JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pionir Pi Network lebih percaya kepada kawanan orang tua yang sok tahu ketimbang moderator. Menarik lebih jauh, hal tersebut adalah perwujudan matinya kepakaran “Tak banyak yang mendengarkan kita,” keluh Bear Brand, moderator Indonesia proyek kripto Pi Network. Ia resah, melihat banyaknya pionir proyek tersebut lebih memilih untuk percaya orang-orang tak kompeten ketimbang informasi resmi dari moderator resmi. Keresahan Bear Brand beralasan. Selama ini, perkembangan proyek Pi Network lebih banyak didengar melalui para pendengung. Melalui media sosial, mereka menyebarkan berbagai informasi, baik informasi resmi maupun hoaks dan disinformasi, seputar proyek ini. Salah satunya, adalah informasi perihal Global Consensus Value (GCV), yang dianggap akan menjadi nilai mutlak koin Pi ketika open network nanti. Kehadiran para pendengung, seperti Nonny Padja, Demma Hendrik Imanuel, Abner Tindi, Berly, dan lainnya, memiliki kuasa besar dalam mempengaruhi pionir Pi Network. Meski mereka juga sama-sama pionir, mereka dianggap memiliki pengetahuan besar terhadap perkembangan proyek tersebut. Melalui media sosial, suara mereka lebih mudah dijangkau, ketimbang moderator yang lebih banyak bersuara hanya melalui kanal resmi. Kondisi yang terjadi dalam tubuh proyek Pi Network bukanlah sebuah peristiwa yang berada di ruang sepi. Jika kita menarik lebih jauh, kita akan menemukan banyaknya masyarakat yang percaya para “orang awam yang sok tahu” ketimbang para pakar. Bahkan, tidak jarang kita menemukan ada dari mereka yang memusuhi pakar, seperti beberapa pionir Pi Network pengikut Nonny Padja yang memusuhi para moderator. Fenomena apa ini? Secara singkat, kita bisa menyebutnya sebagai “matinya kepakaran.” Dipopulerkan oleh Tom Nichols, dosen sekaligus penulis asal Amerika Serikat, matinya kepakaran adalah sebuah kondisi ketika masyarakat kehilangan kepercayaan kepada para pakar. Mereka menggantungkan hidup mereka bukan dari saran-saran para pakar, tetapi dari kawanan “orang awam” yang serba-tahu. Menurut Nichols, kondisi ini tidak terjadi saat ini. Sejak abad ke-20, tren matinya kepakaran sudah terjadi. Mulai dari ketidakmampuan wartawan untuk bersikap kritis, universitas yang hanya memproduksi mahasiswa instan, dan terakhir masifnya internet, kepakaran semakin lama semakin mati. Ketika masyarakat lebih memilih para awam yang sok tahu, para pakar sibuk berbicara dengan sesama mereka. Alih-alih menyalurkan pengetahuan mereka kepada masyarakat, mereka hanya menyampaikan apa yang mereka dalami kepada sesama pakar. Kondisi ini, mengutip Andrew Goss dalam buku The Floracrats, menjadikan pakar sebagai akademisi meja tulis. Menyikapi kondisi matinya kepakaran, pilihan yang tersisa untuk mengatasinya adalah mendorong pakar untuk menjadi “pakar di ruang publik”. Mereka perlu turun dari menara gading, menyuarakan pengetahuan mereka kepada masyarakat. Mereka harus menjadi jembatan antara masyarakat dan pengetahuan, menjadi patron bagi kepakaran. Namun, di tengah tren kepakaran yang telah sibuk dengan kultur publish or perish, seperti di Indonesia, apakah kepakaran akan hidup kembali. Nichols, dalam buku The Death of Expertise yang menjadi dasar matinya kepakaran, belum bisa memberikan banyak jawaban. Pilihan yang tersisa, setidak-tidaknya bagi para pakar maupun para moderator Indonesia proyek Pi Network, adalah dengan turun ke bawah secara lebih aktif, menyampaikan pengetahuan kepada masyarakat.