JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Sejak pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) menguasai kota El Fasher pada akhir Oktober, ribuan warga Darfur berusaha melarikan diri. Perjalanan mereka menempuh jalan berhari-hari, sebagian dengan berjalan kaki dan sebagian menumpang keledai, melewati jalanan yang dipenuhi mayat dan korban luka akibat tembakan maupun penculikan, dikutip dari nytimes.com. Saeeda, perempuan 28 tahun yang berhasil mencapai zona bantuan di Tawila, sekitar 64 kilometer dari kota itu, menceritakan pengalamannya yang mengerikan. “Di jalan ada mayat pria dan wanita di mana-mana, beberapa bahkan tertabrak kendaraan. Mereka mengambil beberapa gadis dari kelompok kami dan menyeret mereka pergi,” katanya. Kesaksian para penyintas, yang dicatat oleh Norwegian Refugee Council, menunjukkan skala kekerasan yang luas dan sistematis. Kota El Fasher merupakan kota terakhir di Darfur yang jatuh ke tangan RSF dalam perang sipil yang telah berlangsung lebih dari dua tahun, dikutip dari nytimes.com. Ratusan orang tiba di Tawila dengan luka tembak dan banyak yang menunjukkan tanda-tanda penyiksaan. Anak-anak yang kehilangan orang tua sering tiba bersama orang asing yang juga melarikan diri. Kepala rumah sakit Doctors Without Borders di Tawila, Sylvain Penicaud, menyampaikan kekhawatirannya terkait ribuan orang yang masih belum diketahui keberadaannya. “Di mana mereka? Apakah mereka ditahan atau dibunuh? Ini sangat mengkhawatirkan,” dikutip dari nytimes.com. Para penyintas menggambarkan kekejaman yang terjadi di El Fasher, termasuk eksekusi massal dan penembakan rutin. Salah satu peristiwa paling tragis adalah serangan terhadap rumah sakit terakhir yang masih berfungsi, di mana lebih dari 450 orang tewas. Saeeda menuturkan, “Ketika mereka masuk ke rumah sakit, beberapa dieksekusi, yang lain berhasil bersembunyi. Saat kami pergi, ada mayat di mana-mana akibat ledakan dan tembakan.” Selain itu, perbedaan etnis menjadi faktor pemicu kekerasan. Nasreldin, yang berhasil melarikan diri bersama anaknya, mengatakan, “Selama kamu berkulit hitam, mereka menganggapmu tentara atau bagian dari rezim lama. Kami juga meninggalkan satu keluarga yang semuanya terluka,” dikutip dari nytimes.com. Perjalanan keluar dari El Fasher tidak hanya berbahaya karena serangan bersenjata, tetapi juga dipenuhi risiko pemerasan, penahanan sewenang-wenang, kekerasan seksual, dan kelaparan.Banyak warga terpaksa bertahan hidup dengan pakan ternak sepanjang perjalanan, dikutip dari nytimes.com. Kekerasan di El Fasher telah memicu kecaman internasional, meski kritik terhadap dukungan Uni Emirat Arab kepada RSF masih terbatas. Beberapa anggota kongres AS menyerukan penghentian sementara penjualan senjata ke Uni Emirat Arab sampai dukungan militer terhadap paramiliter di Sudan dihentikan. Perang sipil yang berkepanjangan ini telah memaksa sekitar 12 juta orang meninggalkan rumah dan menewaskan hingga 400.000 orang, dikutip dari nytimes.com. Dampak paling memilukan terlihat pada anak-anak yang ditinggalkan. Salah satunya adalah seorang bocah laki-laki yang tiba di Tawila setelah keluarganya tewas saat melarikan diri. Dengan kaki patah, ia berjalan sendiri sampai diangkut ke truk menuju zona bantuan. “Sekarang aku di sini sendirian. Malam hari aku tidur di dekat orang-orang yang berkumpul. Aku berharap ada yang menolongku,” katanya. Sumber: nytimes.com