Di zaman sekarang, rasanya hampir tidak ada orang yang benar-benar jauh dari media sosial. Bangun tidur, membuka ponsel. Ada kejadian baru, informasinya langsung muncul. Bahkan terkadang kita mengetahui suatu peristiwa dari media sosial sebelum melihat pemberitaannya di televisi. Teknologi memang membuat semuanya menjadi lebih cepat. Namun, ada satu hal yang sering terlupakan, cepat mendapatkan informasi bukan berarti kita sudah mendapatkan informasi yang benar. Hal ini bisa terlihat ketika terjadi demonstrasi. Ketika aksi berlangsung, media sosial biasanya dipenuhi foto, video, komentar, sampai potongan informasi dari berbagai pihak. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat bisa mendapatkan banyak informasi dalam waktu yang sangat singkat. Masalahnya, tidak semua informasi tersebut memiliki konteks yang jelas. Sebuah video lama bisa kembali beredar dan dianggap sebagai kejadian baru. Potongan video beberapa detik bisa membuat orang mengambil kesimpulan berbeda dari kejadian sebenarnya. Bahkan, informasi yang belum terbukti kebenarannya bisa menyebar luas hanya karena judulnya membuat orang marah atau takut. Lalu, mengapa masyarakat bisa begitu mudah terprovokasi? Ketika Jempol Lebih Cepat daripada Pikiran Salah satu masalah di media sosial adalah kebiasaan untuk langsung bereaksi. Ketika melihat informasi yang mengejutkan, kita sering kali langsung memberikan komentar, membagikan unggahan, atau mengirimkannya ke grup WhatsApp. Padahal, belum tentu kita sudah membaca informasinya secara lengkap. Kadang hanya karena melihat sebuah video yang ramai dibicarakan, kita langsung menganggap kejadian tersebut benar-benar terjadi seperti yang dituliskan dalam caption. Padahal, video tidak selalu memberikan cerita secara utuh. Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) pada awal Agustus 2026 bahkan mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai maupun menyebarkan foto dan video demonstrasi sebelum memastikan waktu, lokasi, serta sumbernya. Kemkomdigi menemukan adanya konten lama yang kembali beredar dan dikaitkan dengan kejadian yang sedang berlangsung. Ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan hanya soal ada atau tidaknya hoaks. Persoalan lainnya adalah seberapa cepat masyarakat percaya dan ikut menyebarkan informasi tersebut. Internet Sudah Menjadi Bagian dari Kehidupan Sehari-hari Besarnya pengaruh media sosial juga tidak bisa dilepaskan dari jumlah pengguna internet di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. Angka tersebut meningkat dibandingkan 69,21 persen pada 2023. Artinya, internet memang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Kita menggunakannya untuk belajar, bekerja, berkomunikasi, mencari berita, sampai mengikuti perkembangan politik dan sosial. Karena itu, ketika ada sebuah demonstrasi, informasi mengenai aksi tersebut juga dengan mudah masuk ke ruang pribadi masyarakat melalui ponsel. Masalahnya, banyaknya informasi yang kita terima tidak selalu membuat kita menjadi lebih tahu. Kalau tidak hati-hati, justru kita bisa semakin bingung karena setiap orang membawa informasi dan sudut pandangnya masing-masing. Bukan Demonstrasinya yang Salah Menurut saya, penting untuk tidak menyamakan demonstrasi dengan tindakan provokasi. Masyarakat mempunyai hak untuk menyampaikan pendapat dan kritik. Demonstrasi juga dapat menjadi salah satu cara masyarakat menyampaikan aspirasi ketika merasa ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Yang menjadi persoalan adalah ketika informasi yang beredar digunakan untuk memancing kemarahan atau kebencian tanpa memperhatikan kebenarannya. Misalnya, ada seseorang yang mengunggah video kericuhan dengan tulisan bahwa kejadian tersebut baru saja terjadi. Orang lain melihatnya, percaya, kemudian membagikannya. Orang berikutnya melakukan hal yang sama. Dalam beberapa menit, informasi tersebut sudah menyebar ke banyak orang. Padahal, belum tentu video itu baru terjadi. Belum tentu juga keterangan yang diberikan sesuai dengan isi videonya. Di sinilah provokasi dapat muncul. Bukan selalu karena seseorang sejak awal ingin membuat keributan, tetapi bisa juga karena orang tersebut menerima informasi yang salah dan kemudian ikut menyebarkannya. Ketika Informasi yang Salah Memengaruhi Emosi Manusia pada dasarnya lebih mudah bereaksi terhadap sesuatu yang menyentuh emosi. Berita yang membuat marah biasanya