JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Di tengah dunia pendidikan yang semakin kompetitif, sekolah sering kali diukur berdasarkan angka. Nilai ujian, peringkat, kelulusan, prestasi akademik, dan berbagai capaian menjadi indikator keberhasilan yang terus dikejar. Tidak ada yang salah dengan prestasi. Namun, pertanyaan penting perlu diajukan, yakni untuk apa semua kecerdasan dan prestasi itu apabila manusia semakin kehilangan kepedulian terhadap sesama? Apa arti pendidikan yang tinggi apabila seorang peserta didik mampu memperoleh nilai sempurna, tetapi tidak mampu merasakan penderitaan temannya? Dalam konteks inilah gagasan filsuf Tiongkok kuno, Mozi atau Mo Di, menjadi sangat relevan. Gagasannya yang terkenal, jian ai atau kepedulian universal, mengajak manusia untuk memperluas kasih dan kepeduliannya melampaui kepentingan diri sendiri, keluarga, kelompok, dan golongan. Dalam bahasa yang lebih dekat dengan pendidikan masa kini, kita dapat menyebutnya sebagai compassion. Compassion lebih dalam daripada sekadar merasa kasihan. Compassion adalah kemampuan untuk melihat penderitaan orang lain, merasakan kepedihan itu sebagai sesuatu yang penting, dan kemudian terdorong untuk melakukan sesuatu. Compassion menggabungkan empati dan tindakan. Kita tidak hanya berkata, “Saya tahu kamu sedang mengalami kesulitan,” tetapi bertanya lebih jauh, “Apa yang dapat saya lakukan untuk membantumu?” Dalam kehidupan sekolah, inilah salah satu kemampuan manusiawi yang semakin penting untuk dipelajari. Gagasan jian ai dari Mozi sebenarnya sederhana, tetapi radikal. Manusia, menurutnya, cenderung mencintai dan membela dirinya sendiri, keluarganya, dan kelompoknya. Konflik muncul ketika perhatian kita berhenti pada batas kelompok. Kita peduli pada teman sekelas sendiri, tetapi tidak pada siswa lain. Kita membela kelompok sendiri, tetapi merendahkan kelompok yang lain. Kita memperjuangkan kepentingan pribadi, tetapi tidak peduli pada dampaknya bagi orang lain. Dalam skala yang lebih besar, sikap seperti inilah yang dapat melahirkan diskriminasi, konflik, dan kekerasan. Sekolah seharusnya menjadi tempat pertama untuk belajar memperluas kepedulian. Peserta didik perlu dibiasakan untuk tidak hanya bertanya, “Apa yang saya dapatkan?” tetapi juga, “Apakah tindakan saya bermanfaat bagi orang lain?” Mereka perlu belajar bahwa keberhasilan pribadi tidak boleh dibangun di atas penderitaan orang lain. Anak yang pintar tidak boleh meremehkan anak yang mengalami kesulitan belajar. Siswa yang populer tidak boleh mengucilkan teman yang dianggap berbeda. Anak yang kuat tidak boleh menggunakan kekuatannya untuk menindas yang lemah. Di sinilah compassion harus menjadi bagian dari kebudayaan sekolah. Pendidikan compassion bukanlah mata pelajaran tambahan yang hanya dibicarakan dalam satu atau dua jam pelajaran. Ia harus menjadi cara hidup dalam seluruh lingkungan pendidikan. Guru dapat menumbuhkannya melalui cara berbicara dan memperlakukan peserta didik. Pemimpin sekolah dapat memperlihatkannya melalui kebijakan yang adil. Peserta didik dapat mempraktikkannya melalui tindakan sederhana setiap hari. Bayangkan sebuah sekolah yang membiasakan peserta didiknya menyapa teman yang sedang sendirian. Ketika seorang siswa mengalami kesulitan, temannya tidak segera menghakimi, melainkan menawarkan bantuan. Ketika terjadi perundungan, siswa lain tidak menjadi penonton yang diam. Mereka belajar untuk membela korban dan mencari bantuan. Ketika ada teman yang tertinggal dalam pelajaran, siswa yang lebih mampu bersedia menemani dan membantu. Tindakan-tindakan kecil seperti ini adalah bentuk konkret dari jian ai. Kepedulian universal tidak selalu dimulai dengan tindakan besar. Ia sering kali dimulai