TEHERAN – Pemerintah Iran menyatakan perundingan dengan Oman terkait pengelolaan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz menunjukkan perkembangan yang positif. Pembahasan yang berlangsung di tingkat teknis maupun politik itu difokuskan pada upaya menciptakan jalur pelayaran yang aman di salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan negosiasi antara kedua negara masih berlangsung dan mencakup pembahasan mekanisme bersama untuk mengatur pergerakan kapal di masa mendatang. Dalam keterangannya kepada media pemerintah Iran, Baghaei menjelaskan bahwa setiap skema atau rute baru yang disepakati nantinya harus tetap menghormati kedaulatan serta kepentingan keamanan nasional Iran dan Oman. Menurutnya, hasil akhir dari pembahasan tersebut akan diumumkan setelah seluruh proses negosiasi selesai. Selain itu, media pemerintah Iran melaporkan bahwa seorang pejabat senior negara tersebut menyebut koridor pelayaran baru yang tengah dibahas berpotensi menggantikan jalur utara dan selatan yang selama ini digunakan kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Pejabat tersebut menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari strategi defensif dan dinilai sejalan dengan hak setiap negara berdaulat untuk menjaga keamanan wilayah perairannya dari berbagai ancaman eksternal. Selat Hormuz memiliki peran strategis sebagai salah satu jalur utama distribusi minyak dan gas dunia. Karena itu, setiap perubahan kebijakan atau pengaturan pelayaran di kawasan tersebut selalu menjadi perhatian komunitas internasional. Ketegangan di wilayah itu meningkat setelah Iran memperketat pengawasan di Selat Hormuz pada 28 Februari 2026. Kebijakan tersebut mencakup larangan jalur aman bagi kapal yang dimiliki atau berafiliasi dengan Israel dan Amerika Serikat setelah terjadinya serangan gabungan kedua negara ke wilayah Iran. Situasi semakin memanas ketika militer United States Armed Forces melancarkan sejumlah serangan terhadap target di Iran pada bulan lalu. Washington menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz serta bertujuan mengurangi kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone yang menargetkan sejumlah pangkalan serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Di tengah situasi tersebut, perundingan Iran dan Oman dinilai menjadi salah satu upaya diplomatik penting untuk menjaga stabilitas pelayaran internasional sekaligus mengurangi potensi eskalasi konflik di kawasan Teluk.