JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Secarik kertas sederhana kutemukan di tumpukan berkas clearing akademik. Kertas itu hanya berukuran kecil, ujung-ujungnya pun sudah robek sedikit demi sedikit karena lipatan-lipatan kecil. Kuingat kembali di beberapa tahun yang lalu, kertas ini pernah menjadi sangat berguna. Karena kami lupa membuat absen rapat yang rapi. Mungkin karena sebentar lagi kami akan menghadapi musyawarah besar Mahasiswa Pencinta Mushallah (MPM) Al-Iqra’, sibuk mempersiapkan laporan pertanggungjawaban pengurus periode itu. Saat itu, penulis masih menjabat sebagai Ketua Umum MPM Al-Iqra’ Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako Sulawesi Tengah. Kertas itu nampaknya kusut, namun beberapa tulisan di kertas itu masih dapat terbaca. Kertas itu berisikan absen rapat pengurus MPM Al-Iqra’ sebelum periode kami berakhir. Tampak nama-nama pengurus yang sempat hadir di rapat terakhir kami berjumlah sembilan orang. Jangan lihat dari betapa sederhananya kertas yang kami deskripsikan di awal paragraf tulisan ini. Sebab, banyak hal-hal yang semoga bisa menginspirasi kita semua dari kertas sederhana ini. Hari itu Kamis 15 Desember 2011, beberapa saat setelah Shalat Ashar di Mushallah Al-Iqra’ Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako, kami Pengurus MPM Al-Iqra’ Periode 2010-2011 mengadakan Rapat yang sebenarnya mengundang seluruh Pengurus. Harapan besar sebagian besar pengurus MPM Al-Iqra’ dapat hadir di rapat tersebut. Dan ternyata yang hadir pada saat itu hanya sembilan orang. Ada kekecewaan yang sempat terbersit dalam relung hati karena ini adalah rapat koordinasi yang amat penting, namun realitanya adalah kami harus kemudian lebih banyak bersabar akan setiap alasan. Sebagai manusia yang punya hati sudah sewajarnya merasakan kekecewaan yang begitu mendalam. Namun, jangan sampai kekecewaan ini berlarut-larut apalagi sampai menghadang laju gerak menuju cita-cita mulia kami, menuju kampus yang madani. Muncul di benak penulis bahwa orang yang berdakwah pasti punya alasan dan tujuan mengapa ia harus berdakwah, begitupun yang tidak berdakwah pasti punya alasan juga mengapa sampai saat ini masih memilih untuk tidak bergabung dalam barisan dakwah ini. Terkadang ada beberapa alasan yang harus dimaklumi, tetapi pada dasarnya dakwah adalah pergerakan yang ketika kita terlambat sedikit saja maka akan mengurangi kontribusi kita terhadap dakwah. Dari hati yang terdalam ingin berkata, “Duhai para pejuang dakwah, betapa ruginya engkau melewatkan dengan percuma kesempatan menuju surga. Duhai para pewaris Nabi, betapa ruginya engkau tak sepenuh hati mengemban amanah ini. Duhai para agen perubahan, betapa beruntungnya orang-orang yang maksimal dalam beramal. Saat itu kami mempunyai begitu banyak masalah, tetapi sekali lagi kami berprasangka baik kepada Allah SWT. Sebagaimana Hadits Qudsi yang sering kita dengar dan baca bahwa Allah sesuai dengan persangkaan hamba-Nya. Seharusnya masalah bukan untuk dihindari, tetapi dihadapi dan diselesaikan dengan segera meskipun pasti akan menyisakan sedikit luka bathin. anggap saja kalau ada organisasi yang tidak mempunyai masalah maka sesungguhnya organisasi tersebut sedang bermasalah. Sering pula tentunya kita mendengarkan tentang bagaimana rumus untuk menghadapi masalah. Rumusnya adalah Hadapi, Hayati, dan Nikmati (HHN). Rumus HHN ini kali pertama penulis dapatkan ketika mengikuti training of mentor saat masih menjadi mahasiswa baru.