JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sejak munculnya media sosial sebagai sumber utama informasi, banyak peristiwa penting hanya hidup sebentar dalam kesadaran publik. Dari video viral hingga tragedi nasional, semua menguap seiring datangnya tren baru. Fenomena ini disebut oleh banyak pengamat sebagai “budaya cepat lupa”. Contohnya, kasus kekerasan di institusi pendidikan sempat jadi trending di berbagai platform bulan lalu. Tagar, video testimoni, dan komentar membanjiri linimasa. Tapi hanya dalam waktu seminggu, topik itu tergeser oleh tren dance baru dan kisah artis putus cinta. “Informasi datang terlalu cepat dan terlalu banyak. Kita jadi tidak punya waktu untuk mencerna satu isu secara mendalam,” ujar Dr. Aulia Herlambang, pengamat budaya digital dari Universitas Indonesia. Budaya cepat lupa ini tak hanya berdampak pada kualitas diskusi publik, tapi juga melemahkan akuntabilitas. Isu yang sebenarnya krusial sering kali tidak sempat sampai pada solusi karena sudah digantikan oleh topik baru yang lebih ‘seru’. Media sosial memperkuat pola ini dengan algoritma yang mendorong konten viral dan emosional, bukan yang substansial. “Isu yang memancing kemarahan atau hiburan cepat lebih mudah naik ke permukaan. Tapi perhatian netizen juga gampang berpaling,” tambah Aulia. Tak hanya isu sosial, bahkan prestasi nasional pun sering mengalami nasib serupa. Keberhasilan atlet, inovasi anak bangsa, hingga pidato penting pemimpin negara kerap hanya viral satu malam, lalu tenggelam. Psikolog dari Universitas Airlangga, dr. Intan Rukmana, menyebut fenomena ini sebagai bagian dari kelelahan informasi. “Otak manusia punya kapasitas terbatas. Terlalu banyak konten bikin kita defensif dan akhirnya apatis,” jelasnya. Beberapa pihak menyarankan perlunya edukasi literasi digital yang menekankan pentingnya kontinuitas perhatian, bukan sekadar reaksi cepat. Tanpa itu, masyarakat akan terus terjebak dalam siklus lupa dan marah tanpa arah. Di tengah banjir informasi dan hiburan instan, kita perlu bertanya kembali: Apakah yang kita anggap penting hari ini benar-benar berarti, atau hanya viral sesaat?