JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Selasa 14 Januari 2025 lalu Windah Basudara--seorang gamer--tengah merencanakan livestream game bertajuk Love and Deepspace. Sebuah game otome atau dating simulation yang bersegmen utama perempuan. Di game ini, pemain fokus dalam mengembangkan hubungan romansa dengan karakter yang ada di game. Rencananya menuai banyak komentar pro dan kontra. Yang menonjol adalah ketika banyak sekali komentar seksis pada game tersebut seperti “Ih, game jomok” “Game porno” “Mari kita ban game ini!” dan ujaran negatif lainnya. Jomok dalam dunia online bermakna jokes homo atau jokes homoseksual. Meskipun ujarannya tidak relevan, tapi secara tidak langsung ini menjadi sindiran atau ejekan kepada player Love and Deepspace yang utamanya perempuan. Perbedaan respon dapat dilihat saat Windah memainkan game dating dari Korea Selatan yang berisi wanita-wanita cantik, elok, dan fisik menggoda berjudul Five Hearts Under One Roof. Respon pengikut Windah nampak tidak mempermasalahkan konten game tersebut. Padahal jenis gamenya sama-sama dating game, tapi kenapa responnya bisa berbeda? Inilah yang terjadi, misogini di dunia game. Perkembangan Industri GamePerkembangan industri game dari tahun ke tahun mulai menunjukkan keseimbangan terkait distribusi gender. Di Amerika Serikat pada 2024 sebanyak 48 persen pemain game adalah perempuan dan 42 persen sisanya adalah laki-laki. Sedangkan pada 2023 secara global sekitar 45 persen pemain game adalah perempuan dan 55 persennya laki-laki. Meski ekosistem game kini cenderung diisi seimbang secara gender, tetapi lingkungan game masih kurang dalam merepresentasikan perempuan. Hal ini dibawa dari sejarah video game yang terikat kental dengan dominasi laki-laki di era 80 hingga 90an yang pada saat itu diramaikan oleh arcade game. Pada jaman itu, arcade dianggap sebagai tempat nongkrong untuk laki-laki dan perempuan dipandang aneh saat memasuki ruang tersebut. Sebagian besar game yang terkenal selama perkembangan video game memiliki branding yang maskulin seperti aksi, penampilan karakter yang badass, dan penuh tantangan, Contohnya seperti Zelda, DOTA, Counter-Strike. Sedangkan untuk saat ini, game seperi Mobile Legends dan Valorant memiliki karakter yang sama. Terlalu banyak representasi karakter maskulin dalam game dan karakter perempuan dalam game yang berkembang terasa hanya sebagai pemanis dengan pakaian tempurnya yang bahkan tidak bisa melindungi mereka dari sengatan lebah, terlalu terbuka. Fan-Service yang Berlebihan Demi Menggaet Cuan Industri game terlalu fokus pada pemberian fan-service untuk pemain laki-laki. Dengan dominasi laki-laki, industri game memfokuskan pada bagaimana mereka mampu menggaet lebih banyak konsumen dan menghasilkan keuntungan besar. Mereka berhasil dengan memberi fan-service. Tapi akibatnya, representasi perempuan dalam game menjadi sempit dan hanya menganggap karakter perempuan sebagai objek pelengkap untuk lebih menikmati game. Pada game Genshin Impact, tidak sedikit karakter perempuan digambarkan memiliki pakaian yang terlalu terbuka. Contohnya Yae Miko yang diceritakan sebagai seorang pendeta kuil wanita. Namun berbeda dengan pendeta kuil umumnya sesuai tradisi Jepang, pakaian Yae Miko termasuk sangat terbuka sebagai seorang pendeta. Seperti potongan baju yang panjangnya hanya sepaha dan bagian atasnya yang sedikit megekspos dada. Lingkungan Misoginis Membuat Perempuan Kurang Bebas Berekspresi Dengan perkembangan dunia game yang masih berorientasi pada laki-laki, tak jarang perempuan sulit mendapat ruang berekspresi. Meskipun kini dunia lebih maju dan pikiran masyarakat mulai terbuka, stereotip perempuan dalam dunia game masih menjadi pengekang mereka untuk berkreasi. Perkembangan ini secara tidak sadar membuat lingkungan kita menormalisasikan misogini dalam dunia game. Perempuan hanya dianggap sebagai objek pemanis dengan visual yang sensual. Bahkan sebagai gamer pun, perempuan dinilai tidak lebih mampu dibanding laki-laki. Karena game dinilai bersifat maskulin, perempuan dianggap tidak mampu membawa dan menghadapi nilai-nilai tersebut. Tak jarang kemampuan perempuan diremehkan karenanya, padahal keahlian dalam bermain game adalah suatu hal yang bisa diasah dan tidak bergantung pada kemampuan spesifik suatu gender saja. Lingkungan yang toksik banyak menyerang perempuan membuat mereka sulit dan terasa sempit untuk mengekspresikan diri mereka. Karena selalu ada celah untuk laki-laki berperilaku misoginis.