JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Persaingan teknologi kendaraan otonom kembali memanas. Waymo, perusahaan robotaxi yang lahir dari proyek Google, secara tidak langsung melontarkan kritik terhadap pendekatan Tesla yang mengandalkan kamera dalam pengembangan sistem berkendara otonom. Menurut Waymo, kamera memang memiliki kemampuan penting untuk mengenali kondisi jalan, tetapi teknologi tersebut dinilai belum cukup untuk memastikan kendaraan dapat beroperasi secara aman tanpa campur tangan manusia. Wakil Presiden Perangkat Lunak Onboard Waymo, Srikanth Thirumalai, mengatakan pengalaman perusahaan setelah kendaraan otonomnya menempuh lebih dari 320 juta kilometer di jalan raya menjadi bukti bahwa sistem kendaraan tanpa pengemudi membutuhkan kombinasi sejumlah sensor. “Kamera memang luar biasa, tetapi kamera saja tidak cukup. Selama bertahun-tahun, ada perdebatan mengenai apakah kamera saja dapat mewujudkan otonomi penuh. Kini, setelah menempuh lebih dari 200 juta mil di dunia nyata, datanya sudah jelas: pengoperasian kendaraan yang aman dan sepenuhnya otonom dalam skala besar membutuhkan lebih dari itu,” kata Thirumalai dikutip Drive, Senin (31/8/2026) waktu setempat. Dalam sistem kendaraan otonom, kamera memiliki peran penting untuk membaca rambu-rambu jalan, mengenali marka, hingga mendeteksi warna lampu lalu lintas. Namun, Waymo menilai kemampuan tersebut perlu dilengkapi dengan sensor lain, terutama LiDAR dan radar. LiDAR menggunakan teknologi laser untuk memetakan lingkungan sekitar kendaraan dalam bentuk tiga dimensi. Teknologi ini memungkinkan sistem mendapatkan gambaran detail mengenai objek di sekitar kendaraan, termasuk dalam kondisi pencahayaan rendah. Sementara itu, radar memiliki keunggulan dalam mendeteksi objek ketika kendaraan menghadapi kondisi cuaca yang kurang ideal, seperti hujan dan kabut. Thirumalai menjelaskan bahwa ketiga teknologi tersebut memiliki fungsi yang saling melengkapi. Kamera membantu kendaraan memahami informasi visual, LiDAR menghasilkan model tiga dimensi lingkungan dengan tingkat presisi tinggi, sedangkan radar membantu mendeteksi kondisi sekitar ketika jarak pandang terganggu. Tanpa menyebut Tesla secara langsung, Thirumalai juga kembali menyinggung pendekatan berbeda yang digunakan dalam pengembangan teknologi kendaraan otonom. Waymo menilai sistem kendaraan benar-benar matang ketika mampu bertanggung jawab penuh atas aktivitas mengemudi di dunia nyata. “Anda dapat menjalankan miliaran kilometer melalui simulasi atau dengan pengawasan manusia, tetapi sistem kendaraan otonom (AV) benar-benar matang ketika sistem tersebut sepenuhnya bertanggung jawab atas tugas mengemudi. Otonomi penuh memaksa sistem menghadapi konsekuensi nyata dari setiap keputusannya dan mengungkap situasi-situasi baru yang mungkin secara tidak disadari dapat diabaikan oleh manusia atau simulasi," imbuhnya. Pendekatan tersebut menjadi salah satu pembeda antara Waymo dan Tesla dalam mengembangkan kendaraan otonom. Tesla selama ini mengembangkan teknologi Full Self-Driving Supervised (FSD) dengan pendekatan berbasis kamera, sementara Waymo mengandalkan kombinasi berbagai sensor untuk sistem robotaxi-nya. Teknologi FSD Supervised sendiri sudah mulai dikenal pemilik Tesla di Australia setelah diperkenalkan perusahaan tersebut di negara itu pada tahun lalu. Meski menggunakan nama Full Self-Driving, sistem tersebut tetap membutuhkan pengawasan pengemudi. Tesla juga mulai mengembangkan layanan Robotaxi di sejumlah wilayah Amerika Serikat, termasuk Austin, Texas. Pada tahap awal pengoperasiannya, sebagian kendaraan masih menggunakan “pengemudi keselamatan” yang bertugas memantau sistem selama perjalanan. Kondisi ini berbeda dengan Waymo yang telah lebih dahulu mengoperasikan layanan robotaxi di sejumlah kota di Amerika Serikat selama beberapa tahun. Data yang dilaporkan pada 2025 menunjukkan Tesla mencatat satu tabrakan untuk setiap 100.000 kilometer perjalanan robotaxi, sedangkan Waymo berada di kisaran satu tabrakan setiap 160.000 kilometer. Namun, angka tersebut tidak bisa langsung dijadikan perbandingan mutlak. Kedua perusahaan mengoperasikan teknologi dalam kondisi, wilayah, serta skenario pengujian yang berbeda. Selain itu, sistem Robotaxi Tesla masih terus mengalami pengembangan selama periode pengujian tersebut. Persaingan teknologi kendaraan otonom juga mulai mengarah ke Australia. Saat ini, aturan di negara tersebut belum mengizinkan kendaraan yang sepenuhnya otonom seperti robotaxi Waymo beroperasi secara bebas di jalan umum. Meski demikian, situasi tersebut berpotensi berubah. Waymo diketahui tengah aktif melakukan pendekatan kepada pemerintah Australia agar mendapat izin untuk mengoperasikan kendaraan otonomnya di negara tersebut. Jika regulasi nantinya semakin terbuka, persaingan antara Waymo, Tesla, dan pemain robotaxi lainnya berpotensi memasuki babak baru. Bukan hanya soal siapa yang memiliki teknologi paling canggih, tetapi juga siapa yang mampu membuktikan bahwa kendaraan tanpa pengemudi benar-benar aman digunakan dalam berbagai kondisi jalan.