JAKARTA - Pada 2020, fotografer satwa liar Vladimír Čech Jr menyusuri salju di sebuah zona militer di Pegunungan Doupov, kawasan terpencil dan terjal di Republik Ceko. Tujuannya jelas: mengabadikan kucing liar Eropa, spesies yang begitu sulit ditemukan hingga sempat dianggap punah di sejumlah wilayah Eropa. “Kucing liar adalah makhluk langka yang menjalani kehidupan penuh misteri,” ujar Čech. Secara fisik, hewan ini menyerupai kucing rumahan bermotif tabby, tetapi dengan tubuh lebih kekar, ekor lebih lebat, serta pola bulu yang khas. Setelah diyakini menghilang dari Republik Ceko pada abad ke-20, keberadaan kucing liar baru kembali terdokumentasi di Pegunungan Doupov pada akhir 2010-an melalui kamera jebak sederhana. Namun, saat itu belum pernah ada foto berkualitas tinggi yang berhasil diambil di kawasan tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, ilmuwan dan fotografer yang menggunakan kamera jebak juga menemukan kucing liar di berbagai wilayah Eropa lainnya. Sifatnya yang sulit dilacak diduga membantu spesies ini bertahan secara diam-diam dari perburuan historis yang memusnahkan satwa liar lain, seperti lynx. Populasi kucing liar Eropa (Felis silvestris) diperkirakan mencapai sekitar 140.000 ekor yang tersebar di lebih dari dua lusin negara. Meski demikian, estimasi akurat sulit diperoleh karena hewan ini sangat pemalu. Di beberapa tempat yang sebelumnya dianggap telah kehilangan spesies ini, seperti Austria, kamera jebak justru membuktikan keberadaannya. “Kucing liar dijuluki ‘hantu hutan’ karena sangat sulit terlihat dan hampir mustahil diprediksi di mana ia akan muncul,” kata Andrea De Giovanni, biolog sekaligus fotografer satwa liar asal Italia. Pada 2020, ia merekam video kucing liar di Chiapporato, sebuah desa terbengkalai di Pegunungan Apennine, Italia. Berdasarkan pengamatannya, De Giovanni menduga pergerakan kucing liar jauh lebih tak terduga dibandingkan spesies lain. “Hewan lain biasanya mengikuti jalur yang sama di dalam hutan. Kucing liar pergi ke mana pun ia mau,” ujarnya. Ia sendiri tidak pernah merencanakan untuk merekam kucing liar di desa “hantu” tersebut. “Saya bahkan tidak pernah berpikir untuk memotretnya, karena saya mengira itu mustahil—atau setidaknya sangat sulit,” katanya, mengingat sifat hewan itu yang pemalu dan tidak mudah ditebak. Awalnya, ia justru berharap mendapatkan gambar serigala atau rusa, sehingga memasang kamera tersembunyi di depan salah satu rumah kosong. Desa Chiapporato yang runtuh dan terbengkalai hanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki. Di antara barang-barang yang tersisa, De Giovanni menemukan buku tulis dari tahun 1950-an berisi tulisan seorang anak tentang imajinasinya mengenai perjalanan luar angkasa. Saat musim dingin, ia juga melihat jejak serigala dan rusa di gang-gang bersalju desa itu. Ketika pertama kali melihat rekaman hewan yang bergerak perlahan tersebut, ia sempat ragu apakah itu kucing liar atau kucing domestik. Ia kemudian mengirimkan video itu kepada para ilmuwan, yang akhirnya mengonfirmasi bahwa hewan tersebut adalah kucing liar. Bagi Čech, yang bekerja di zona militer terpencil di Ceko, mendapatkan gambar kucing liar juga menuntut petualangan sekaligus kecerdikan. Selama beberapa dekade, spesies ini dianggap hilang dan baru belakangan terdokumentasi kembali di wilayah tersebut. “Secara historis, kucing liar tersebar luas di seluruh wilayah