dari keberanian untuk memperhatikan orang yang berada di dekat kita. Pemikiran Mozi juga relevan dalam membangun sekolah yang menghargai kesetaraan. Setiap anak datang ke sekolah dengan latar belakang, kemampuan, karakter, dan kesempatan yang berbeda. Pendidikan yang humanis tidak memperlakukan semua anak sebagai produk yang harus memiliki bentuk yang sama. Kesetaraan bukan berarti semua orang memiliki kemampuan yang identik. Kesetaraan berarti setiap orang memiliki martabat yang sama dan layak memperoleh kesempatan untuk berkembang. Karena itu, sekolah harus berhati-hati terhadap budaya yang terlalu mengagungkan prestasi. Anak yang tidak menjadi juara tetap memiliki martabat. Siswa yang lemah dalam matematika mungkin memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Anak yang pendiam mungkin memiliki daya refleksi yang mendalam. Anak yang belum berhasil hari ini tidak berarti gagal sebagai manusia. Compassion menuntut kita untuk melihat peserta didik secara lebih utuh, bukan sekadar melalui angka di rapor. Hal lain yang dapat dipelajari dari Mozi adalah pentingnya mempertimbangkan kemanfaatan sosial. Dalam konteks pendidikan, kita dapat bertanya: apakah program sekolah sungguh-sungguh membawa kebaikan bagi peserta didik? Apakah aturan yang dibuat membantu pertumbuhan mereka atau hanya menambah beban administratif? Apakah kegiatan yang dilaksanakan sungguh bermakna atau sekadar rutinitas? Pertanyaan semacam ini penting karena pendidikan yang baik tidak boleh berhenti pada tradisi dan formalitas. Setiap kebijakan harus diuji berdasarkan dampaknya terhadap kehidupan manusia. Mozi juga dikenal karena kritiknya terhadap perang agresif. Jika gagasan ini dibawa ke lingkungan sekolah, kita dapat belajar menolak berbagai bentuk kekerasan dan dominasi. Kekerasan tidak selalu berbentuk fisik. Kata-kata yang merendahkan, perundungan, pengucilan, penghinaan di media sosial, dan diskriminasi juga dapat melukai. Sekolah yang mendidik compassion harus secara serius membangun budaya damai. Peserta didik perlu belajar bahwa kekuatan bukanlah kemampuan untuk mengalahkan orang lain, tetapi kemampuan untuk menyelesaikan konflik tanpa menghancurkan martabat lawan. Pada akhirnya, pendidikan tidak hanya bertugas menghasilkan manusia yang kompeten, tetapi juga manusia yang peduli. Dunia mungkin membutuhkan insinyur yang cerdas, ilmuwan yang kreatif, pengusaha yang inovatif, dan pemimpin yang kompeten. Namun, dunia juga membutuhkan manusia yang memiliki compassion. Tanpa compassion, kecerdasan dapat berubah menjadi manipulasi, kekuasaan menjadi penindasan, dan teknologi menjadi alat untuk mengabaikan manusia. Karena itu, mungkin sekolah perlu mulai menempatkan sebuah pertanyaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari: Siapa yang belum kita perhatikan? Siapa yang sedang membutuhkan pertolongan? Dan apa yang dapat kita lakukan? Dari pemikiran kuno Mozi, kita belajar sebuah pelajaran yang tetap relevan hingga hari ini, yaitu manusia tidak menjadi semakin besar hanya karena ia memiliki lebih banyak daripada orang lain. Manusia menjadi semakin manusiawi ketika ia mampu memperluas kepedulian dirinya. Pendidikan yang sesungguhnya tidak hanya mengajarkan anak untuk menjadi berhasil, tetapi juga mengajarkan mereka untuk tidak membiarkan siapa pun berjalan sendirian. Itulah semangat jian ai. Itulah pula semangat compassion: melihat, merasakan, peduli, dan bertindak. Sekolah yang berhasil menumbuhkan compassion bukan hanya menghasilkan peserta didik yang cerdas, tetapi manusia yang mampu menggunakan kecerdasannya untuk membangun kehidupan yang lebih baik dan lebih manusiawi bagi semua. (Oleh: Odemus Bei Witono, Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan)