JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Perubahan iklim saat ini tidak lagi hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi telah berkembang menjadi persoalan ekonomi dan bisnis. Ketika aktivitas perusahaan menghasilkan emisi karbon, dampaknya tidak berhenti pada lingkungan, tetapi juga dapat memengaruhi biaya, risiko, keputusan investasi, hingga keberlangsungan perusahaan. Karena itu, pembahasan mengenai keberlanjutan semakin erat kaitannya dengan pasar modal dan sistem keuangan. Hal tersebut menjadi salah satu hal menarik dari Webinar Nasional dengan tema “Pasar Modal dan Keuangan Berkelanjutan: Bagaimana Akuntansi Memainkan Peran Kunci?” yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Akuntansi Universitas Pamulang pada 28 November 2024 melalui Zoom. Salah satu pembahasan dalam webinar tersebut adalah mengenai akuntansi untuk perdagangan karbon. Menurut saya, pembahasan ini menunjukkan bahwa perubahan menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan bukan hanya membutuhkan kebijakan lingkungan, tetapi juga membutuhkan sistem keuangan dan akuntansi yang mampu mendukung perubahan tersebut. Keuangan berkelanjutan pada dasarnya mendorong agar keputusan ekonomi tidak hanya mempertimbangkan keuntungan dalam jangka pendek, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola. Dalam konteks pasar modal, prinsip tersebut menjadi semakin penting karena pasar modal berfungsi sebagai salah satu sarana bagi perusahaan untuk memperoleh pendanaan sekaligus bagi investor untuk menentukan ke mana modal mereka akan dialokasikan. Dengan demikian, informasi mengenai keberlanjutan perusahaan dapat menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi. Di sinilah akuntansi memiliki posisi yang penting. Akuntansi selama ini dikenal sebagai proses pencatatan dan pelaporan transaksi keuangan. Namun, perkembangan dunia usaha menunjukkan bahwa peran akuntansi tidak dapat berhenti pada angka-angka keuangan saja. Akuntansi juga dituntut mampu memberikan informasi yang relevan mengenai berbagai risiko dan aktivitas perusahaan yang berkaitan dengan keberlanjutan. Salah satu contohnya adalah perdagangan karbon. Indonesia telah mengembangkan mekanisme perdagangan karbon melalui bursa karbon. Bursa karbon Indonesia, IDXCarbon, mulai diluncurkan pada 26 September 2023 dan menjadi bagian dari perkembangan ekosistem pasar karbon nasional. OJK juga menempatkan perdagangan karbon sebagai bagian dari sektor pasar modal dan melakukan pengawasan terhadap perdagangan karbon melalui bursa. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa karbon kini memiliki nilai ekonomi. Emisi yang sebelumnya mungkin hanya dipandang sebagai dampak dari kegiatan operasional perusahaan, sekarang dapat berkaitan dengan suatu instrumen yang diperjualbelikan. Sampai akhir 2024, transaksi unit karbon di Indonesia telah mencapai 908.018 ton CO₂ ekuivalen dengan nilai sekitar Rp50,64 miliar.