JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Di tengah hiruk-pikuk narasi pembangunan nasional yang kerap terpusat di Jakarta, nama HAS. Hanandjoeddin mungkin jarang disebut dalam wacana pendidikan masa kini. Padahal, tokoh asal Belitung ini menyimpan pelajaran penting tentang gagasan, integritas, dan kepemimpinan lokal yang relevan hingga hari ini. Bukan hanya sebagai tokoh militer, tetapi sebagai figur yang mewakili semangat kemandirian, keberanian berpikir berbeda, dan keteguhan menjaga nilai-nilai luhur bangsa di tengah tekanan zaman. Dalam konteks pendidikan Indonesia yang sedang mencari arah di era disrupsi digital, warisan semangat HAS. Hanandjoeddin layak dihidupkan kembali. Ia bukan sekadar nama bandara atau jalan di Pulau Belitung, melainkan simbol pemimpin lokal yang berpikir untuk kepentingan nasional. Saat ini, Indonesia tidak hanya butuh reformasi kurikulum, tetapi juga reformasi nilai dalam pendidikan. Dan nilai-nilai yang diwariskan tokoh seperti Hanandjoeddin sangat relevan untuk membangun pendidikan yang berkarakter, adaptif, dan berbasis lokalitas. Lokalitas yang Menjadi Nasional Lokalitas yang Menjadi Nasional Letnan Kolonel (Purn.) H. Abdul Samad Hanandjoeddin atau HAS. Hanandjoeddin lahir di Tanjung Pandan, Belitung, dan tercatat sebagai salah satu tokoh militer yang gigih mempertahankan kedaulatan Indonesia, khususnya di wilayah Sumatera bagian timur. Namun keistimewaan Hanandjoeddin bukan semata pada jasanya di medan tempur, tetapi pada komitmennya sebagai pemimpin lokal yang berpikir jauh melampaui batas administratif wilayah. Ketika menjabat sebagai Bupati Belitung tahun 1967–1979, ia tidak hanya membangun secara fisik, tetapi juga meletakkan dasar-dasar kehidupan masyarakat yang mandiri, religius, dan berbudaya. Ia percaya bahwa pembangunan bukan sekadar membangun jalan dan gedung, tapi membangun manusia, dan pembangunan manusia tidak bisa lepas dari pendidikan. Dalam berbagai catatan sejarah, Hanandjoeddin dikenal sangat peduli terhadap anak-anak dan generasi muda. Ia menginisiasi banyak program berbasis lokal seperti pelestarian budaya Melayu, mendorong pendidikan agama, serta memperkuat peran sekolah-sekolah rakyat sebagai basis pembentukan karakter. Pendididkan Masa Kini, Kehilangan Arah Nilai Kini, pendidikan Indonesia menghadapi tantangan yang berbeda: globalisasi, digitalisasi, dan disrupsi teknologi. Anak-anak hari ini lahir dalam dunia yang serba cepat, penuh informasi, dan sangat terbuka. Namun dalam laju yang cepat ini, kita sering lupa bertanya: ke mana arah nilai-nilai yang kita tanamkan? Terlalu banyak kurikulum gonta-ganti. Terlalu fokus pada kompetensi teknis, lupa pada karakter. Terlalu banyak bicara soal angka kelulusan, tapi lalai pada pembentukan akhlak. Pendidikan menjadi “pabrik nilai rapor” alih-alih “ladang nilai hidup”. Dalam konteks inilah, gagasan pendidikan lokal ala Hanandjoeddin menjadi sangat penting. Ia mengajarkan bahwa pendidikan bukan tentang bersaing siapa pintar, tapi siapa berguna. Bukan hanya siapa yang juara, tapi siapa yang berdampak. Salah satu warisan utama dari HAS. Hanandjoeddin adalah kesadaran akan pentingnya nilai lokal dalam membentuk jati diri bangsa. Dalam pendidikan masa kini, nilai ini bisa diterjemahkan sebagai ajakan untuk mengakar ke lokalitas sebelum melompat ke globalitas. Misalnya, sekolah di Belitung atau daerah lain tak harus langsung mengejar metode pengajaran ala Finlandia. Justru penting bagi sekolah-sekolah itu untuk menggali potensi lokal sebagai sumber belajar: tradisi maritim, budaya gotong royong, kearifan kampung, hingga praktik ekonomi mikro warga setempat. Gagasan pendidikan berbasis lokal bukan berarti mundur atau anti-modern. Justru inilah cara paling efektif membumikan pendidikan. Anak-anak akan merasa dekat