BEKASI, NETRALNEWS.COM — Di tengah meningkatnya isu lingkungan dan krisis sampah plastik yang kian mendesak, profesi pemulung atau resource collectors kembali mendapat sorotan. Mereka yang selama ini bekerja di balik layar, mengumpulkan dan memilah sampah, ternyata memegang peran vital dalam menjaga kebersihan kota sekaligus menopang ekonomi sirkular. Yayasan Sustainability for Resource Collectors Initiative (SuRCI), organisasi nirlaba yang berdiri sejak 2016 di Kanada pun bergerak hadir untuk menempatkan pemulung sebagai aktor utama dalam sistem pengelolaan sampah. Dengan visi menciptakan ekonomi sirkular, SuRCI memberdayakan lebih dari 11.514 pemulung di Indonesia, bermitra dengan 660 komunitas, serta mendistribusikan lebih dari 53 ribu paket sembako dan 4 ribu akses BPJS Ketenagakerjaan. “Pemulung bukan sekadar pengelola sampah, mereka adalah agen perubahan yang mengubah limbah menjadi sumber daya bernilai,” kata Annisa Fauziah, Country Manager SuRCI Indonesia. Data menunjukkan, dari 3,7 juta pemulung di Indonesia, 64% hidup di bawah garis kemiskinan, 42% tidak memiliki jaminan kesehatan, dan profesi ini masuk kategori pekerjaan berbahaya dengan tingkat cedera fatal tinggi. Selain itu, 21% masih gagap teknologi, sehingga sulit mengakses informasi dan peluang ekonomi. Di sinilah SuRCI berperan dengan menghadirkan program kesehatan, pendidikan, keamanan pangan, hingga subsidi smartphone agar pemulung dapat terhubung dengan dunia digital. Momentum penting hadir melalui kegiatan Temu Sapa & Apresiasi Resource Collectors 2026 yang digelar di Bantar Gebang, Bekasi, pada 5 Agustus 2026. Acara ini dihadiri 100 pemulung. SurCi memberikan sosialisasi literasi digital, program BPJS Ketenagakerjaan, hingga penghargaan Top Resource Collector. Selain di Bekasi, kegiatan serupa juga berlangsung di Penjaringan, Jakarta (6 Agustus) dan Pasar Kemis, Banten (9 Agustus), masing-masing dengan 50 peserta. Annisa menegaskan pihaknya ingin memastikan para resource collectors mendapatkan akses yang setara terhadap layanan sosial dan peluang ekonomi. Sehingga pihaknya akan mengupayakan pekerjaan pemulung bisa mendapatkan BPJS Ketenagakerjaan. Sejak September 2025, SuRCI mendapat dukungan dari Niagara Cares, program filantropi milik Niagara Bottling. Kolaborasi ini telah memberdayakan 1.114 pemulung, bermitra dengan 73 komunitas, serta mendistribusikan 6.374 paket sembako dan 739 akses BPJS Ketenagakerjaan. Niagara Cares menekankan empat pilar utama: daur ulang, edukasi, keterlibatan komunitas, dan dukungan sosial. Melalui hibah dan program sosial, mereka memperkuat langkah SuRCI dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan. Ketua Umum Ikatan Pemulung Indonesia (IPI), Pris Polly, menegaskan pentingnya pengakuan terhadap profesi pemulung. “Pemulung adalah aktor penting dalam ekonomi sirkular. Melalui kolaborasi dengan SuRCI dan dukungan Niagara Cares, kami berharap semakin banyak pemulung yang terlindungi secara sosial dan ekonomi, sehingga profesi ini semakin diakui dan dihargai.” Harapan ke depan, kegiatan Temu Sapa bukan hanya ajang silaturahmi, tetapi juga simbol pengakuan atas profesi pemulung. SuRCI berharap kolaborasi lintas sektor ini dapat memperluas akses perlindungan sosial, pendidikan, layanan kesehatan, dan peluang ekonomi bagi pemulung.