JAKARTA - Indonesia menghadapi dua tantangan besar yang sering dilihat sebagai persoalan terpisah. Pada musim kemarau, kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah gambut Sumatra dan Kalimantan, menjadi ancaman berulang yang menimbulkan kerugian ekonomi, gangguan kesehatan masyarakat, dan tekanan internasional. Pada saat yang sama, sepanjang tahun Indonesia harus mengawasi wilayah laut yang sangat luas, menghadapi illegal fishing, penyelundupan, pelanggaran wilayah, pencemaran laut, serta berbagai aktivitas yang mengancam kepentingan nasional. Kedua persoalan tersebut sebenarnya memiliki kebutuhan yang sama, yaitu kehadiran negara yang cepat dan efektif di wilayah yang sangat luas. Indonesia membutuhkan kemampuan udara yang mampu menjangkau daerah terpencil, beroperasi dengan biaya yang rasional, dan memiliki fleksibilitas penggunaan. Karena itu, konsep pesawat amfibi multiguna perlu mendapat perhatian. Salah satu kandidat yang menarik untuk dikaji adalah De Havilland Canada DHC-515 Firefighter, generasi terbaru dari keluarga Canadair CL-215 dan CL-415 yang telah lama digunakan berbagai negara sebagai pesawat pemadam kebakaran udara. DHC-515 selama ini dikenal sebagai pesawat water bomber. Namun melihat karakter geografis Indonesia, pesawat ini seharusnya tidak dipandang hanya sebagai alat pemadam kebakaran. Ia memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi aset nasional yang menjalankan dua fungsi strategis: membantu menghadapi bencana kebakaran dan memperkuat pengawasan wilayah maritim Indonesia. DHC-515 memiliki karakteristik yang sangat sesuai dengan negara kepulauan. Sebagai pesawat amfibi, ia mampu mengambil air langsung dari permukaan laut, danau, atau perairan yang sesuai tanpa harus selalu kembali ke pangkalan untuk pengisian ulang. Kemampuan ini sangat bernilai bagi Indonesia yang memiliki ribuan pulau dan banyak wilayah yang sulit dijangkau melalui darat. Namun nilai strategis terbesar justru terletak pada kemampuan penggunaannya sepanjang tahun. Pesawat pemadam kebakaran biasanya hanya memiliki tingkat pemanfaatan tinggi pada periode tertentu. Di luar musim kebakaran, aset tersebut sering kurang optimal. Dengan konsep multiguna, DHC-515 dapat digunakan untuk patroli maritim, pencarian dan pertolongan, pengawasan wilayah laut, pemantauan aktivitas kapal, serta dukungan operasi keamanan laut. Dalam konfigurasi Maritime Surveillance Aircraft, DHC-515 dapat dilengkapi dengan radar pencarian permukaan, kamera elektro-optik dan inframerah, sistem identifikasi kapal otomatis, sistem pendukung peperangan elektronika, komputer misi, komunikasi satelit, serta data link yang terhubung dengan jaringan komando nasional. Dengan konfigurasi tersebut, DHC-515 dapat menjadi bagian dari sistem C5ISR Indonesia. Perannya bukan semata-mata sebagai pesawat yang membawa senjata, tetapi sebagai alat untuk membangun kesadaran situasi maritim (maritime domain awareness). Pesawat dapat mendeteksi kapal, mengidentifikasi aktivitas mencurigakan, mengirimkan data secara cepat, dan membantu pengambilan keputusan oleh pusat komando maupun unsur laut yang berada di lapangan. Dalam peperangan modern, kemampuan menemukan sasaran lebih dahulu sering kali lebih menentukan daripada kemampuan membawa senjata dalam jumlah besar. Sebuah pesawat patroli yang mampu memberikan data akurat kepada kapal perang, kapal selam, pesawat tempur, atau sistem rudal pantai telah menjadi bagian penting dari konsep peperangan berbasis jaringan. Tentu perlu dipahami bahwa DHC-515 bukan pengganti pesawat patroli maritim kelas berat seperti P-8 Poseidon atau P-3 Orion. Pesawat tersebut sejak awal dirancang untuk peperangan laut dan peperangan anti kapal selam. DHC-515 berada pada kelas yang berbeda, yaitu pesawat pengawasan maritim ringan dengan kemampuan tambahan untuk operasi kemanusiaan dan bencana. Karena itu, kemampuan membawa senjata perlu dilihat secara realistis. Secara teori, integrasi rudal anti kapal ringan dapat dikaji, tetapi bukan merupakan fungsi utama. Keterbatasan ruang, kapasitas angkut, dan desain struktur membuat DHC-515 tidak ideal menjadi pesawat serang maritim. Konsep yang lebih tepat adalah menjadikannya sebagai sensor udara yang memberikan informasi kepada sistem senjata lain. Untuk kemampuan anti kapal selam, DHC-515 juga bukan pilihan ideal. Operasi peperangan anti kapal selam membutuhkan sistem yang jauh lebih kompleks, seperti sonobuoy, pengolah data akustik, magnetic anomaly detector, serta kemampuan membawa torpedo. Kemampuan tersebut membutuhkan