JAKARTA - Sampah plastik masih menjadi salah satu persoalan lingkungan yang sulit diselesaikan. Hampir setiap hari masyarakat menggunakan plastik untuk berbagai kebutuhan, mulai dari kantong belanja, botol minuman, hingga kemasan makanan. Masalahnya, sebagian besar plastik tidak mudah terurai secara alami sehingga dapat bertahan sangat lama di lingkungan. Persoalan tersebut bukan hanya terjadi di satu negara. Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) mencatat bahwa dunia memproduksi lebih dari 400 juta ton plastik setiap tahun. Sebagian besar produk plastik tersebut merupakan barang berumur pendek yang kemudian cepat berubah menjadi sampah. Di Indonesia, persoalan sampah juga masih cukup besar. Kementerian Lingkungan Hidup menyebut Indonesia menghasilkan sekitar 56,63 juta ton sampah per tahun. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 39,01 persen atau 22,09 juta ton yang berhasil dikelola dengan baik. Sementara itu, sekitar 39,14 persen atau 22,17 juta ton masih terbuang ke lingkungan melalui berbagai cara, seperti pembakaran, pembuangan ilegal, maupun pembuangan ke badan air. Mengapa Sampah Plastik Menjadi Masalah? Plastik banyak digunakan karena praktis, ringan dan relatif murah. Namun, sifatnya yang tahan lama justru menjadi persoalan ketika plastik sudah tidak digunakan. UNEP menjelaskan bahwa plastik tidak mengalami proses biodegradasi seperti bahan organik. Plastik dapat pecah menjadi bagian yang lebih kecil dan akhirnya menjadi mikroplastik. Partikel tersebut dapat ditemukan di berbagai lingkungan dan berpotensi masuk ke rantai makanan. Bahkan, data UNEP menunjukkan bahwa sekitar 11 juta ton plastik diperkirakan bocor ke ekosistem perairan setiap tahun. Artinya, sampah plastik yang dibuang sembarangan tidak hanya membuat lingkungan terlihat kotor, tetapi juga dapat mencemari sungai, laut dan ekosistem di sekitarnya. Pemerintah dan Masyarakat Perlu Bergerak Bersama Pengurangan sampah plastik tidak cukup hanya mengandalkan petugas kebersihan atau tempat pembuangan akhir. Sampah perlu dikurangi sejak dari sumbernya, yaitu ketika masyarakat membeli atau menggunakan suatu produk. Pemerintah terus mendorong pengelolaan sampah yang lebih baik dan mengurangi sampah yang berakhir di lingkungan. Pendekatan tersebut sejalan dengan upaya global untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memperluas penggunaan kembali atau reuse, serta memperbaiki sistem pengelolaan sampah. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat sebenarnya dapat ikut berperan melalui kebiasaan sederhana. Salah satunya adalah membawa wadah makan atau botol minum sendiri dari rumah. Kebiasaan tersebut terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan secara konsisten oleh banyak orang, jumlah kemasan sekali pakai yang digunakan dapat berkurang. Misalnya, seseorang yang terbiasa membeli minuman menggunakan botol plastik sekali pakai dapat menggantinya dengan botol minum yang dapat digunakan berulang kali. Begitu juga ketika membeli makanan. Membawa tempat makan sendiri dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai. Langkah ini tidak berarti penggunaan plastik harus dihentikan secara langsung, tetapi masyarakat dapat mulai mengurangi plastik yang sebenarnya tidak diperlukan. Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat? Perubahan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Masyarakat dapat memulainya dari kebiasaan sehari-hari, seperti membawa tas belanja yang dapat digunakan kembali, membawa botol minum, menggunakan tempat makan sendiri dan memilih produk dengan kemasan yang lebih sedikit. Selain mengurangi penggunaan plastik, masyarakat juga perlu membuang dan memilah sampah dengan benar. Plastik yang masih memiliki nilai guna atau dapat didaur ulang sebaiknya tidak langsung dicampur dengan sampah lainnya. Hal ini penting karena daur ulang saja belum cukup untuk menyelesaikan persoalan sampah plastik. UNEP memperkirakan hanya sekitar 9 persen plastik yang benar-benar didaur ulang secara global. Karena itu, mengurangi penggunaan plastik sejak awal dan menggunakan kembali barang yang masih layak menjadi bagian penting dari solusi. Kebiasaan Kecil, Dampak Besar Mengurangi sampah plastik sebenarnya bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Pemerintah memiliki peran dalam membuat kebijakan dan menyediakan sistem pengelolaan sampah, sedangkan masyarakat memiliki peran dalam mengubah kebiasaan sehari-hari. Membawa wadah sendiri dari rumah mungkin terlihat seperti tindakan kecil. Namun, jika dilakukan oleh banyak orang dan menjadi kebiasaan, penggunaan plastik sekali pakai dapat ditekan. Persoalan sampah plastik juga tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Dibutuhkan kerja sama antara pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat. Pemerintah perlu memperkuat kebijakan serta fasilitas pengelolaan sampah, sementara masyarakat dapat memulainya dengan mengurangi penggunaan plastik dari aktivitas sehari-hari. Menjaga lingkungan tidak selalu membutuhkan tindakan yang besar. Membawa botol minum, menggunakan tas belanja ulang pakai dan membawa tempat makan dari rumah merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan siapa saja. Dari kebiasaan kecil tersebut, masyarakat dapat ikut membantu mengurangi timbulan sampah plastik dan menjaga lingkungan agar tetap lebih bersih untuk masa depan.