MALANG - Tim Pengabdian Masyarakat Departemen Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Malang (UM), bersama BRIN, PT Ekamas Fortuna, DLH Kabupaten Malang, dan Pokmas Gundul Joyo menggelar forum group discussion (FGD) dan survei lapangan di kawasan Gunung Gede, Desa Sumberejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, pada Kamis, 9 Juli 2026 silam. Kegiatan ini menjadi langkah awal perumusan model agroforestri berbasis riset untuk merehabilitasi lahan bekas tambang kapur di kawasan tersebut. Kawasan Gunung Gede memiliki potensi besar sebagai lahan agroforestri sekaligus penyangga ekosistem. Namun, pemanfaatannya selama ini belum optimal karena minimnya sinergi antar-pemangku kepentingan. Kondisi inilah yang mendorong kelima pihak berkolaborasi merumuskan model pengelolaan yang berkelanjutan. Kegiatan bertujuan menyusun model agroforestri berkelanjutan di Gunung Gede melalui sinergi riset, kebijakan, dan partisipasi masyarakat. Program ini mendukung empat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yaitu SDG 15 (ekosistem daratan), SDG 13 (aksi iklim), SDG 8 (pertumbuhan ekonomi inklusif), dan SDG 17 (kemitraan multi-pihak). FGD digelar di Balai Desa Sumberejo dan mempertemukan Tim Pengabdian Masyarakat Departemen Ekonomi Pembangunan UM dengan perwakilan BRIN, PT Ekamas Fortuna, DLH Kabupaten Malang, dan Pokmas Gundul Joyo. Dalam forum tersebut, BRIN memaparkan hasil kajian riset karakteristik lahan dan potensi vegetasi Gunung Gede sebagai dasar penyusunan model agroforestri. Setelah FGD, tim melanjutkan survei lapangan dan koordinasi teknis langsung di kawasan Gunung Gede untuk memetakan kondisi lahan sekaligus menyelaraskan rencana implementasi dengan kondisi riil di lapangan. Kegiatan ini melibatkan 15 anggota Tim Pengabdian Masyarakat UM, 3 perwakilan BRIN, 2 perwakilan PT Ekamas Fortuna, 4 perwakilan DLH Kabupaten Malang, serta 2 anggota Pokmas Gundul Joyo. Survei lapangan menghasilkan peta awal potensi kawasan seluas 1 hektare yang akan dikembangkan menjadi kawasan agroforestri, sekaligus kesepakatan tindak lanjut bersama seluruh mitra untuk tahap implementasi program. Peneliti BRIN, Sugeng Budiarta, menyampaikan bahwa pendekatan berbasis riset diperlukan agar pengembangan agroforestri dapat disesuaikan dengan karakteristik lahan bekas tambang kapur di Gunung Gede. "Kajian ilmiah menjadi dasar penting dalam menentukan jenis vegetasi, pola tanam, dan strategi rehabilitasi yang sesuai dengan kondisi lahan. Kolaborasi antara lembaga penelitian, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat diharapkan mampu menghasilkan model agroforestri yang berkelanjutan serta memberikan manfaat ekologis maupun ekonomi," ujar Sugeng. Ketua Pelaksana Tim Pengabdian Masyarakat Himpunan Mahasiswa Departemen Ekonomi Pembangunan UM, Rihaf Ziyadan, menambahkan bahwa kolaborasi ini menjadi langkah awal yang penting untuk memastikan pengelolaan Gunung Gede berjalan berkelanjutan. "Kami berharap hasil kajian riset dan koordinasi lapangan ini dapat segera ditindaklanjuti menjadi program agroforestri yang benar-benar memberi manfaat, baik bagi kelestarian lingkungan maupun kesejahteraan masyarakat sekitar," kata Rihaf. Hasil kajian dan koordinasi yang telah dilakukan akan menjadi dasar pelaksanaan program rehabilitasi kawasan Gunung Gede secara bertahap. Sinergi antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat diharapkan mampu mewujudkan kawasan agroforestri yang produktif dan berkelanjutan, sekaligus memberikan dampak positif bagi lingkungan dan perekonomian masyarakat Desa Sumberejo.