JAKARTA - Masa depan Nahdlatul Ulama (NU) ditentukan melalui penyusunan Road Map 2026–2050, dinamika kepemimpinan jelang Muktamar 2026, serta adaptasi terhadap generasi muda. Dan pola manajemen kepemimpinan itu sudah dibakukan dari mulai pelatihan tingkat dasar , menengah , lanjut sampai nasional. Pola berjenjang pengkaderan kepemimpian itu, oleh Nahdlatul Ulama (NU) telah membuktikan dirinya sebagai salah satu organisasi keagamaan terbesar di dunia yang mampu bertahan lebih dari satu abad menjadi organisasi modern dan visioner serta adaptif terhadap perubahan zaman. Daya tahannya tidak semata-mata ditentukan oleh keluasan basis jamaah atau jaringan pesantren yang mengakar, melainkan juga oleh kemampuan melakukan regenerasi kepemimpinan secara berkesinambungan. Ibarat rembesan mata air yang terus-menerus menyebar, menebar dan memberi kehidupan, memastikan bahwa nilai-nilai Aswaja an-Nahdliyah tidak berhenti pada satu generasi, melainkan mengalir ke generasi berikutnya dalam bentuk yang segar, relevan, dan kontekstual. Setiap pengurus dan kader setidaknya di jelang Muktamar 35 tahun ini perlu membaca Road Map Peta Jalan Jangka Panjang 2026–2050. Peta Menjadikan pedoman pembangunan terukur untuk menghadapi perubahan global hingga 25 tahun ke depan. Visi Peradaban NU , Merawat Jagad dan Peradaban, menampilkan dan menempatkan NU sebagai Subjek Peradaban. Dimana NU harus menjadi Aktor (pelaku, pelopor, penggerak) dan memimpin peradaban baru berdasarkan akhlakul karimah dan ilmu pengetahuan dus plus menjamin keinginan para pemimpin dan organisasi. Muktamar 2026 di Tambakberas menjadi momentum penentuan arah struktur dan figur poros organisasi ke depan. Selain itu pemimpin NU harus mempunyai pandangan dan visi Peradaban berwawasan Global. Pemimpin NU menuntut pemahaman dinamika internasional serta menjaga independensi. Pemimpin NU yang cepat Adaptasi dengan Generasi Muda. Gen Z, generasi milenial yang identik dengan anak muda. Karena itu melibatkan anak muda melalui inovasi program dan sistem kaderisasi yang relevan. Makalah ini diharapkan bisa menjadi awal perkembangan dan transformasi tradisi NU di pelosok kampung yang masih kokoh dengan akar tradisional (sarat kehidupan pesantren yang identik dengan mata terbuka berliterasi kitab kuning/gundul), yakni dari tradisi lisan ke tradisi tulis serupa Pemikir dan pemerhati NU kaya akan tradisi, tetapi pembacaan terhadap tradisional/kitab kuning serta banyak bahan pemikiran yang tertuang di mimbar-mimbar dakwah tersebut tidak banyak didokumentasikan dalam bentuk buku/makalah serta artikel tertulis. Ini PR bagi anak muda NU untuk mendokumentasikan secara serius agar pandangan Visi dan Misi pemimpin otoritas NU bisa terserap dan nyambung dengan gotong royong merawat peradaban tanpa ada eskalasi konflik yang tidak berkualitas dan tidak perlu. Karena konflik justru merepotkan kinerja program dan lupa menyelesaikan masa depan. Padahal "Membaca Arah Masa Depan NU" lebih memungkinkan untuk dibaca dan diapresiasi banyak kalangan, bahkan lintas generasi sekalipun. Inilah makna silsilah atau transmisi keilmuan yang tidak bernyanyi lagi bagi masyarakat NU. Relasi sanad NU jelas, mufasil, muktamar dari guru ke guru sampai generasi tabiin, tabiit, sahabat dan sampai Rasulullah SAW Arah baru kepemimpinan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di PBNU fokus pada konsolidasi struktur organisasi, pelaksanaan peta jalan (road map) 25 tahun ke depan, serta persiapan momentum strategi menuju Muktamar ke-35 NU. Konsolidasi dan peta jalan organisasi (Melalui Pedoman Organisasi /PO) Peta Jalan 25 Tahun, Menjadikan abad kedua Nahdlatul Ulama sebagai landasan transformasi struktural yang lebih modern, terstruktur, dan membumi. Jadi, munculnya mujadid di kalangan ulama bahkan generasi muda NU, itu bukan kemustahilan, tapi justru lahir dari tempaan kerja keras, tekun, ikhlas serta sabar untuk mengabdi dan berhidmah pada ummat. Yang dikejar bukan kekayaan, yang dikejar bukan jabatan namun kadang pengabdian serta perjuangan. PBNU yang digonjang-ganjing melalui isu Muktamar Luar Biasa hingga Muktamar dipercepat secara responsif, justru menjadikan media konflik itu untuk konsolidasi internal. Dengan memperkuat koordinasi antara jajaran pengurus pusat hingga daerah demi menjaga keutuhan serta disiplin organisasi. Rekonsiliasi dan Islah dengan mengajak seluruh elemen jamiyah untuk membuka lembaran baru serta menyelaraskan langkah-langkah strategi bersama lembaga Syuriah. Ini bisa dinilai sebagai bentuk otokritik