MALANG, NETRALNEWS.COM — Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang diinisiasi Kelompok 7 dan 8 FISIP Bakti Desa (FBD) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) berhasil menghadirkan ruang dialog yang hangat dan bermakna bagi masyarakat Desa Argosari, Kabupaten Malang. Bersama Dosen Pendamping Lapangan, para mahasiswa menyelenggarakan program bertajuk "Sapa Tani", sebuah forum yang dirancang untuk mendengar, menyerap, dan mengawal aspirasi petani sebagai bagian dari upaya pengabdian kepada masyarakat. Bertempat di Balai Desa Argosari, kegiatan berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Acara diawali dengan penampilan tari tradisional, dilanjutkan dengan ramah tamah, pemotongan tumpeng, pembagian doorprize, hingga forum diskusi lesehan bertajuk "Cangkrukan Jejak Pendapat". Konsep diskusi yang santai namun substansial ini berhasil mempertemukan akademisi, pemerintah desa, dan para petani dalam satu ruang komunikasi yang setara tanpa sekat, sehingga setiap peserta dapat menyampaikan pandangan dan pengalaman secara terbuka. Melalui forum tersebut, berbagai persoalan mendasar yang dihadapi petani Desa Argosari mengemuka. Salah satu isu yang paling banyak disoroti adalah melonjaknya harga pupuk non-subsidi dalam waktu singkat. Petani mengungkapkan bahwa harga pupuk Zwavelzure Ammoniak (ZA) meningkat lebih dari dua kali lipat, dari sekitar Rp210.000 menjadi Rp440.000 per sak hanya dalam kurun satu bulan. Di sisi lain, harga jual gabah atau padi tetap stagnan di kisaran Rp7.000 per kilogram, sehingga keuntungan petani terus tergerus oleh tingginya biaya produksi. Selain persoalan harga, para petani juga mengeluhkan rumitnya prosedur penebusan pupuk bersubsidi. Mereka diwajibkan melengkapi berbagai persyaratan administratif, mulai dari Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK), Kartu Tanda Penduduk (KTP), Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT), hingga pemetaan lokasi lahan. Kondisi tersebut dinilai semakin menyulitkan petani kecil dalam memperoleh akses terhadap pupuk yang menjadi kebutuhan utama produksi pertanian. Berbagai tantangan lain turut disampaikan dalam forum. Serangan hama tikus dan wereng yang terus berulang menyebabkan banyak petani mengalami gagal panen, bahkan sebagian memilih mengalihfungsikan lahan sawah menjadi tanaman tebu yang dianggap lebih menjanjikan. Di sisi pemasaran, keterbatasan akses pasar membuat petani masih bergantung pada tengkulak, sehingga posisi tawar mereka terhadap harga hasil panen tetap rendah. Kehadiran mahasiswa dan dosen sebagai pendengar sekaligus fasilitator diskusi mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Dalam forum tersebut, salah seorang perwakilan petani Desa Argosari, Dikir, menyampaikan apresiasinya terhadap kepedulian kalangan akademisi. "Terus terang saya lebih percaya kepada teman-teman mahasiswa daripada anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), karena mahasiswa itu pemikirannya masih murni belajar untuk rakyat," ujar Dikir dalam forum Sapa Tani, Minggu (26/7/2026). Apresiasi serupa juga datang dari Kepala Desa Argosari. Ia menilai kegiatan ini menjadi bukti nyata kepedulian mahasiswa terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat desa, khususnya kelompok tani. "Tani itu singkatannya Tiang Agung Negara Indonesia, tetapi sering kali tersisihkan di tingkat bawah. Saya sangat bangga karena KKN FISIP UB mau mengumpulkan warga tani dalam ruang diskusi terbuka seperti ini," tuturnya. Tidak hanya membahas sektor pertanian, kegiatan Sapa Tani juga memperluas kolaborasi dengan melibatkan tim Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya dalam upaya mendampingi peternak sapi perah di Dusun Bendrong. Menanggapi rendahnya harga susu segar mentah yang masih berada di bawah Rp8.000 per liter, tim akademisi memperkenalkan inovasi berupa alat pasteurisasi dan pendingin cepat hasil riset kampus. Teknologi tersebut diharapkan mampu membantu peternak mengolah susu menjadi produk bernilai tambah, seperti yogurt, sehingga meningkatkan daya saing sekaligus pendapatan mereka. Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini, seluruh aspirasi, masukan, serta data permasalahan yang diperoleh melalui forum Cangkrukan Sapa Tani akan diinventarisasi dan disusun menjadi sebuah naskah rekomendasi kebijakan. Dokumen tersebut direncanakan akan diserahkan secara resmi kepada Dinas Pertanian Kabupaten Malang sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan sektor pertanian. Melalui pendekatan partisipatif yang mengedepankan dialog dan kolaborasi, Kelompok 7 dan 8 KKN FISIP Bakti Desa Universitas Brawijaya berharap kegiatan Sapa Tani tidak berhenti sebagai forum diskusi semata. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan menjadi jembatan yang menghubungkan suara masyarakat desa dengan para pengambil kebijakan, sehingga berbagai persoalan yang dihadapi petani dapat memperoleh solusi yang lebih konkret, efektif, dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat pedesaan.