JAKARTA - Berbicara tentang altruisme, berarti berbicara tentang salah satu kualitas kemanusiaan yang paling luhur. Kemampuan untuk berbuat baik kepada orang lain tanpa menjadikan keuntungan pribadi sebagai tujuan. Altruisme bukan sekadar menolong, tetapi menolong dengan ketulusan, bahkan ketika tidak ada jaminan bahwa kebaikan tersebut akan dibalas. Secara sederhana, altruisme dapat dipahami sebagai tindakan menolong orang lain secara sukarela tanpa mengharapkan imbalan, bahkan terkadang dengan kesediaan untuk berkorban demi kesejahteraan orang lain. Di dalamnya terdapat empati, belas kasih, kesediaan berkorban, serta kemampuan menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri. Dalam pengertian ini, altruisme berbeda dari perilaku prososial biasa. Seseorang dapat membantu orang lain karena mengharapkan penghargaan, reputasi yang baik, hubungan timbal balik, atau keuntungan tertentu. Altruisme yang murni justru berangkat dari dorongan untuk membantu karena kebaikan itu sendiri dianggap sebagai sesuatu yang bernilai. Ada sebuah pertanyaan menarik tentang apakah gagasan seperti ini baru muncul ketika istilah "altruisme" diperkenalkan? Jawabannya jelas: tidak. Bahkan, jauh sebelum istilah altruisme dikenal dalam ilmu sosial modern, gagasan tentang berbuat baik tanpa pamrih telah hidup dalam berbagai tradisi filsafat dan spiritualitas. Salah satu tokoh yang pemikirannya sangat dekat dengan gagasan tersebut adalah Jalaluddin Rumi. Rumi Lebih Dahulu daripada Istilah Altruisme Secara historis, Rumi hidup jauh sebelum istilah altruisme dikenal. Jalaluddin Rumi lahir pada 1207 dan wafat pada 1273. Sementara itu, istilah altruisme baru diperkenalkan berabad-abad kemudian oleh filsuf dan sosiolog Prancis, Auguste Comte, pada abad ke-19. Secara etimologis, altruisme berasal dari bahasa Prancis autrui, yang berarti "orang lain", yang kemudian berakar dari bahasa Latin alter, yang berarti "yang lain". Comte menggunakan istilah tersebut sebagai lawan dari egoisme, yaitu kecenderungan menempatkan kepentingan diri sendiri sebagai pusat tindakan. Dengan demikian, secara kronologis, Rumi lebih dahulu daripada konsep altruisme sebagai istilah ilmiah modern. Tetapi di sinilah kita perlu membuat sebuah pembedaan penting. Rumi tentu saja tidak menggunakan istilah "altruisme" sebagaimana digunakan dalam psikologi atau ilmu sosial modern. Akan tetapi, substansi moral yang terkandung dalam ajaran Rumi memiliki kedekatan yang sangat kuat dengan apa yang kemudian disebut sebagai altruisme. Artinya, yang lebih dahulu bukan istilahnya, melainkan nilai dan gagasannya. Kebaikan Tidak Harus Menunggu Kebaikan Salah satu inti pemikiran Rumi adalah bahwa manusia seharusnya berbuat baik bukan karena orang lain terlebih dahulu berbuat baik kepadanya. Dalam sebuah nasihat yang sering dikaitkan dengan pemikiran Rumi dikatakan bahwa "Jangan berbuat baik kepada seseorang karena orang itu telah berbuat baik kepadamu. Berbuat baiklah karena kamu adalah manusia hakiki yang berbuat baik itu merupakan sifat paten dirimu." Pesan tersebut sangat menarik karena menempatkan sumber kebaikan bukan pada perilaku orang lain, melainkan pada diri kita sendiri. Saya berbuat baik bukan karena Anda baik kepada saya. Saya berbuat baik karena saya memilih untuk menjadi manusia yang baik. Di sinilah pemikiran Rumi bersentuhan sangat erat dengan gagasan altruisme. Kebaikan tidak diperlakukan sebagai transaksi. Saya tidak memberikan sesuatu kepada Anda dengan harapan suatu hari Anda mengembalikannya kepada saya. Kebaikan dilakukan karena kebaikan itu sendiri merupakan bagian dari karakter dan martabat manusia. Dengan demikian, Rumi tidak sekadar berbicara tentang tindakan