terhadap “kemapanan” tradisi NU. Budaya otokritik sesungguhnya bukan hal yang asing, bahkan menggejala dalam tradisi agama dan keagamaan, serta organisasi keagamaan. Otokritik atau kritik internal dari pemeluk agama, atau penganut organisasi keagamaan mempunyai nilai yang sangat strategis. Otokritik merupakan penanda kesadaran untuk bangkit dan maju sesuai dengan dinamika kemajuan zaman. Sennyampang kritik tersebut tidak mengarah pada relativisme, atau bahkan nihilisme. Karena “menjadi maju” tidak berarti meninggalkan. Membaca dan menggagas NU ke depan semakin teguh untuk merawat tradisi dan nilai-nilai adiluhung, tetapi mengawinkan tradisi dengan semangat zaman. Tanpa adanya perkawinan antara tradisi dan kemajuan zaman, justru organisasi ini akan ditanggalkan oleh para anggotanya. Bukankah NU mempunyai semboyan al-muhafadah 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhd bi al-jadid al-ashlah. Oleh karena itu, masyarakat NU daerah yang berpegang teguh pada tradisi tinggal di pelosok kampung, tidak perlu “alergi” dengan otokritik. Ini karena NU, baik secara jam'iyyah maupun jama'ah, tidak boleh stagnan. KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) adalah jam'iyyah diniyah ijtimaiyah, yaitu perkumpulan keagamaan dan kemasyarakatan, bukan wadah politik praktis. Jam'iyyah Diniyah Ijtimaiyah NUFokus Keagamaan dan Sosial: Mengutamakan pembinaan ibadah, akhlak, serta pelayanan umat di tengah masyarakat.Kembalinya ke Khitah: Menjauhkan organisasi dari kompetisi kekuasaan praktis atau politik praktis.Ketahanan Ruhaniah: Menjaga integritas organisasi agar tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman Ahlussunnah wal Jamaah. Stagnasi NU terjadi bila tidak ada kritik yang bersifat internal dari para anggotanya. Perubahan-perubahan yang bersifat praktis biasanya bermula dari wacana, ide dan pemikiran. Tidak banyak perubahan sosial terjadi karena gagasan besar seorang tokoh? NU sebagai kekuatan masyarakat sipil juga menuntut peran-peran yang lebih berdaya dalam problematika sosio-budaya, sosio-ekonomi dan sosio-politik. Ya mau tidak mau, suka ataupun tidak suka sebagaimana kita tahu, kekuatan masyarakat sipil mutlak diperlukan dalam konteks demokratisasi keindonesiaan. NU sebagai masyarakat sipil yang berdaya merupakan sumbangsih bagi bangsa dan negara, yakni bagaimana NU bisa menelorkan aksi-aksi dan gerakan sosial kolektif sebagai refleksi terhadap problematika kekinian masyarakat, bangsa dan negara. Sejak awal, NU tidak lepas dari sejarah keindonesiaan, namun keterlibatan dan peran NU terhadap kepentingan bangsa dan negara harus selalu dikontekstualisasikan. Oleh karena itu wawasan kritis terhadap peran tersebut mutlak diperlukan untuk menimbang peran-peran kekinian yang seharusnya dilakukan. Menyentuh akar rumput di tengah peradaban global, bagi NU yang cepat beradaptasi itu diwujudkan melalui program yang sangat spektakuler dalam menjawab tantangan jaman. Program utama PBNU di bawah kepemimpinan Ketua Umum KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) fokus pada layanan inklusif keluarga (Keluarga Maslahah), transformasi organisasi digital (Digdaya NU), serta penguatan pengembangan pesantren (Jaga Pesantren: Aman). Program ini tidak berada di menara gading dan berbicara/menulis untuk kepentingan ilmu pengetahuan, tetapi para intelektual masyarakat NU yang berbicara/menulis untuk mengartikulasikan kepentingan politik dalam wadah yang emansipatoris. Inilah yang disebut sebagai peran politik kerakyatan, dan bukan peran politik yang berorientasi pada kekuasaan. NU idealnya bisa menjadi kekuatan penyeimbang dan kontrol terhadap kekuasaan negara yang cenderung abai terhadap kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Di tangan para intelektual dan Sarjana NU, di sisi yang lain, harapan bagi tetap berlabuhnya khittah NU. Khittah NU tidak hanya berarti ringkasan NU dan politik praktis, tetapi juga berarti komitmen terhadap kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat melalui upaya-upaya yang bersifat kultural. Dakwah kultural inilah yang sampai sekarang dinilai masih sangat relevan. NU sebagai organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia, bahkan di dunia memang seharusnya bisa memayungi semua kalangan.Sebaliknya keterlibatan secara vulgar dalam dunia politik praktisnya akan mengoyak keutuhan dan soliditas NU sebagai jam'iyyah maupun jama'ah. Penulis: Aji Setiawan.ST Alumni PMII Cabang Yogyakarta, Litbang PMII Komisariat KH Wachid Hasyim UII, Alumnus UII Yogyakarta 2002