MALANG— KKN Berdampak UMM Kelompok 162 melaksanakan kegiatan pembuatan filter air sebagai upaya pengolahan air di Dusun Bulurejo, Desa Tumpakrejo, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, pada hari Senin (17/8). Kegiatan ini dilakukan dengan memanfaatkan beberapa jenis media penyaring yang disusun secara berlapis, termasuk bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar seperti serat sabut kelapa. Pembuatan filter tersebut ditujukan untuk membantu meningkatkan kualitas air sekaligus memperkenalkan metode penyaringan yang sederhana dan dapat diterapkan oleh masyarakat. Melalui kegiatan ini, kelompok KKN berharap masyarakat dapat memperoleh pengetahuan dan alternatif pengolahan air yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat. Selain itu, pemanfaatan bahan lokal diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk mengembangkan solusi pengolahan air yang lebih mudah dijangkau, berkelanjutan, dan dapat memberikan dampak positif terhadap kebutuhan air sehari-hari. Pembuatan filter air dilakukan melalui beberapa tahapan, diawali dengan mempersiapkan seluruh bahan penyaring yang akan digunakan. Setelah tersedia, masing-masing media disusun ke dalam wadah secara berlapis dan berurutan, mulai dari kerikil, kapas, pasir silika, kapas, arang, kapas, manganese greensand, kapas, zeolit, kapas, resin kation, hingga kapas pada lapisan terakhir. Susunan tersebut dibuat berdasarkan fungsi dari setiap media dalam membantu proses pengolahan air. Kerikil dan pasir silika berperan untuk menahan benda atau partikel lain serta membantu mengurangi kekeruhan . Sementara arang digunakan untuk mengurangi adsorpsi. Manganese greensand media filter air berbentuk butiran pasir berwarna gelap yang berfungsi utama untuk menyaring dan menghilangkan kandungan zat besi, mangan , serta gas hidrogen sulfida atau bau busuk di dalam air sumur atau air tanah , sedangkan zeloit mineral berpori alami atau buatan yang berfungsi sebagai penyaring, pengikat zat kimia, dan penukar ion., mineral ini banyak dipakai untuk menjernihkan air. Selanjutnya resin kation berfungsi menghilangkan ion-ion bermuatan positif seperti kalsium , magnesium , dan logam berat dari dalam air melalui metode pertukaran ion. Adapun yang terakhir ialah kapas yang berfungsi menjadi batas antar komponen filter air agar tidak mudah menyatu dengan komponen yang lain dan menyaring partikel atau kotoran kecil. Setelah filter utama dibuat, kelompok melakukan percobaan dengan mengganti kapas aquarium menggunakan serat sabut kelapa. Pemanfaatan sabut kelapa dipilih karena bahan tersebut relatif mudah ditemukan di lingkungan masyarakat Dusun Bulurejo. Dari pengamatan awal, penggunaan sabut kelapa menghasilkan perubahan pada kondisi air. Pada satu hingga dua hari pertama, air hasil penyaringan terlihat kemerahan, namun endapan pada air tampak berkurang, meskipun hasil tersebut masih merupakan pengamatan awal dan belum dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa air telah memenuhi standar kualitas tertentu.