menolong, tetapi tentang motif terdalam di balik tindakan tersebut. Dari Kebaikan Bersyarat Menuju Kebaikan Tanpa Syarat Dalam kehidupan sehari-hari, kebaikan sering kali masih bersifat transaksional. Kita baik kepada orang yang baik kepada kita. Kita menghormati orang yang menghormati kita. Kita membantu orang yang suatu saat mungkin dapat membantu kita kembali. Semua itu merupakan bentuk hubungan sosial yang wajar. Bahkan dalam teori pertukaran sosial, perilaku menolong dapat dipahami sebagai bagian dari mekanisme timbal balik. Tetapi Rumi membawa gagasan tersebut ke tingkat yang lebih tinggi. Bagaimana jika kita tetap berbuat baik kepada orang yang tidak berbuat baik kepada kita? Di sinilah kebaikan berubah menjadi sesuatu yang lebih mendalam unconditional kindness, atau kebaikan tanpa syarat. Rumi sering menggunakan alam sebagai gambaran tentang kebaikan yang tidak diskriminatif. Hujan turun tanpa memilih siapa yang akan dibasahinya. Matahari memberikan cahayanya tanpa bertanya siapa yang layak menerimanya. Kebaikan ideal, dalam perspektif seperti ini, tidak selalu bertanya, "Apa yang akan saya dapatkan?" Bahkan tidak selalu bertanya, "Apakah orang ini pantas menerima kebaikan saya?" Pertanyaannya justru "Manusia seperti apa yang ingin saya menjadi?" Ketika Kebaikan Berhadapan dengan Keburukan Persoalan terbesar dalam menjalankan kebaikan bukanlah ketika kita berhadapan dengan orang yang baik kepada kita. Yang jauh lebih sulit adalah tetap menjadi baik ketika kita diperlakukan buruk. Di sinilah ajaran Rumi menjadi sangat relevan. Rumi mengajarkan pentingnya mengendalikan amarah dan tidak membiarkan kebencian menguasai diri. Dalam salah satu nasihatnya yang terkenal terdapat ungkapan "Dalam kemarahan dan amarah jadilah seperti orang mati." Pesannya bukan berarti manusia harus pasif terhadap ketidakadilan. Maknanya lebih dalam jangan biarkan kemarahan mengambil alih akal dan hati sehingga kita membalas keburukan dengan keburukan. Sebab ketika seseorang membalas kejahatan dengan kejahatan, ia sesungguhnya telah membiarkan keburukan orang lain menentukan siapa dirinya. Sebaliknya, ketika seseorang tetap mampu berbuat baik, ia mempertahankan kebebasan moralnya. Dengan kata lain, Orang lain boleh menentukan bagaimana ia memperlakukan kita, tetapi kita tetap memiliki pilihan untuk menentukan bagaimana kita meresponsnya. Inilah salah satu titik temu paling kuat antara spiritualitas Rumi dan gagasan altruisme. Altruisme dan Kebersihan Hati Menariknya, dalam pemikiran Rumi, berbuat baik kepada orang lain bukan hanya memberikan manfaat kepada orang yang ditolong. Kebaikan juga menyelamatkan diri kita sendiri dari kebencian. Ketika hati dipenuhi dendam, kemarahan dan kebencian, sesungguhnya kita sedang membawa beban yang merusak diri kita sendiri. Karena itu, kebaikan dalam perspektif Rumi memiliki dua arah. Pertama, memberikan manfaat kepada orang lain. Kedua, membersihkan dan menyelamatkan hati orang yang berbuat baik itu sendiri. Di sinilah altruisme mendapatkan dimensi spiritual yang tidak selalu terlihat dalam definisi psikologi modern. Dalam psikologi, altruisme dapat dibahas dari perspektif empati, evolusi, norma sosial, maupun motivasi. Tetapi dalam perspektif spiritual Rumi, kebaikan berkaitan dengan siapa diri kita sesungguhnya. Berbuat baik bukan sekadar tindakan. Berbuat baik adalah pembentukan karakter dan penyempurnaan manusia. Altruisme dan Konsep Itsar Dalam tradisi Islam sendiri terdapat konsep yang memiliki kedekatan sangat kuat dengan altruisme, yaitu itsar (īthār). Itsar berarti mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri, terutama ketika seseorang sebenarnya juga memiliki kebutuhan atau kepentingan yang