JAKARTA - Indonesia bisa maju dengan kesungguhan serta keseriusan untuk berbuat. Kesungguhan terlihat dari usaha-usaha atau program-program yang dilakukan. Bila melihat sejenak program MBG pemerintah, kita akan menerka-nerka bahwa arah pembangunan prioritas adalah perbaikan gizi anak-anak bangsa. Dengan memakai cara pandang, prasangka baik, serta asas manfaat, maka program MBG adalah hal yang sangat baik. Bahkan, ada dokumen negara yang sempat tersebar di grup-grup WhatsApp tentang latar belakang MBG, diawali dengan riset tentang ketertinggalan bangsa Indonesia dalam hal gizi. Tetapi sebagus apapun program pemerintah, jika sistem dan prosedur pengawasannya belum matang, maka akan menimbulkan masalah-masalah serta berbagai macam kekurangan. Program MBG dengan anggaran yang fantastis dari pemerintah jelas akan menjadi pusat perhatian masyarakat, mulai dari masyarakat yang mendukung maupun masyarakat yang beropini menolak program tersebut. Indonesia bisa maju dengan mengetahui ke mana arah pembangunan bangsa Indonesia di masa kini dan masa yang akan datang. Postur anggaran negara yang paling besar pada program MBG jelas bahwa arah pembangunan saat ini adalah membereskan gizi anak-anak bangsa Indonesia. Benarkah demikian? Kita semua berhak beropini, bebas beropini dengan kebebasan yang bertanggungjawab. Misalnya ada opini yang berpendapat bahwa program MBG cenderung seperti bisnis, sebagaimana bisnis pada umumnya yang mengejar keuntungan. Semacam bagi-bagi jatah kepada para tim sukses yang memang punya modal untuk membangun dapur MBG. Dapur MBG tentu saja tidak dibangun langsung dengan anggaran dari pemerintah, bagi para pemohon dapur MBG perlu mengajukan terlebih dahulu dan berkorban dana pribadi atau dana Yayasan untuk membangunnya di tahap awal. Indonesia bisa maju dengan kesungguhan dan kejujuran diri untuk mengakui bahwa program pembangunan bangsa Indonesia masih perlu mendapat masukan-masukan yang berarti. Pemerintah pun terus berbenah terkait masalah-masalah yang timbul dari program MBG, misalnya keracunan makanan, flexing pemilik dapur MBG di media sosial, serta dugaan-dugaan korupsi yang dilakukan oleh oknum pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN). Netizen Indonesia yang berisik di media sosial perlu dijadikan bahan untuk bercermin oleh pemerintah, mulai dari tata Kelola MBG serta kritik dan masukan-masukan lainnya agar arah pembangunan bangsa semakin komprehensif. Indonesia bisa maju dengan karya-karya nyata serta kolaborasi yang terjalin antara pemerintah dan masyarakatnya. Konten di media sosial yang membandingkan pembangunan dapur MBG bersanding dengan bangunan sekolah yang kumuh. Sebut saja berita yang terbit di jabar.tribunnews.com pada bulan April 2026, SD Negeri II Gandawesi di Majalengka berdampingan dengan Dapur MBG, tampak bangunan pendidikan kumuh berdampingan dengan dapur yang bersih dan indah. Tentu saja hal itu menjadi sorotan netizen Indonesia, sekolah yang memproduksi generasi emas Indonesia bangunannya kumuh, sementara dapur MBG yang memproduksi makanan bangunannya begitu indah. Kita perlu untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis tentang arah pembangunan bangsa Indonesia, agar pertanyaan-pertanyaan kritis tersebut berbuah menjadi bahan untuk evaluasi program serta bahan untuk bercermin bagi pemerintah Indonesia.