JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ramadhan 1447 Hijriah diperkirakan dimulai sekitar 18 atau 19 Februari 2026, tergantung hasil rukyatul hilal (pengamatan bulan sabit) pada 17–18 Februari 2026. Hal ini disampaikan oleh lembaga astronomi dan pengamat hilal di berbagai negara Islam seperti Uni Emirat Arab, Saudi Arabia, dan Oman. Awal bulan puasa sangat terkait dengan fase bulan baru (hilal). Ramadan secara tradisional dimulai setelah hilal terlihat dengan mata telanjang atau alat bantu optik pada Sya’ban 29. Jika hilal terlihat pada 17 Februari sore, maka puasa dimulai 18 Februari 2026; jika tidak, dimulai 19 Februari 2026 menurut perhitungan astronomi. Fenomena Astronomi di Sekitar Awal Ramadhan 2026 Walaupun Ramadan sendiri adalah peristiwa kalender hijriyah, Februari 2026 secara astronomi menjadi bulan yang sangat kaya dengan fenomena langit. Di antaranya: 1. Gerhana Matahari Cincin (Annular Solar Eclipse) Fenomena ini terjadi pada 17 Februari 2026, sehari sebelum awal Ramadhan. Dalam fenomena ini, bagian tengah Matahari tertutup oleh Bulan tetapi tepi Matahari masih tampak seperti “cincin api”. Peristiwa ini dapat diamati di beberapa lokasi di belahan dunia tertentu. 2. Parade Planet Setelah gerhana, pada akhir bulan 28 Februari 2026, enam planet (Merkurius, Venus, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus) diprediksi akan terlihat berjajar di langit senja. Ini adalah fenomena langit yang amat menarik bagi pengamat bintang meskipun beberapa planet memerlukan teleskop untuk pengamatan optimal. 3. Hujan Meteor & Puncak Hujan Meteor Alpha Centaurid Sebelum dan sesudah awal Ramadhan, puncak hujan meteor Alpha-Centaurid diprediksi terjadi sekitar 8 Februari 2026. Pemandangan meteor ini dapat dilihat di langit gelap menjelang subuh. Rangkaian fenomena ini menjadikan Februari 2026 sebagai bulan yang menarik dari segi astronomi, terutama bagi observasi langit malam dan kegiatan ilmiah. Makna Fenomena Langit Menurut Perspektif Islam Dalam Islam, fenomena langit seperti gerhana dianggap tanda kebesaran Allah SWT dan mengingatkan manusia pada keteraturan ciptaan-Nya. Al-Qur’an menegaskan bahwa Matahari, Bulan, dan pergerakan benda-benda langit berjalan sesuai hukum yang ditetapkan Allah serta tidak terjadi secara kebetulan. Umat Muslim sejak masa Nabi Muhammad SAW diajarkan untuk melihat gerhana bukan sebagai pertanda buruk, melainkan sebagai momen untuk: • Bertafakur dan muhasabah diri • Memperbanyak doa, istighfar, dan dzikir • Menunaikan shalat gerhana (shalat khusuf) dan kegiatan ibadah lainnya Tradisi ini tercermin dalam berbagai hadis shahih yang menganjurkan respon spiritual terhadap fenomena alam seperti gerhana. Kesimpulan Fenomena langit yang terjadi di sekitar awal Ramadhan 2026, terutama gerhana Matahari cincin, parade planet, dan hujan meteor, bersifat astronomis dan dapat diamati secara ilmiah. Namun dari sudut pandang Islam, peristiwa tersebut juga dimaknai sebagai panggilan spiritual: ajakan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mengingat kebesaran Allah menjelang bulan puasa yang mulia.*