yang kini menjadi Republik Ceko, setidaknya hingga abad ke-18,” jelas Jarmila Krojerová, zoolog sekaligus pakar kucing liar dari Institute of Vertebrate Biology, Akademi Ilmu Pengetahuan Ceko. “Namun, akibat perburuan intensif dan perubahan lanskap, mereka perlahan menghilang dari dataran rendah dan kemudian juga dari wilayah pegunungan. Individu terakhir yang terkonfirmasi dilaporkan ditembak pada 1952, kemungkinan di dekat wilayah perbatasan.” Catatan modern mengenai kucing liar di negara itu baru muncul pada 2011, ketika seekor kucing liar tertangkap kamera jebak yang sebenarnya dipasang untuk memotret lynx di Pegunungan Šumava. Sejak saat itu, laporan kemunculan hanya sesekali terjadi hingga pakar kucing liar Jiří Sochor memulai pemantauan lebih sistematis di Pegunungan Doupov. Dengan izin militer, Čech bersama Sochor berupaya memperoleh gambar berkualitas lebih baik. “Saya memutuskan membangun kamera jebak sendiri dengan menggabungkan kamera, kendali jarak jauh, sensor, dan komponen lainnya. Saya membangun studio foto di tengah hutan,” kata Čech. Menurut Krojerová, foto-foto seperti ini sangat berharga bagi upaya konservasi. “Gambar tersebut membantu meningkatkan kesadaran publik, menunjukkan keberadaan sekaligus keindahan spesies yang sulit ditemukan ini, serta menjadi alat komunikasi penting bagi pelestarian keanekaragaman hayati.” Tim Krojerová meneliti kucing liar di sepanjang perbatasan Ceko–Slovakia dan Bohemia barat, termasuk wilayah Doupov, menggunakan kamera jebak dan tongkat umpan yang diberi tincture valerian untuk mengumpulkan sampel. “Setiap individu dapat diidentifikasi melalui genotipe unik atau pola bulunya,” jelasnya. Perilaku kucing liar yang tertutup membuat penelitian menjadi menantang. Selain itu, kemiripannya dengan kucing tabby sering menyebabkan salah identifikasi atau bahkan membuat spesies ini luput dari perhatian. Di Italia, pakar kucing liar Andrea Sforzi—direktur Museum Sejarah Alam Maremma di Grosseto—mengelola basis data yang telah mengumpulkan sekitar 1.600 foto dan video kucing liar dari ilmuwan, fotografer, dan masyarakat. “Di beberapa wilayah Italia, spesies ini sedang memperluas habitatnya,” ujarnya, termasuk di bagian utara Pegunungan Apennine tempat De Giovanni merekam video tersebut. Perburuan terhadap kucing liar dan karnivora lain memang pernah marak, tetapi sejak akhir abad ke-20, undang-undang konservasi memberikan perlindungan yang membantu pemulihan populasi. Mendokumentasikan pemulihan itu sering kali berarti menjelajah tempat-tempat yang tak kalah misterius dari sang kucing liar. “Ini tempat yang aneh sekaligus memikat,” kata De Giovanni tentang Chiapporato—desa yang pernah dihuni penebang kayu dan pembuat arang tanpa akses air mengalir maupun listrik. Ketika ia mulai berkunjung, para penduduk lanjut usia telah meninggal dan generasi mudanya pindah ke kota. Kini, “alam sedang melahap desa ini,” ujarnya. Ia menilai foto-foto Chiapporato mencerminkan fenomena yang lebih luas. “Di Italia, kami sering membicarakan tentang pegunungan yang ditinggalkan—orang pindah ke kota, aktivitas tradisional seperti penebangan atau budidaya kastanye menurun, sehingga tak ada lagi alasan untuk tinggal di sana. Chiapporato menjadi simbol proses itu: ketika manusia meninggalkan pegunungan, spesies lain kembali, seperti serigala dan kucing liar.” Sforzi, yang mengidentifikasi hewan dalam video De Giovanni