JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Hei kau anak muda, apa yang sedang engkau lakukan? Kulihat engkau sedang asyik memainkan gadget-mu, tanpa peduli kondisi di sekitarmu. Mungkinkah engkau sedang memeriksa recent updates di blackberry messenger ? Atau mungkin sedang bercakap-cakap di grup whatsapp ? Mungkin saja engkau sedang asyik mengobrol di line ? Sambil sesekali memeriksa akun instagram dan path milikmu. Terlalu sibuk dengan sosial media sampai-sampai melupakan peran pemuda yang tentu saja hal ini tak bisa dibiarkan begitu saja, mengingat pemuda adalah gambaran seperti apa tanah dan langit Indonesia ke depan. Mungkin kita akan melihat gambaran para pemuda yang setiap hari waktunya dihabiskan dengan hal-hal yang kontraproduktif. Kita akan menyaksikkan para pemuda yang berlebihan membela klub bola favoritnya. Mungkin kita akan mendapati pemuda yang mulai terkikis kesadaran nasionalismenya karena kecewa peran yang seharusnya pemuda sudah harus dilibatkan diambil alih oleh para orang tua, mungkin sejenak kita perlu memikirkan kaderisasi dan regenerasi yang merupakan suatu keniscayaan. Engkau akan mendapati pemuda yang mudah tersulut emosinya karena fanatisme yang berlebihan, mungkin fanatisme terhadap daerah asalnya? Terhadap jurusannya? Terhadap organisasinya? Hal ini memang wajar terjadi, sebagai wadah aktualisasi eksistensi pemuda, tetapi hal ini akan menjadi kurang baik bila fanatisme tersebut justru membuat kita untuk berpecah belah dan mudah tersulut konflik apalagi sampai pada taraf anarkisme dan merugikan orang lain. Dari sekian banyak fenomena tersebut, marilah engkau kuajak sebentar untuk menikmati indahnya dinamika kehidupan yang memang mau tidak mau harus engkau nikmati. Marilah kuajak engkau melihat alam dan realitas sejarah. Perhatikan birunya langit yang ada di sekitarmu, perhatikan putihnya awan yang memadu indah dengan birunya langit, marilah sejenak perhatikan hijaunya tetumbuhan di sekitarmu dan warna-warninya bunga-bunga di sekelilingmu. Lihatlah sejenak langit, Seperti langit di Florence, seperti langit di Venesia, atau mungkin seperti langit di Konstantinia, langit di Kastil Masyaf mungkin? Tetapi yang kuingat adalah langit di Konstantinia. Langit yang mungkin ingin bersaksi tentang sejarah kemenangan, kemenangan sebaik-baiknya prajurit, kemenangan sebaik-baiknya panglima. Deru dan kepulan debu kuda perang, deru dan kepulan debu galian pasukan divisi bawah tanah, deru dan kepulan debu kapal laut yang ditarik melintasi gunung. Seorang pemuda cerdas nan gemilang dan masih sangat muda, Ayahnya bernama Sultan Murad II, Raja keenam Daulah Utsmaniyah. Sultan Murad II memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan anaknya. Ia menempa buah hatinya agar kelak menjadi seorang pemimpin yang baik dan tangguh. Perhatian tersebut terlihat dari Muhammad kecil yang telah menyelesaikan hafalan Alquran 30 Juz, mempelajari hadis-hadis, memahami ilmu fikih, belajar matematika, ilmu falak, dan strategi perang. Selain itu, Muhammad juga mempelajari berbagai bahasa, seperti: bahasa Arab, Persia, Latin, dan Yunani. Tidak heran, pada usia 21 tahun Muhammad sangat lancar berbahasa Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani, luar biasa!