JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Persoalan sampah masih menjadi tantangan yang dihadapi berbagai kota di Indonesia, termasuk Kota Bekasi. Pertumbuhan jumlah penduduk, peningkatan aktivitas masyarakat, serta pola konsumsi yang terus berkembang berpengaruh terhadap tingginya volume sampah yang dihasilkan setiap hari. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah memerlukan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat agar lingkungan tetap bersih, sehat, dan nyaman. Berdasarkan data Pemerintah Kota Bekasi melalui Dinas Lingkungan Hidup, produksi sampah di Kota Bekasi mencapai sekitar 1.800 ton per hari. Sebagian besar sampah tersebut diangkut menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu untuk diproses lebih lanjut. Di sisi lain, masih ditemukan kebiasaan membuang sampah sembarangan yang menyebabkan saluran drainase tersumbat, pencemaran lingkungan, hingga meningkatkan potensi banjir ketika curah hujan tinggi. Persoalan serupa juga menjadi perhatian secara nasional. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat Indonesia menghasilkan sekitar 56–69 juta ton sampah setiap tahun atau sekitar 150–190 ribu ton per hari. Sampah rumah tangga masih menjadi penyumbang terbesar sehingga mengubah perilaku masyarakat dinilai sebagai salah satu faktor penting dalam mengurangi timbulnya sampah. Dampak pengelolaan sampah yang kurang optimal tidak hanya terlihat dari aspek kebersihan lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat. Tumpukan sampah berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD), mencemari udara dan tanah, serta menimbulkan bau yang mengganggu aktivitas warga. Selain itu, praktik pembakaran sampah secara terbuka dapat meningkatkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, dan penyakit paru lainnya. Di balik upaya menjaga kebersihan lingkungan, terdapat petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) atau yang lebih dikenal sebagai Pasukan Oranye. Setiap hari mereka membersihkan jalan, mengangkut sampah, merawat taman, hingga membersihkan saluran air agar tetap berfungsi dengan baik. Peran tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung terciptanya lingkungan perkotaan yang bersih dan nyaman. Meski demikian, keberhasilan menjaga kebersihan lingkungan tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab petugas kebersihan. Kesadaran masyarakat menjadi faktor yang sama pentingnya. Kebiasaan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta memilah sampah organik dan anorganik dapat membantu mengurangi beban pengelolaan sampah. Pengamat lingkungan dari berbagai kalangan juga menilai bahwa perubahan perilaku masyarakat perlu dibangun melalui edukasi yang berkelanjutan. Kampanye mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dinilai lebih efektif jika disertai dengan kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menerima informasi, tetapi juga memahami proses pengelolaan sampah serta tantangan yang dihadapi petugas kebersihan. Salah satu bentuk edukasi kepada masyarakat dilakukan melalui kegiatan bertajuk “Satu Hari Bersama Pahlawan” yang diselenggarakan oleh mahasiswa melalui kolaborasi dengan petugas PPSU dan masyarakat dalam aksi bersih lingkungan. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan dapat melihat bahwa menjaga kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Kehadiran petugas PPSU memang sangat membantu, namun keberhasilannya menciptakan lingkungan yang bersih juga dipengaruhi oleh perilaku masyarakat sehari-hari. Semakin tinggi kepedulian masyarakat, semakin ringan pula beban pengelolaan sampah yang harus dilakukan pemerintah. Kolaborasi antara pemerintah, petugas PPSU, lembaga pendidikan, komunitas, dan masyarakat menjadi salah satu langkah yang dapat memperkuat budaya peduli lingkungan. Pendidikan yang dilakukan secara konsisten diharapkan mampu membentuk kebiasaan positif yang berkelanjutan, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga ruang publik. Kesimpulannya, menjaga kebersihan lingkungan tidak hanya bertujuan menciptakan kota yang rapi, tetapi juga mendukung kesehatan masyarakat, mengurangi risiko bencana akibat sampah, serta meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Upaya tersebut memerlukan kontribusi dari seluruh pihak. Dengan membangun kepedulian masyarakat dan memberikan apresiasi kepada para petugas PPSU, diharapkan semangat menjaga lingkungan dapat terus tumbuh sehingga Kota Bekasi menjadi kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.