JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sebuah kabar mengejutkan datang dari Nissan yang mengonfirmasi berakhirnya era salah satu mobil paling ikonik dalam sejarah otomotif modern. Nissan R35 GT-R, sang "Godzilla" yang telah meneror dunia supercar selama 17 tahun, akan menghentikan produksinya. Pengumuman ini bukan hanya menjadi akhir dari sebuah model, tetapi juga penutup sebuah babak legendaris dari era keemasan mobil JDM (Japanese Domestic Market). Kini, pertanyaan terbesar yang menggantung di benak para pencinta otomotif adalah kenapa sang legenda harus pensiun dan apa yang menanti di masa depan. Sebuah Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu Ketika pertama kali diperkenalkan pada tahun 2007, Nissan R35 GT-R mengguncang peta persaingan mobil sport global. Mobil ini menawarkan performa brutal yang mampu menyaingi supercar Eropa seharga dua hingga tiga kali lipat lebih mahal. Jantungnya, mesin V6 twin-turbo berkode VR38DETT yang dirakit manual oleh para ahli Takumi, menjadi sebuah legenda tersendiri. Selama hampir dua dekade, Nissan R35 GT-R terus berevolusi, mendapatkan pembaruan minor pada mesin dan suspensi yang membuatnya tetap relevan di tengah gempuran mobil-mobil baru. Namun, di balik semua kehebatannya, sang Godzilla tidak bisa lari dari takdir dan waktu. Nissan secara resmi mengumumkan pada pertengahan tahun 2024 bahwa tahun 2025 akan menjadi tahun produksi terakhir untuk pasar Amerika Utara, menyusul penghentian di pasar lain seperti Australia dan Eropa sebelumnya. Alasan di Balik Berakhirnya Era Godzilla Meskipun Nissan tidak memberikan alasan spesifik, para analis dan pencinta otomotif dapat melihat dengan jelas faktor-faktor yang mendorong keputusan besar ini. Berakhirnya produksi Nissan R35 GT-R bukanlah keputusan mendadak, melainkan akumulasi dari berbagai tantangan yang tak terhindarkan. - Platform yang Menua Struktur dasar dan sasis Nissan R35 GT-R sejatinya masih sama seperti saat pertama kali meluncur 17 tahun lalu. Di dunia yang teknologinya berkembang pesat, platform ini mulai tertinggal dari para pesaingnya yang memakai sasis serat karbon modern dan teknologi yang lebih canggih. - Regulasi Emisi yang Semakin Ketat Mesin VR38DETT yang perkasa ternyata menjadi salah satu kendala terbesar. Mesin ini kesulitan untuk memenuhi standar emisi gas buang dan efisiensi bahan bakar global yang terus diperketat dari tahun ke tahun. - Penjualan yang Terus Menurun Kombinasi antara desain yang tidak banyak berubah sejak 2007 dan harga yang terus merangkak naik membuat penjualan Nissan R35 GT-R terus menurun. Sebagai contoh, penjualan di Amerika Serikat hanya mencapai 390 unit pada tahun 2023, angka yang sangat kecil untuk sebuah model produksi. - Fokus Nissan ke Era Elektrifikasi Seperti pabrikan otomotif besar lainnya, Nissan kini memfokuskan sumber dayanya untuk pengembangan mobil listrik dan hybrid. Meneruskan produksi mobil bermesin pembakaran internal murni yang sudah tua tidak lagi sejalan bersama visi masa depan perusahaan. Misteri Penerus Takhta: Akankah R36 Muncul? Dalam rilis resminya, Nissan menyisipkan kalimat puitis yang memicu spekulasi liar di kalangan penggemar. Kalimat itu berbunyi, "Matahari terbenam selalu datang sebelum fajar baru menyingsing," yang kemudian dilanjutkan fokus Nissan pada era performa berikutnya. Banyak yang meyakini "fajar baru" ini adalah kode keras untuk kemunculan generasi baru GT-R, yang kemungkinan besar akan memakai kode R36. Namun, hingga Selasa, 2 September 2025, belum ada konfirmasi resmi seperti apa wujud sang penerus. Spekulasi terkuat mengarah pada pemanfaatan teknologi elektrifikasi, entah itu dalam bentuk hybrid performa tinggi atau bahkan sepenuhnya listrik. Konsep Nissan Hyper Force yang dipamerkan di Japan Mobility Show 2023 disebut-sebut sebagai pratinjau liar dari desain dan teknologi GT-R masa depan, yang menjanjikan tenaga hingga 1.341 daya kuda dari motor listrik. Edisi Pamungkas Sebagai Salam Perpisahan Sebagai penghormatan terakhir untuk Nissan R35 GT-R, Nissan merilis dua edisi spesial yang sangat terbatas untuk pasar Amerika Utara. Produksinya dibatasi kurang dari 200 unit, menjadikan keduanya sebagai barang koleksi yang paling dicari. T-spec Takumi Edition Edisi ini adalah penghormatan kepada empat master pengrajin (Takumi) yang merakit setiap mesin GT-R secara manual. Dicat memakai warna ikonik Midnight Purple dan interior Mori Green, edisi ini dilengkapi rem keramik karbon, velg RAYS 20 inci, serta plakat emas khusus di ruang mesin. Skyline Edition Edisi ini merayakan nama legendaris "Skyline" yang menjadi asal-usul GT-R di Jepang. Berbasis trim Premium, mobil ini dicat memakai warna legendaris Bayside Blue dari R34 GT-R dan interior berwarna Sora Blue yang memukau. Kedua edisi pamungkas ini masih memakai mesin standar bertenaga 565 daya kuda. Sementara itu, varian tertinggi NISMO bertenaga 600 daya kuda juga masih tersedia, namun dengan harga yang bisa mencapai dua kali lipat, menyentuh angka di atas Rp3.5 Miliar.