KOTA MALANG - Kegiatan orasi kebangsaan yang diselenggarakan di Universitas Negeri Malang menjadi momentum penting dalam merefleksikan peran ruang akademik dalam menjaga keberlangsungan republik. Dengan mengusung tema “Merayakan Ruang Akademik dan Merawat Republik”, acara ini menghadirkan jajaran rektorat, dekan, serta para akademisi yang menyuarakan kegelisahan sekaligus harapan terhadap masa depan Indonesia. Dalam pembukaan orasi, Bapak Rektor Prof. Dr. Hariyono, M.Pd. menyinggung pemikiran Tan Malaka sebagai seorang intelektual yang memperjuangkan republik melalui gagasan dan tulisan. Tan Malaka menjadi simbol bahwa perjuangan dapat dilakukan dengan pemikiran yang tajam dan keberanian intelektual, bukan dengan kekuatan fisik. Bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar gratis di dunia ini adalah konsep utama yang ditekankan. Segala sesuatu memerlukan pengorbanan, termasuk waktu, tenaga, pikiran, dan komitmen moral. Selain itu, integritas sangat penting dalam kehidupan akademik dan sosial, menurut orasi ini. Sekolah tidak boleh menjadi tempat yang mentoleransi korupsi, diskriminasi, dan perundungan. Ketika calon pemimpin bangsa dibentuk, nilai-nilai kemanusiaan harus dijunjung tinggi. Prof. Hadi Nur, Ph. D. juga memberikan perspektif mendalam dengan menekankan hubungan antara pendidikan dan identitas kebangsaan. Ia menunjukkan bahwa semakin rendah tingkat pendidikan, semakin jauh seseorang dari jati diri bangsanya. Dalam kasus ini, pendidikan bukan sekadar pertukaran pengetahuan itu adalah proses pembentukan kesadaran bangsa. Ia menekankan bahwa kebangsaan adalah ikatan makna yang melekat dalam ingatan dan pengalaman, bukan hanya ikatan geografis. Identitas yang hanya bergantung pada tempat atau simbol formal akan lebih lemah daripada identitas yang dibangun dari kesadaran dan pemahaman akan budayanya sendiri. Oleh karena itu, mencintai budaya kita adalah kunci keberlanjutan bangsa. Sementara itu, Prof. Dr. Hari Wahyono, M.Pd. berbicara tentang keadaan sosial dan ekonomi Indonesia saat ini, yang dihadapkan pada berbagai masalah besar. Ia menekankan ketimpangan sosial yang semakin terlihat, beban utang negara yang tinggi, dan penurunan nilai rupiah. Data menunjukkan bahwa segelintir orang memiliki banyak kekayaan sementara sebagian besar masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Tetapi solusi datang dari kekuatan intelektual, bukan dari politik atau kekuasaan. Sekolah menciptakan orang yang cerdas secara akademik dan moral. Universitas harus menjadi tempat yang menanamkan integritas dan tanggung jawab karena praktik-praktik seperti plagiarisme atau budaya "copy-paste" membahayakan kualitas intelektual negara. Dr. Heny Kusdianti, S.Pd. M.M. juga memberikan suara penting, menekankan peran perempuan dalam pembangunan bangsa. Ia menyatakan bahwa wanita bukan sekadar tambahan, tetapi juga peran penting dalam berbagai aspek kehidupan. Perempuan dapat memperkuat posisi mereka dalam masyarakat dan mengembangkan kemampuan intelektual mereka dengan masuk ke dunia kampus. Prof. Dr. Ir. Syaad Patmanthara, M.Pd. juga mengingatkan bahwa kampus adalah tempat pertempuran intelektual. Ini adalah tempat di mana gagasan besar muncul, diperdebatkan, dan diuji. Mahasiswa tidak hanya diminta untuk memahami teori, tetapi mereka juga diminta untuk membantu menyelesaikan masalah dunia nyata yang dihadapi bangsa. Achmad Tohe, M.A, Ph. D. juga menggarisbawahi masalah ekonomi yang menjadi kendala utama bagi Indonesia saat ini. Seluruh bidang akademik diminta untuk aktif mencari solusi yang berkelanjutan daripada tinggal diam. Masih banyak tokoh - tokoh lainnya yang berorasi di kesempatan kali ini dengan membawakan isu politik bangsa yang sedang tidak baik - baik saja dan mengajak kita semua untuk menuntaskan permasalahan bangsa ini dengan merawat bangsa sendiri. Jadi, kebangsaan bukan sekadar identitas geografis atau administratif itu adalah kesadaran kolektif yang dibangun melalui pendidikan, pengalaman, dan nilai-nilai yang ada di dalam diri setiap orang. Dari rangkaian orasi kebangsaan tersebut, jelas bahwa menjaga republik tidak hanya menjadi wacana; itu memerlukan tindakan nyata, seperti kepedulian sosial, integritas, dan komitmen terhadap keadilan. Kebangsaan muncul dari kesadaran akan pentingnya menghargai perbedaan, menentang diskriminasi, dan mempertahankan nilai kemanusiaan. Karena dari sanalah lahir generasi intelektual yang diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan zaman, ruang akademik memiliki peran strategis dalam membentuk karakter bangsa yang kuat. Pendidikan tidak hanya menanamkan pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral dan rasa tanggung jawab terhadap negara. Selain itu, kebangsaan harus diperkuat dengan kesadaran budaya dan identitas yang tidak rapuh oleh waktu. Oleh karena itu, kebangsaan adalah hasil dari proses yang panjang yang melibatkan kesadaran bersama, perjuangan, dan pengorbanan. Sehingga Indonesia dapat terus berkembang menjadi negara yang berintegritas, berkeadilan, dan berdaya saing, menjaga republik berarti menerapkan nilai-nilai ini dalam kehidupan sehari-hari. Secara keseluruhan, orasi kebangsaan ini juga menekankan bahwa ruang akademik sangat penting untuk menjaga republik. Kamus bukan hanya tempat untuk belajar; itu adalah tempat untuk membangun karakter, prinsip, dan kesadaran nasional. Dibutuhkan generasi intelektual yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bermoral dan peduli terhadap bangsa mereka saat menghadapi tantangan ekonomi, sosial, dan moral. Tanggung jawab bersama untuk menjaga republik bukanlah tanggung jawab segelintir individu. Selain itu, harapan terus dipertahankan dan diperjuangkan dari ruang akademik ini.