berdasarkan ciri visualnya, mengatakan identifikasi penuh tetap memerlukan analisis genetik dari sampel rambut—yang juga sulit diperoleh dari spesies seelusif ini. “Tidak semua kucing liar tertarik pada tongkat umpan. Dari yang tertarik, tidak semuanya menggosokkan tubuhnya. Dari yang menggosok, tidak semuanya meninggalkan rambut—dan jika ada rambut, tidak semuanya memiliki umbi rambut tempat DNA berada,” jelasnya. Saat menerima video tersebut, gambar itu termasuk salah satu dokumentasi pertama dari wilayah tersebut. “Menarik karena kualitasnya baik dan cukup jelas untuk melihat karakteristik visualnya,” kata Sforzi. Kucing liar memiliki pola garis khas yang sekilas mirip kucing tabby, tetapi dengan perbedaan penting. Misalnya, terdapat satu garis tegas di sepanjang tulang belakang. Jika kucing tabby memiliki garis gelap di seluruh tubuh, kucing liar menampilkan garis hitam pada punggung dan ekor, sementara bagian sisi dan kaki tampak lebih pudar. Perkawinan silang antara kucing liar dan kucing domestik menjadi salah satu ancaman utama—menghasilkan hibrida sekaligus membuka peluang penularan penyakit berbahaya. Penelitian terpisah kemudian juga mengonfirmasi keberadaan kucing liar di sekitar Chiapporato melalui sampel rambut dan analisis genetik. Meski biasanya menghindari permukiman manusia, dalam kasus Chiapporato, “desa itu sudah menjadi desa hantu—dan bagi kucing liar, kini ia bagian dari hutan, layaknya batang pohon berlubang dan bebatuan yang digunakan sebagai tempat berlindung,” kata Sforzi. Tahun ini, tim peneliti Ceko—termasuk Čech dan Sochor—menggunakan telemetri GPS, metode yang melibatkan penangkapan kucing, pemasangan kalung radio, lalu melepasnya kembali untuk memantau pergerakan. “Kami menangkap kucing liar jantan pertama di Republik Ceko di distrik militer Hradiště, Pegunungan Doupov, pada akhir Februari 2025,” ujar Čech. “Data yang diperoleh akan membantu kami memahami perilaku mereka dan kebutuhan habitatnya dengan lebih baik.” Menurut Krojerová, data menunjukkan wilayah jelajah kucing liar jauh lebih luas dari perkiraan sebelumnya, bahkan dapat mencapai puluhan kilometer persegi. “Telemetri juga menunjukkan bahwa kucing liar bukan semata spesies hutan, melainkan bergantung pada lanskap mosaik yang menggabungkan hutan, padang rumput, area penggembalaan, dan lahan terbuka.” Keberhasilan juga terlihat di negara lain. Di Austria—yang sempat menganggap kucing liar telah punah—ilmuwan mendokumentasikan keberadaannya melalui kamera jebak dan analisis genetik dari rambut yang tertinggal di tongkat umpan beraroma. Terkadang, hewan ini bersembunyi di tempat yang terlihat jelas. Di Hungaria, hibrida kucing liar ditemukan berbaur tanpa terdeteksi di antara kucing rumahan di sekitar peternakan. Sementara di Jerman, seekor anak kucing yang tampak terlantar namun sangat agresif di sebuah penampungan ternyata adalah kucing liar. Bagi Čech, penelitian dan foto-foto ini menyoroti satwa yang lama terabaikan—sering tertutupi oleh perhatian terhadap karnivora besar seperti serigala, beruang, dan lynx—padahal memiliki daya tarik tersendiri. “Ia adalah pemburu tanpa kompromi dan predator yang tersamarkan dengan sempurna di habitat alaminya,” katanya, menyambut kembalinya spesies tersebut. “Setelah beberapa dekade, makhluk kecil misterius ini akhirnya kembali ke hutan kita.” https://www.bbc.com/future/article/20260112-rare-images-of-europes-ghost-cat