siri, maka untuk membantu korban, ia berinisiatif menemui 5 terduga pelaku tindak asusila dengan meminta masing-masing dikenakan uang bantuan kepada korban, total sebesar Rp5 juta. "Karena sudah ada yang bertanggung jawab (menikahi siri), saya memohon kepada terduga untuk membantu uang kompensasi untuk korban tersebut. Karena terduga itu tidak hanya satu melainkan lima orang, saya mengambil jalan pintas bagaimana kalau satu orang dikenakan Rp1 juta. Berarti ada Rp5 juta untuk kompensasi bagi anak tersebut. Maka, setujulah dari pihak terduga tersebut," tutur Andriyanto, seperti dikutip NNC, Selasa (22/10/24). Dalam perkembangannya, dari para pelaku ini ternyata baru tiga orang yang menyerahkan uang. Andriyanto mengaku sengaja belum menyerahkan uang tersebut sebelum genap seluruhnya. Ketika kasus semakin mencuat, Andriyanto berusaha menyerahkan uang Rp3 juta kepada keluarga korban. Namun oleh keluarga korban ditolak. Akhirnya Andriyanto mengembalikan uang tersebut kepada pihak terduga. Keberadaan Pelaku Mencuatnya kasus rudapaksa DSA dan KSH secara nasional tentu saja membuat para pelaku mulai gerah. Dari keterangan sejumlah saksi, bahkan ada salah satu pelaku yang sengaja kabur meningalkan desa. “Sempat pinjam uang, lalu katanya pergi keluar Jawa,” tutur Johan. Informasi dan kabar tersebut sangatlah penting bagi Polisi. Dalam hal ini, warga Desa Banyuurip, terutama tetangga korban, sangat berharap agar Polres Purworejo bertindak cepat.