JAKARTA – Kementerian Agama (Kemenag) kembali akan menyelenggarakan Annual International Conference on Islamic Science and Society (AICIS+) 2026 dengan pendekatan yang lebih menitikberatkan pada penelitian empiris, aplikatif, dan berdampak langsung bagi masyarakat serta pembangunan nasional. Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Amien Suyitno, mengatakan bahwa forum ilmiah internasional tersebut perlu berkembang dari dominasi kajian teoritis menuju penelitian yang mampu memberikan solusi konkret terhadap berbagai tantangan pembangunan. “Sudah saatnya AICIS+ bergeser dari kajian yang dominan teoritis menuju kajian yang lebih empiris, aplikatif, dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat serta pembangunan nasional,” ujar Suyitno di Jakarta, Rabu. Menurutnya, penyelenggaraan AICIS+ 2026 yang akan berlangsung di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon didasarkan pada dua prinsip utama. Pertama, menjaga keberlanjutan agenda dan capaian konferensi dari tahun-tahun sebelumnya. Kedua, memastikan tema-tema yang diangkat selaras dengan program prioritas pemerintah. Suyitno menilai penting untuk memperkuat kajian Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) yang dipadukan dengan perspektif keislaman. Pendekatan ini diharapkan mampu menjembatani hasil penelitian yang dikembangkan di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) maupun madrasah dengan kebutuhan pembangunan nasional. Selain penguatan bidang STEM, sejumlah isu strategis juga akan menjadi fokus pembahasan dalam konferensi tersebut. Di antaranya adalah sektor kesehatan, hilirisasi hasil riset, transformasi digital, serta berbagai tema lanjutan dari AICIS+ 2025 yang masih membutuhkan pendalaman dan solusi lebih lanjut. Lebih jauh, Kemenag ingin memastikan bahwa AICIS+ tidak hanya menghasilkan publikasi akademik, tetapi juga mampu melahirkan rekomendasi kebijakan dan inovasi yang dapat diterapkan secara nyata di berbagai sektor. Karena itu, kontribusi konferensi terhadap pembangunan nasional akan menjadi salah satu indikator penting dalam penyelenggaraan AICIS+ 2026. Sebagai upaya memperluas kolaborasi, Kemenag juga mendorong keterlibatan perguruan tinggi umum (PTU) dalam forum tersebut. Kerja sama lintas kampus diharapkan dapat memperkuat dialog multidisiplin antara ilmu keislaman dan berbagai bidang ilmu lainnya. “Kolaborasi tersebut dapat diwujudkan melalui tema-tema khusus yang relevan dengan pengembangan keilmuan di PTKI sehingga tercipta dialog lintas disiplin yang lebih kuat,” kata Suyitno. Melalui penyelenggaraan AICIS+ 2026, Kemenag berharap forum ini semakin memperkokoh posisinya sebagai ajang ilmiah internasional yang mampu mengintegrasikan perspektif keislaman dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, sekaligus menghasilkan gagasan serta rekomendasi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan pembangunan Indonesia.