RAMALLAH - Kepresidenan Palestina mengecam dugaan upaya pembakaran sebuah masjid yang dilakukan para pemukim Israel di Tepi Barat pada Selasa (1/9). Pihak kepresidenan menilai tindakan terhadap tempat ibadah tersebut sebagai perkembangan yang serius. Sebelumnya pada hari yang sama, sejumlah sumber lokal Palestina melaporkan bahwa para pemukim membakar sebuah ruangan yang berada di sekitar Masjid Nur al-Din Zanki. Aksi tersebut diduga dilakukan setelah mereka gagal membuka pintu masjid. Para pelaku juga disebut mencoretkan slogan bernada rasis menggunakan cat semprot di lokasi tersebut. Dalam pernyataan yang disiarkan Kantor Berita Palestina, Kepresidenan Palestina mengatakan "serangan terhadap situs-situs suci telah menjadi kebijakan sistematis yang diadopsi dan dilindungi oleh pemerintah Israel." Menurut Kepresidenan Palestina, tindakan tersebut telah "melampaui semua garis merah" dan berpotensi memicu konflik bernuansa keagamaan yang dapat memberikan dampak serius terhadap kawasan maupun dunia. Pihak kepresidenan juga menuduh Israel berupaya mengubah status quo historis dan hukum yang selama ini berlaku di berbagai situs suci. Mereka memperingatkan bahwa aksi serupa yang terus terjadi dapat memicu eskalasi berbahaya. Atas kondisi tersebut, Kepresidenan Palestina meminta komunitas internasional segera mengambil tindakan untuk menghentikan serangan terhadap situs-situs suci. Laporan mengenai kejadian serupa sebelumnya juga telah muncul di sejumlah wilayah Tepi Barat. Warga Palestina kerap menuding pemukim Israel sebagai pihak yang terlibat dalam berbagai insiden tersebut. Menurut laporan PBB pada 2025, jumlah pemukim Israel yang tinggal di permukiman di wilayah Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, telah mencapai lebih dari 700.000 orang. Permukiman tersebut dinyatakan melanggar hukum internasional.