platform yang sejak awal dirancang sebagai pesawat AKS. Namun untuk kebutuhan Indonesia sehari-hari, ancaman yang paling sering muncul bukanlah perang laut terbuka, melainkan persoalan keamanan maritim yang membutuhkan pengawasan terus-menerus. Di sinilah DHC-515 memiliki nilai strategis. Dibandingkan pesawat jet yang dimodifikasi menjadi MPA, pesawat turboprop amfibi seperti DHC-515 memiliki sejumlah keuntungan. Pesawat jet memang memiliki kecepatan dan jarak jelajah lebih tinggi, tetapi biaya operasi dan pemeliharaannya juga lebih besar. Untuk negara kepulauan yang membutuhkan patroli rutin di wilayah yang sangat luas, jumlah pesawat yang cukup dan biaya operasi yang terjangkau sering lebih penting daripada kemampuan ekstrem yang jarang digunakan. Indonesia harus mempertimbangkan kebutuhan operasionalnya sendiri. Pengawasan laut membutuhkan kehadiran yang konsisten. Pesawat yang dapat terbang setiap hari dengan biaya rasional akan memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan sejumlah kecil pesawat mahal yang jam terbangnya terbatas karena biaya operasi. Dalam konteks kelembagaan, DHC-515 paling tepat ditempatkan sebagai aset nasional dengan penggunaan lintas sektor. BNPB dan kementerian terkait memperoleh manfaat dari kemampuan pemadaman kebakaran dan penanganan bencana. Kementerian Pertahanan dapat mengintegrasikan aspek komunikasi, data link, dan sistem pertahanan. Sementara itu, Penerbangan TNI Angkatan Laut merupakan operator yang paling sesuai untuk konfigurasi maritimnya. Penerbal memiliki pengalaman panjang dalam operasi udara maritim, patroli laut, pencarian dan pertolongan, serta kerja sama dengan kapal perang. Karakteristik pesawat amfibi juga sangat sesuai dengan filosofi operasi penerbangan angkatan laut yang harus mampu menjangkau wilayah laut Indonesia yang luas dan tersebar. Investasi pada pesawat semacam ini juga perlu dipahami secara menyeluruh. Dalam sistem modern, harga badan pesawat bukanlah satu-satunya komponen utama. Nilai terbesar justru berada pada sensor, perangkat komunikasi, pengolahan data, dan kemampuan integrasi jaringan. Sebuah pesawat patroli modern pada dasarnya adalah sistem informasi terbang yang memiliki kemampuan melihat, memahami, dan menghubungkan berbagai unsur. Karena itu, DHC-515 menawarkan konsep yang menarik bagi Indonesia: satu platform dengan dua manfaat strategis. Pada saat terjadi kebakaran hutan, ia menjadi pemadam api nasional. Pada saat kondisi normal, ia menjadi mata negara di laut. Bagi sebuah negara kepulauan, kemampuan untuk hadir secara terus-menerus di wilayah sendiri merupakan bagian penting dari kedaulatan. Indonesia tidak selalu membutuhkan platform terbesar dan termahal. Indonesia membutuhkan teknologi yang sesuai dengan karakter geografis, kemampuan anggaran, dan kebutuhan nasional. DHC-515 bukan pesawat tempur dan bukan pengganti MPA strategis. Namun sebagai pesawat amfibi multiguna untuk pemadaman kebakaran, pengawasan maritim, SAR, dan dukungan C5ISR, ia merupakan konsep yang sangat relevan untuk Indonesia. Daftar Referensi De Havilland Canada. DHC-515 Firefighter – Technical Information and Program Overview. De Havilland Canada. DHC-515 Firefighter: The Next Generation Amphibious Aircraft. Jane’s All The World’s Aircraft. De Havilland Canada DHC-515 Firefighter and Amphibious Aircraft Data. International Maritime Organization (IMO). Maritime Safety and Security Framework. United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS), 1982. Royal Canadian Air Force dan berbagai operator internasional Canadair CL-215/CL-415. Operational Experience of Amphibious Firefighting Aircraft. U.S. Navy. Maritime Patrol and Reconnaissance Aircraft Concepts: Maritime Domain Awareness and Network-Centric Operations. NATO. Joint Intelligence, Surveillance and Reconnaissance (JISR) and Maritime Situational Awareness Concepts. International Institute for Strategic Studies (IISS). The Military Balance. European Maritime Safety Agency (EMSA). Maritime Surveillance and Integrated Maritime Information Systems. Airbus Defence and Space. C295 Maritime Patrol Aircraft – Mission Systems and Maritime Surveillance Capability. Leonardo. ATR 72MP Maritime Patrol Aircraft – Mission System Overview. Boeing. P-8 Poseidon Multi-Mission Maritime Aircraft – Capabilities and Networked Operations. Beriev Aircraft Company. Be-200 Amphibious Aircraft Technical Data. Royal Canadian Air Force. Search and Rescue and Maritime Aviation Operations Doctrine. Yasyi Hill, 2 September 2026 Penulis: Rosihan Arsyad