lebih menarik perhatian dibandingkan berita yang biasa saja. Judul yang provokatif juga lebih mudah membuat orang berhenti scrolling. Apalagi ketika informasi tersebut sesuai dengan pendapat yang sudah kita miliki. Kalau sejak awal seseorang sudah tidak menyukai pihak tertentu, misalnya, informasi negatif tentang pihak tersebut bisa lebih mudah dipercaya. Sebaliknya, informasi yang bertentangan dengan pendapatnya mungkin justru langsung dianggap salah. Media sosial dapat membuat kondisi seperti ini semakin kuat karena pengguna cenderung terus mendapatkan konten yang sesuai dengan apa yang sering mereka lihat dan sukai. Akibatnya, seseorang bisa merasa bahwa semua orang memiliki pendapat yang sama dengannya, padahal sebenarnya tidak. Hoaks di Tengah Demonstrasi Bukan Persoalan Sepele Kemkomdigi juga beberapa kali mengingatkan masyarakat mengenai penyebaran informasi palsu yang berkaitan dengan aksi demonstrasi. Pada Agustus 2026, pemerintah meningkatkan pemantauan terhadap percakapan, unggahan, dan siaran langsung yang berkaitan dengan aksi demonstrasi. Masyarakat juga diingatkan untuk tidak ikut menyebarkan konten yang dapat memicu provokasi atau memperkeruh keadaan. Hal ini menunjukkan bahwa ruang digital sudah menjadi bagian penting dalam sebuah peristiwa di dunia nyata. Sebuah kejadian di lapangan bisa langsung dibicarakan di media sosial. Begitu juga sebaliknya, informasi dari media sosial dapat memengaruhi bagaimana seseorang melihat kejadian yang ada di lapangan. Karena itu, apa yang kita bagikan di media sosial sebenarnya bukan sesuatu yang sepele. Tidak Semua yang Viral Berarti Benar Ada kebiasaan yang cukup sering terjadi di media sosial: sesuatu dianggap benar hanya karena sudah viral. Padahal, viral dan benar adalah dua hal yang berbeda. Sebuah informasi bisa viral karena memang penting. Tetapi bisa juga viral karena lucu, mengejutkan, kontroversial, atau sengaja dibuat untuk menarik perhatian. Kemampuan untuk memeriksa informasi menjadi semakin penting. Data Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025 juga menunjukkan bahwa masih terdapat masyarakat yang mengalami kesulitan dalam memastikan kredibilitas sumber informasi dan memverifikasi kebenaran informasi yang diperoleh secara online. Artinya, kemampuan menggunakan internet belum tentu sama dengan kemampuan memahami informasi di internet. Kita bisa saja sangat mahir menggunakan Instagram, TikTok, YouTube, atau WhatsApp, tetapi tetap perlu belajar bagaimana membedakan informasi yang benar dengan informasi yang menyesatkan. Sebelum Membagikan, Coba Berhenti Sebentar Sebenarnya, untuk menghindari provokasi tidak selalu membutuhkan cara yang rumit. Sebelum membagikan informasi, kita bisa mulai dengan beberapa pertanyaan sederhana. Siapa yang pertama kali menyebarkan informasi tersebut? Dari mana sumbernya? Kapan kejadian itu berlangsung? Apakah ada media terpercaya yang memberitakan hal yang sama? Apakah foto atau videonya memang berasal dari kejadian yang sedang dibicarakan? Kalau belum yakin, tidak ada salahnya untuk tidak membagikannya. Kita juga tidak harus langsung percaya hanya karena informasi tersebut dikirim oleh teman, keluarga, atau orang yang kita kenal. Informasi yang salah tetap bisa menjadi salah meskipun dikirim oleh orang terdekat. Teknologi Bukan Musuh, Cara Menggunakannya yang Perlu Diperhatikan Pada akhirnya, teknologi sebenarnya bukan penyebab seseorang menjadi mudah terprovokasi. Teknologi hanya membuat informasi bergerak lebih cepat. Yang menentukan dampaknya adalah bagaimana manusia menerima, memahami, dan menyebarkan informasi tersebut. Demonstrasi tetap menjadi bagian dari penyampaian aspirasi masyarakat. Kritik juga tetap diperlukan dalam kehidupan demokrasi. Namun, kritik akan jauh lebih bermakna apabila disampaikan berdasarkan informasi yang benar. Jangan sampai kita marah karena sebuah informasi yang ternyata tidak benar. Jangan sampai kita ikut menyebarkan video yang ternyata merupakan kejadian lama. Dan jangan sampai jempol kita lebih cepat bergerak daripada pikiran kita. Di era ketika informasi bisa menyebar hanya dalam hitungan detik, kemampuan untuk berhenti sejenak dan memeriksa kebenaran justru menjadi sesuatu yang sangat penting. Sebab, menjadi pengguna teknologi bukan hanya soal bisa mendapatkan informasi dengan cepat, tetapi juga mampu berpikir sebelum mempercayai dan menyebarkannya.