JAKARTA - Pendakian ekstrem semakin populer sebagai bentuk olahraga sekaligus sarana menantang kemampuan diri. Jalur yang curam, hutan lebat, serta cuaca yang sulit diprediksi menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendaki. Namun, di balik meningkatnya minat terhadap aktivitas ini, risiko tersesat di hutan masih kerap terjadi dan tidak jarang berujung pada situasi darurat. Sejumlah kasus menunjukkan bahwa kurangnya kesiapan dan pemahaman terhadap teknik bertahan hidup menjadi faktor utama yang memperburuk keadaan. Kondisi ini menegaskan bahwa tersesat saat pendakian bukan hanya persoalan alam, tetapi juga mencerminkan tingkat kesiapan manusia dalam menghadapinya. Kemampuan bertahan hidup di hutan merupakan bekal mendasar yang seharusnya dimiliki oleh setiap pendaki, khususnya mereka yang menempuh jalur ekstrem. Tersesat bukanlah akhir dari perjalanan apabila pendaki mampu mengendalikan emosi dan berpikir secara rasional. Kepanikan sering kali mendorong seseorang mengambil keputusan yang keliru, seperti terus berjalan tanpa arah yang jelas, hingga menguras tenaga dan meningkatkan risiko cedera. Sebaliknya, ketenangan memungkinkan pendaki mengevaluasi kondisi fisik, mengenali lingkungan sekitar, serta menentukan langkah paling aman demi menjaga keselamatan. Selain ketenangan mental, pemanfaatan perlengkapan pendakian juga menjadi aspek penting dalam upaya bertahan hidup. Peralatan dasar seperti jas hujan, alat penerangan, dan pisau lipat memiliki fungsi vital dalam melindungi tubuh dari cuaca ekstrem serta membantu membangun perlindungan sementara. Berbagai peristiwa pencarian dan penyelamatan menunjukkan bahwa pendaki yang mampu bertahan di satu lokasi aman dengan kondisi fisik yang relatif stabil memiliki peluang lebih besar untuk ditemukan. Hal ini membuktikan bahwa persiapan dan pengetahuan tentang survival bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan utama dalam menjaga keselamatan. Di sisi lain, masih terdapat anggapan bahwa pengalaman lapangan lebih penting dibandingkan pemahaman teori bertahan hidup. Pandangan ini memang memiliki dasar, namun menjadi kurang kuat apabila pengalaman tersebut tidak diimbangi dengan kesadaran terhadap risiko dan sikap disiplin. Pengalaman tanpa pengetahuan justru dapat menimbulkan rasa percaya diri berlebihan yang berpotensi membahayakan diri sendiri. Oleh karena itu, perpaduan antara pengalaman, pengetahuan bertahan hidup, serta sikap menghormati alam merupakan pendekatan paling tepat dalam menghadapi kemungkinan tersesat di hutan. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa tersesat saat pendakian ekstrem bukanlah akhir dari segalanya, melainkan ujian kesiapan dan kedewasaan seorang pendaki. Dengan ketenangan, pengetahuan bertahan hidup, serta persiapan yang matang, situasi darurat dapat dihadapi secara lebih bijaksana. Pendakian seharusnya tidak dimaknai sebagai upaya menaklukkan alam, melainkan sebagai proses memahami batas diri dan menjaga keselamatan. Oleh sebab itu, setiap pendaki perlu membekali diri tidak hanya dengan semangat petualangan, tetapi juga dengan rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan. Penulis: Syifa Chaerunisa Mahasiswa Institut SEBI.