LUBUK SIKAPING - Sekali sepekan berbaris dan terparkir. Banyak jumlahnya. Berbagai warna, tiap dinding tertulis nama sesuai perusahaan pemiliknya (menaunginya). Ada Pasaman Timur Eks pres, Family, Khatulistiwa, DPE (Duta Pasaman Ekspres), Mandala Putra Mandiri (MPM), Putra Pasma Jaya, Rizal, Tanjung Raya, KNS, Almas, dan lain-lain. Deru mesinnya seperti seorang renta. Satu-dua di antara knalpotnya mengeluarkan asap hitam. Namun, tampak tetap kuat dan bertenaga. Kebanyakan catnya tampak mengelupas di beberapa bagian. Bahkan sebagian di antaranya sudah seperti ‘ular berganti’ kulit. Pergantian kulit yang ganjil, karena tak melalui proses cat sebuah mobil pada umum nya. Tak merata cuma tak mulus permukaannya. Mitsubishi Colt Diesel 100 PS, begitu merk yang menempel di bagian depannya. Tepat di sisi atas lampu utama. Hampir semuanya begitu. Hanya tahun pembuatan mesinnya saja yang berbeda, mungkin! Ekonomi.Bisnis.com pernah menayangkan sebuah tulisan tentang mobil jenis ini di situs resminya. "Memorabilia: Angkutan Lawas Ini Pernah Populer di Indonesia", begitu sebuah judul yang mereka tayangkan pada Rabu, 20 Maret 2019. Demi meyakinkan pembacanya, penulis berita tersebut menuliskan kalimat, "Bagi Anda yang berada pada era generasi 1980-an pasti mengenal diantaranya sederatan angkutan umum lawas ini pada paragraf pembuka." (https:// ekonomi.bisnis.com/ read / 20190320/9/902111/memorabilia-angkutan-lawas-ini-pernah-populer-di-indonesia/4,di akses di Lubuk Sikaping 8 Oktober 2024) Ya,inilah jenis angkutan popular sekaligus pilihan utama masyarakat masa itu. Tak terkecuali di Pasaman. Di Pasaman, roda-rodanya ramai melintasi aspal yang menghubungkan satu desa ke desa lain, satu ibu kota kecamatan ke ibu kota kecamatan lainnya. Pasaman, satu dari sembilan belas kabupaten/kota yang ada di provinsi urak awak, Sumatera Barat. Terletak di bagian paling utara provinsi yang sejak awal abad 20 telah memiliki jalan darat penting. Pasaman, berbatasan langsung dengan provinsi Sumatera Utara dan Riau. Luasnya: 947,63 km persegi. Berada di dataran tinggi (50-2912 mdpl). Bila merujuk pada data BPS Pasaman 2021, diketahui daerah ini memiliki panjang jalan negara (97,64 km), jalan provinsi (143,64 km) dan jalan kabupaten (865, 54 km). Tiap Selasa pagi, di sana di pusat ibu kota kabupaten, di sebuah terminal kebanggaan masyarakatnya ada suasana yang berbeda. Terlihat aktivitas yang bisa mengingatkan suasana puluhan tahun silam. Keadaan yang menggambarkan betapa dekatnya hubungan antara orang-orang di sini dengan angkutan umum. Di antara deru mesin yang masih menyala, riuh suara penumpang sambil menunjuk barang bawaanya yang harus diturunkan supir dari atap angkutan yang ditumpanginya. Sesekali terdengar teriakan penumpang memohon untuk dibukakan pintu karena susah membukanya. Suara para tukang angkut silang siur menawarkan jasanya kepada penumpang yang baru saja turun. Umumnya, penumpang sepagi itu adalah para ibu. Mereka berprofesi sebagai pedagang ‘raun’, yakni yang berjualan secara berpindah dari satu pasar ke pasar lain. Biasanya, hari pasar tiap daerah berbeda satu sama lainnya. Ada daerah yang hari pasarnya adalah hari Senin, maka di pasar daerah itu disebut “Pakan Senin’, ada hari pasarnya hari Selasa, maka lidah mereka menyebutnya ‘Pakan