ROMA – Italia kembali menghadapi gelombang panas besar keempat sepanjang musim panas 2026. Suhu udara di sejumlah wilayah tercatat melampaui 40 derajat Celsius, sementara jumlah kota yang berada dalam status peringatan panas tertinggi mencapai rekor baru, memicu kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat, risiko kebakaran hutan, hingga dampaknya terhadap sektor pertanian. Kementerian Kesehatan Italia pada Senin (3/8) menetapkan 25 dari 27 kota yang dipantau berada dalam kategori peringatan merah, level tertinggi untuk kondisi cuaca panas ekstrem. Status tersebut menandakan risiko kesehatan yang serius, tidak hanya bagi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak, tetapi juga bagi masyarakat umum yang terpapar suhu tinggi dalam waktu lama. Beberapa kota besar yang masuk dalam daftar peringatan merah antara lain Roma, Milan, Florence, Bologna, Venesia, Napoli, dan Palermo. Di sejumlah daerah pedalaman, suhu dilaporkan menembus angka 40 derajat Celsius, dan para ahli cuaca memperkirakan kondisi panas ekstrem ini masih akan berlangsung setidaknya hingga akhir pekan. Menghadapi situasi tersebut, otoritas kesehatan mengimbau warga maupun wisatawan untuk membatasi aktivitas luar ruangan saat siang hari, menjaga asupan cairan, serta memperhatikan kondisi anggota keluarga dan tetangga lanjut usia. Pemerintah juga terus memperbarui buletin harian gelombang panas untuk 27 kota besar sebagai bagian dari koordinasi tanggap darurat nasional bersama pemerintah daerah dan Departemen Perlindungan Sipil. Selain berdampak pada kesehatan, cuaca panas berkepanjangan meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah selatan Italia serta pulau Sisilia dan Sardinia. Kondisi vegetasi yang sangat kering ditambah angin kencang membuat potensi penyebaran api menjadi lebih tinggi, sehingga petugas pemadam kebakaran tetap berada dalam status siaga penuh. Sektor pertanian juga merasakan dampak signifikan dari gelombang panas yang terus berulang. Para petani melaporkan penurunan hasil panen akibat kekeringan yang berkepanjangan, meningkatnya kebutuhan irigasi, serta tekanan panas yang memengaruhi kesehatan ternak. Di wilayah Piedmont di barat laut Italia, suhu yang jauh di atas normal mempercepat proses pematangan anggur. Akibatnya, musim panen dimulai lebih awal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini turut memperburuk kekeringan di kawasan cekungan Sungai Po, wilayah yang menjadi pusat pertanian utama Italia. Otoritas setempat menyebut kombinasi suhu tinggi dan minimnya curah hujan menyebabkan debit air sungai terus menurun, mengganggu kebutuhan irigasi dan memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan air bersih di sejumlah daerah utara negara tersebut. Ancaman lain muncul di wilayah Delta Sungai Po, di mana masuknya air laut ke daratan mulai mengancam lahan pertanian. Untuk mengantisipasi kekurangan air, sejumlah wilayah di Lombardy bahkan telah menerima pasokan air minum menggunakan truk tangki. Fisikawan atmosfer dari Universitas Trento, Lorenzo Giovannini, mengatakan kepada kantor berita ANSA bahwa perubahan iklim membuat gelombang panas semakin sering terjadi dengan durasi yang lebih panjang dan intensitas yang lebih tinggi. Menurutnya, suhu ekstrem yang berlangsung terus-menerus, kekeringan berkepanjangan, serta berkurangnya ketersediaan air kini menjadi fenomena yang saling berkaitan dan semakin mendominasi musim panas di Italia. Kondisi tersebut memberikan tekanan besar terhadap lingkungan, sektor pertanian, dan kesehatan masyarakat di seluruh negeri.