JAKARTA -- Sungai Mahakam di Kalimantan Timur bukan hanya urat nadi kehidupan masyarakat sekitar, tetapi juga rumah bagi spesies langka yang kini berada di ambang kepunahan: Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris). Mamalia air tawar ini dikenal dengan tubuh abu-abu keputihan, kepala bulat tanpa moncong, dan kecerdasannya yang luar biasa. Bagi masyarakat Kalimantan Timur, pesut adalah simbol identitas sekaligus bagian tak terpisahkan dari keseimbangan ekosistem sungai. Sayangnya, pesut Mahakam justru kini menjadi potret nyata krisis lingkungan kita. Populasi Menyusut, Ancaman Semakin Nyata Penelitian terbaru menunjukkan populasi pesut Mahakam diperkirakan hanya tersisa 80 hingga 92 ekor, bahkan beberapa sumber mencatat angka serendah 41 ekor. Angka ini sangat mengkhawatirkan, mengingat populasi pesut pernah mencapai 150 ekor pada 1970-an. Tren penurunan drastis ini menjadikan pesut Mahakam masuk daftar merah Critically Endangered versi IUCN Red List dan Appendix I CITES, atau satu langkah lagi menuju kepunahan di alam liar. Penyebab Kepunahan Bukan Sekadar Faktor Alam Kepunahan pesut Mahakam bukan sekadar konsekuensi alamiah, melainkan akumulasi aktivitas manusia yang merusak habitat dan ekosistemnya. Pertama, alih fungsi lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan pertambangan telah merusak rawa-rawa yang menjadi tempat bertelur ikan—sumber utama makanan pesut. Kedua, pencemaran air akibat limbah industri dan tambang memperburuk kualitas habitat, sementara polusi suara dari kapal tongkang mengganggu sistem navigasi pesut yang sangat peka terhadap suara. Ketiga, ancaman terbesar justru datang dari jaring nelayan. Data menunjukkan sekitar 66% kematian pesut disebabkan oleh jeratan jaring insang saat mereka berburu ikan. Belum lagi faktor perubahan iklim, seperti peningkatan suhu air dan banjir besar, yang meningkatkan risiko pesut terdampar di perairan dangkal. Kepunahan Pesut, Ancaman Nyata bagi Manusia Sebagian orang mungkin menganggap hilangnya pesut hanya sebagai kehilangan satu spesies langka. Padahal, kepunahan mereka adalah alarm keras bahwa ekosistem Sungai Mahakam sedang sakit. Pesut Mahakam adalah indikator kesehatan sungai. Jika mereka punah, artinya kualitas air, ketersediaan ikan, dan keseimbangan ekosistem ikut runtuh. Ini akan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, khususnya nelayan lokal yang bergantung pada sungai. Tak hanya itu, potensi ekowisata berbasis pesut yang dapat meningkatkan ekonomi daerah akan sirna. Warisan budaya lokal yang melekat pada legenda pesut pun hilang tanpa jejak. Lebih dari itu, kerusakan ekosistem air tawar berpotensi memicu krisis kesehatan masyarakat, termasuk meningkatnya penyakit akibat pencemaran dan gangguan ekologi. Solusi Ada, Tapi Butuh Komitmen Nyata Pemerintah bersama lembaga konservasi seperti Yayasan Konservasi RASI (YK-RASI) telah mengupayakan berbagai program penyelamatan pesut Mahakam. Namun, upaya ini tak akan berhasil tanpa dukungan semua pihak. Pertama, kawasan konservasi perairan di Sungai Mahakam harus dikelola secara efektif, disertai pengawasan ketat terhadap aktivitas ilegal seperti pencemaran dan penangkapan ikan dengan racun atau listrik. Kedua, penggunaan alat pinger akustik yang mencegah pesut mendekati jaring nelayan perlu diperluas penerapannya. Ketiga, edukasi masyarakat tentang pentingnya pesut dan keseimbangan sungai harus ditingkatkan, termasuk pelibatan aktif nelayan dalam upaya konservasi. Keempat, pengaturan lalu lintas sungai, khususnya kapal tongkang, harus diperketat untuk mengurangi polusi suara dan risiko tabrakan dengan pesut. Kelima, restorasi habitat seperti rawa-rawa perlu dipercepat untuk memastikan ketersediaan makanan alami pesut tetap terjaga. Jangan Tunggu Hingga Tinggal Cerita Pesut Mahakam adalah cerminan wajah lingkungan kita. Jika mereka punah, itu bukan hanya kehilangan satwa, melainkan pertanda kita gagal menjaga ekosistem sungai yang menopang kehidupan manusia. Waktu kita tidak banyak. Dengan populasi di bawah 100 ekor, setiap individu pesut Mahakam yang mati semakin mempersempit peluang mereka bertahan hidup. Konservasi bukan hanya tugas aktivis lingkungan, tapi tanggung jawab bersama demi masa depan Sungai Mahakam, masyarakat sekitarnya, dan generasi mendatang.