WASHINGTON - Amerika Serikat dilaporkan memperkuat operasi intelijennya di Kuba dalam beberapa bulan terakhir dengan mengirim tambahan personel serta berbagai sumber daya intelijen ke negara Karibia tersebut. Berdasarkan laporan media Politico yang terbit pada Selasa (4/8), langkah tersebut dinilai sebagai peningkatan signifikan dalam kehadiran intelijen AS di Kuba. Sejumlah sumber yang dikutip menyebut penguatan aktivitas intelijen itu dapat menjadi bagian dari persiapan strategis yang berpotensi membuka jalan bagi berbagai opsi kebijakan Washington di masa depan. Menurut laporan tersebut, dalam berbagai operasi militer AS sebelumnya, peningkatan kegiatan intelijen kerap dilakukan lebih dahulu sebagai bagian dari proses pengumpulan informasi dan pemetaan situasi di lapangan. Sumber lain yang mengetahui perkembangan tersebut menyebut langkah terbaru ini juga menunjukkan meningkatnya peran dan aktivitas Central Intelligence Agency di Kuba dalam beberapa waktu terakhir. Meski demikian, laporan itu menegaskan bahwa Amerika Serikat telah lama menjalankan aktivitas intelijen di Kuba selama puluhan tahun, sebagaimana dilakukan di berbagai negara lain di dunia untuk kepentingan keamanan dan pengumpulan informasi strategis. Perkembangan ini kembali menjadi sorotan setelah Presiden AS Donald Trump pada akhir Maret lalu menyampaikan pernyataan bahwa Kuba merupakan "target berikutnya" setelah tindakan AS terhadap Venezuela dan Iran. Hingga kini belum ada keterangan resmi yang menjelaskan tujuan spesifik dari peningkatan aktivitas intelijen tersebut maupun kemungkinan langkah lanjutan yang akan diambil Washington terhadap Kuba.