Salasa’. Begitu seterusnya. Pasar Benteng termasuk sebagai Pakan Salasa. Barang dagangan mereka umumnya komoditas yang menjadi kebutuhan pokok sehari-hari dan komoditas yang mereka tanam di ladang dan sawah seperti:cabai, bawang, sayura-sayuran, buah-buahan, aneka jenis ikan, dll. “Tahun 1990-an setoran para supir ke kami lebih dari cukup. Bisa membiaya operasio nal angkutan seperti ganti oli, ganti ban, servis ini itu. Bahkan kami bisa menambah jum lah armada tiap tahunnya. Itu dulu, sebelum tahun 2000-an,” kata Ofri Benny (45) pemilik angkutan PT Almas mengisahkan kepada kami di Lubuk Sikaping. Haji Benny, begitu panggilannya menceritakan bahwa masa itu adalah masa ‘jaya’nya angkutan, termasuk perusahaan oto yang dirintis ayahnya. Bila merujuk papan informasi yang bertopang pada dua tiang besi di salah satu sudut terminal Benteng, maka terbaca jelas ini merupakan informasi resmi dari Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kabupaten Pasaman berangka tahun 2006. Bagi siapa pun yang membacanya tahu bahwa angkutan pedesaan se-Kabupaten Pasaman hanya memiliki 39 trayek untuk menjangkau 6 kecamatan (sebelum tahun 2004) atau 12 kecamatan untuk tahun-tahun sesudahnya. Rute trayek itu ditetapkan berdasarkan Peraturan Bupati Pasaman No.50 Tahun 2006. Jarak tempuh paling pendek di antara 39 rute itu, sepanjang 2,5 kilometer yaitu: dari Rao ke Tampang. Sedangkan rute terpanjang adalah antara daerah Panti ke Kumpulan (panjangnya kurang lebih 79 km). “Kalau dulu, masa tahun 90-an, secara kelompok penumpang kami terbagi empat. Pagi sekali, penumpangnya terdiri dari para pedagang. Kemudian, kelompok anak sekolah. Lalu, saat matahari terbit hingga lepas Zuhur, biasanya yang menumpang adalah mereka (laki-laki maupun perempuan) yang berbelanja/bersantai ke pasar. Jelang ashar hing ga senja, penumpang kami adalah pedagang yang kembali ke tempat asalnya,” jelas Ucok (65) berprofesi supir sejak umur dua puluh tahun. “Masa itu, kami tidak hanya ber harap pada hari pasar. Karena penumpang bukan saja mereka yang pergi/pulang dari pasar saja,” lanjutnya. “Tak kami sangkal juga, kalau hari pekan, hari berlimpah rezeki bagi kami para supir.. Hari pekan, hari orang-orang libur bekerja di ladang dan di sawah. Hari pekan, waktunya menjual hasil ladang seperti :pinang, kulit manis, cengkeh, coklat, garda munggu” Sumringah ia mengisahkan, matanya berbinar mengenang masa itu. “Sekarang tak banyak bisa diharap sebagai supir angkutan. Penumpang hanya dari kalangan anak sekolah. Itupun hanya sebagian saja. Karena, kebanyakan mereka sudah memilki sepeda motor untuk pergi/pulang sekolah. Apalagi, jumlah angkutan masih tergolong banyak di sini (Lubuk Sikaping). Sebab pemilik angkutan beranggapan lebih baik terus beroperasi daripada lapuk tak berguna jadi barang rongsokan” terang Mul (57), supir sekaligus penerus usaha angku tan dari dua generasi di atasnya. Ia kini memiliki 3 armada angku tan yang tergabung ke PT.Family Ceria Group khusus melayani trayek Rao-Bukittinngi. Ucok dan Mul beserta armada ‘masa silam’ yang mereka kemudikan dan parkirkan tiap Selasa di terminal Benteng adalah pantulan kenyataan betapa saling ‘menghidupkan’ antara manusia dan angkutan massal yang ada di zamannya. Bahkan, mampu melampui masa setelahnya. Begitu, mungkin!