dengan materi pelajaran jika melihat realitas hidup mereka di dalamnya. HAS. Hanandjoeddin mengerti hal ini jauh sebelum dunia pendidikan hari ini menyadarinya. Kepemimpinan Humanis dan Teladan Moral Kepemimpinan Hanandjoeddin dikenal egaliter, tegas, tapi humanis. Ia turun langsung ke lapangan, menyapa warga, menyelesaikan konflik dengan dialog, dan tidak segan mendukung inisiatif rakyat kecil. Model kepemimpinan seperti ini penting untuk ditanamkan di sekolah-sekolah saat ini. Mengapa? Karena kepemimpinan di sekolah saat ini terlalu sering meniru gaya “manajerial birokratis” yang kaku dan berjarak. Kepala sekolah lebih sibuk urusan administrasi daripada menjadi teladan. Guru terlalu dibebani target, lupa menjadi panutan moral. Padahal, jika kita mau menanamkan karakter kepemimpinan pada siswa, maka sekolah harus terlebih dahulu dipimpin oleh figur pemimpin berkarakter. Di sinilah semangat Hanandjoeddin hidup kembali: seorang pemimpin yang memberi arah, bukan hanya aturan. Hanandjoeddin dikenal sebagai sosok pemberani, bahkan saat harus mengambil keputusan yang tidak populer. Di era penjajahan, ia memilih berdiri bersama rakyat walau bertaruh nyawa. Dalam pendidikan, keberanian adalah nilai yang kini mulai langka. Sistem pendidikan kita terlalu menekankan "kecerdasan", padahal keberanian mengambil sikap, menyuarakan kebenaran, dan membela yang lemah adalah fondasi kepemimpinan. Anak-anak kita perlu dididik bukan hanya agar pintar, tapi juga berani dan berintegritas. Pendidikan ala Hanandjoeddin bukan hanya soal isi otak, tapi soal isi hati dan nyali. Sekolah seharusnya menjadi tempat melatih keberanian moral dan tanggung jawab sosial. Dan itu hanya bisa terjadi jika kita berani meninggalkan pola pikir pendidikan lama yang terlalu mengejar formalitas dan sertifikasi. Apa gunanya ganti kurikulum tiap 5 tahun jika arah pendidikan tidak jelas? HAS. Hanandjoeddin tidak pernah bicara kurikulum dalam konteks teknis, tapi ia menunjukkan arah pendidikan yang sejati: membentuk manusia yang merdeka lahir dan batin. Sekolah masa kini seharusnya tidak lagi menjadi tempat menghafal, tapi tempat membangun arah hidup. Mengajar bukan sekadar memindahkan pengetahuan, tapi membentuk kesadaran. Gagasan inilah yang menjadi ruh dari kepemimpinan Hanandjoeddin: mencerdaskan tanpa menjauh dari akar budaya dan nilai luhur bangsa. Warisan gagasan dan kepemimpinan HAS. Hanandjoeddin bukan hanya untuk Belitung, tapi untuk Indonesia. Di saat pusat sibuk dengan jargon-jargon reformasi pendidikan, daerah seperti Belitung justru menyimpan teladan pendidikan yang autentik, sederhana, tapi bermakna. Kini saatnya kita belajar dari pemimpin lokal seperti Hanandjoeddin. Karena pendidikan masa kini tidak akan maju hanya dengan teknologi, tapi dengan karakter dan visi. Tidak cukup dengan kurikulum baru, tapi dengan jiwa baru dalam mendidik. Dan seperti yang ditunjukkan Hanandjoeddin: jiwa itu tidak datang dari pusat kekuasaan, tapi dari akar kehidupan rakyat. Referensi: 1. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). (2020). Dokumen Biografi Tokoh Nasional: HAS. Hanandjoeddin. 2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2021). Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2020–2035. 3. UNESCO. (2020). Reimagining Our Futures Together: A New Social Contract for Education. 4. Wahyuni, R. (2022). “Pendidikan Berbasis Nilai Lokal dalam Era Disrupsi.” Jurnal Pendidikan Karakter, 12(1), 88–102. 5. Latif, Y. (2019). Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila. Jakarta: Gramedia. 6. Fitri, Z. (2021). “Peran Pemimpin Lokal dalam Pembaruan Pendidikan: Studi Kasus di Belitung.” Jurnal Pendidikan Nusantara, 6(2), 134–150. 7. Mulyadi, D. (2023). “Kepemimpinan Humanis dalam Konteks Sekolah.” Jurnal Manajemen Pendidikan, 9(1), 67–81.