JAKARTA, NETRALNEWS.COM — Kasus pembunuhan berantai paling legendaris di Inggris hingga kini masih menyimpan misteri. Jack the Ripper, nama samaran sang pelaku, meneror distrik Whitechapel, London, pada 1888 dengan membantai setidaknya lima perempuan pekerja seks. Lima korban yang dikenal sebagai "kanonik" adalah Mary Ann Nichols, Annie Chapman, Elizabeth Stride, Catherine Eddowes, dan Mary Jane Kelly. Semua dibunuh dengan cara serupa: leher digorok dalam dan perut dimutilasi. Kasus Kelly tercatat paling brutal karena tubuhnya dimutilasi parah di kamar kosnya di Miller’s Court. Polisi Metropolitan London dan Kepolisian Kota London dikerahkan untuk menyelidiki kasus ini. Sejumlah surat misterius juga diterima media dan aparat. Surat "Dear Boss" mempopulerkan nama Jack the Ripper, sementara surat "From Hell" dikirim bersama potongan ginjal manusia. Namun, keaslian surat-surat itu masih diperdebatkan. Nama-nama tersangka sempat bermunculan. Di antaranya Aaron Kosminski, imigran Polandia yang mengalami gangguan jiwa; pelukis Inggris Walter Sickert; hingga Pangeran Albert Victor, cucu Ratu Victoria. Meski demikian, tidak ada bukti kuat yang menjerat salah satunya. Sejumlah upaya analisis DNA modern pernah dilakukan, termasuk pada selendang milik korban Catherine Eddowes. Tetapi hasilnya tetap simpang siur. Lebih dari seabad berlalu, identitas asli Jack the Ripper masih menjadi teka-teki kriminal yang tak pernah terpecahkan. Hingga kini, kisah Jack the Ripper menjadi rujukan budaya pop global. Misterinya kerap diangkat dalam film, serial kriminal, hingga novel best-seller. Distrik Whitechapel bahkan berubah menjadi salah satu destinasi wisata horor populer di London yang menarik wisatawan internasional. Fenomena ini menegaskan bagaimana kasus Jack the Ripper bukan hanya sejarah kriminal Inggris, tetapi juga ikon global dalam dunia kejahatan misterius yang terus memicu perdebatan para sejarawan, penulis, hingga pecinta teori konspirasi.