sama. Dalam konteks ini, itsar bahkan dapat dilihat sebagai bentuk pengorbanan yang lebih tinggi daripada sekadar menolong. Menolong berarti memberikan sesuatu kepada orang lain. Tetapi itsar berarti bersedia mendahulukan orang lain, bahkan ketika kita sendiri membutuhkan sesuatu tersebut. Karena itu, apabila altruisme dipahami sebagai tindakan tanpa pamrih demi kepentingan orang lain, maka itsar merupakan salah satu konsep moral yang sangat dekat dengannya. Rumi, sebagai seorang tokoh besar dalam tradisi sufisme, membawa nilai semacam ini ke dalam dimensi spiritual. Manusia diajak untuk keluar dari kungkungan ego dan melihat kehidupan sebagai ruang untuk mencintai, memberi dan mengabdi. Dari Egoisme Menuju Altruisme Jika egoisme menempatkan "aku" sebagai pusat kehidupan, maka altruisme mengajarkan manusia untuk mampu melihat "yang lain". Tetapi Rumi membawa persoalan ini lebih jauh lagi. Menurut perspektif spiritualnya, persoalan manusia bukan hanya bagaimana mengurangi egoisme, tetapi bagaimana melampaui ego. Selama seseorang terus bertanya, "Apa yang saya dapat?" maka dirinya masih berada dalam lingkaran kepentingan diri. Sebaliknya, ketika seseorang mulai bertanya "Apa yang dapat saya berikan?" maka terjadi perubahan orientasi yang sangat mendasar. Ketika seseorang mampu berbuat baik bahkan kepada mereka yang tidak berbuat baik kepadanya, maka kebaikan tersebut telah mencapai tingkat yang jauh lebih tinggi. Rumi Mendahului Istilah, Bukan Sekadar Konsep Dengan demikian, pertanyaan mengenai mana yang lebih dahulu Rumi atau altruisme sebenarnya dapat dijawab dengan dua lapisan. Secara historis, jawabannya sangat jelas, Rumi lebih dahulu. Rumi hidup pada abad ke-13, sedangkan istilah altruisme baru lahir pada abad ke-19 melalui pemikiran Auguste Comte. Secara konseptual, kita tidak dapat mengatakan bahwa Rumi "mengajarkan teori altruisme" dalam pengertian ilmiah modern. Yang lebih tepat adalah bahwa ajaran moral dan spiritual Rumi mengandung prinsip-prinsip yang kemudian dalam ilmu sosial modern dirumuskan dan diberi nama sebagai altruisme. Dengan kata lain, Comte memberikan nama kepada sebuah konsep modern, sementara tradisi spiritual jauh sebelumnya telah berbicara tentang nilai yang serupa. Dan Rumi adalah salah satu suara paling kuat dalam tradisi tersebut. Kebaikan sebagai Pilihan Moral Altruisme bukan sekadar persoalan apakah kita bersedia membantu orang lain. Pertanyaan yang lebih penting adalah, Mengapa kita membantu? Apakah karena kita mengharapkan balasan? Apakah karena kita ingin dipuji? Apakah karena orang tersebut sebelumnya telah berbuat baik kepada kita? Ataukah karena kita memang memilih untuk menjadi manusia yang baik? Di sinilah ajaran Rumi terasa begitu relevan. Rumi mengingatkan bahwa kebaikan yang sejati tidak seharusnya bergantung pada perlakuan orang lain. Kita tidak perlu menunggu orang lain berbuat baik untuk kemudian menjadi baik. Kita juga tidak perlu berhenti berbuat baik hanya karena pernah diperlakukan buruk. Kebaikan bukanlah transaksi antara manusia dengan manusia. Kebaikan adalah cermin dari siapa diri kita. Jika altruisme adalah istilah modern untuk menggambarkan tindakan tanpa pamrih demi kepentingan orang lain, maka Rumi memberikan dimensi yang lebih dalam: berbuat baik bukan hanya karena orang lain membutuhkan kebaikan kita, tetapi karena kebaikan itu sendiri adalah bagian dari kemanusiaan yang ingin kita pertahankan. Di situlah letak makna terdalam dari menjadi manusia hakiki. Bukan sekadar mampu menerima kebaikan, tetapi tetap mampu memberikan kebaikan, bahkan ketika dunia di sekitar kita tidak selalu membalasnya dengan kebaikan yang sama. Jakarta, 23 Agustus 2026 Penulis: Chappy Hakim