MALANG - Masalah polusi udara akibat pembakaran sampah pekarangan kerap luput dari perhatian, padahal dampaknya cukup mengganggu kesehatan pernapasan warga. Persoalan inilah yang menjadi titik tolak program pengabdian mahasiswa UM BBM (Universitas Negeri Malang) di Desa Putukrejo, Kabupaten Malang, hingga akhirnya melahirkan sebuah inovasi sederhana namun berdampak: Rocket Stove atau kompor roket minim asap. Kebiasaan Membakar Sampah yang Sulit Ditinggalkan Temuan ini bermula dari observasi awal tim mahasiswa sebelum program dimulai. Dari hasil wawancara dengan salah satu perangkat desa, terungkap bahwa warga Desa Putukrejo masih memiliki kebiasaan membakar dedaunan maupun sampah organik langsung di halaman rumah masing-masing. Pihak desa sebenarnya sudah menyadari dampak buruk dari kepulan asap tersebut bagi kesehatan warga. Sayangnya, belum ada alat alternatif pembakar sampah minim asap yang dapat direalisasikan secara nyata di lapangan. Keluhan serupa juga disampaikan langsung oleh ibu-ibu PKK Desa Putukrejo. Mereka mengaku kerap terganggu dengan asap tebal yang muncul setiap kali warga membakar sampah pekarangan, mulai dari bau menyengat hingga rasa perih di mata. Sayangnya, kebiasaan membakar sampah ini sudah mengakar dan sulit ditinggalkan karena dianggap cara paling praktis dan cepat untuk membersihkan halaman. Salah satu perangkat desa turut membenarkan hal ini, menyebut bahwa meski sudah berulang kali diimbau, warga tetap kembali pada kebiasaan lama karena belum ada solusi pengganti yang benar-benar efektif dan mudah diterapkan. Rocket Stove, Solusi Sederhana dengan Sirkulasi Udara Khusus Melihat celah kebutuhan tersebut, tim UM BBM berinisiatif merakit Rocket Stove. Alat sederhana ini dirancang dengan sistem sirkulasi udara khusus yang mampu memusatkan panas api secara efisien. Keunggulannya sangat terasa: proses pembakaran sampah biomassa di dalam tabung menjadi jauh lebih cepat dan nyaris tidak mengeluarkan asap pekat yang biasanya membuat mata pedih dan mengganggu pernapasan. Gotong Royong Warga dalam Proses Perakitan Proses pengerjaan fisik Rocket Stove mulai dilakukan sejak 19 Juli lalu. Menariknya, perakitan alat ini tidak hanya mengandalkan tenaga mahasiswa. Beberapa warga setempat turut turun tangan membantu proses pembuatan, bahkan meminjamkan alat-alat pertukangan milik mereka sendiri. Suasana gotong royong inilah yang membuat pengerjaan alat percontohan dapat lebih cepat rampung dari perkiraan. Uji Coba dan Sosialisasi kepada Ibu-ibu PKK Setelah alat rampung dibuat, tim mahasiswa langsung menggelar uji coba sekaligus sosialisasi kepada ibu-ibu PKK Desa Putukrejo pada 26 Juli. Saat didemonstrasikan, antusiasme warga sangat terlihat. Ibu-ibu PKK tampak antusias menyaksikan tumpukan daun kering habis dilahap api besar di dalam alat, tanpa menyebarkan asap yang mengganggu ke area sekitar. Diserahkan Resmi kepada Desa, Diharapkan Jadi Alat Percontohan Sebagai puncak dari rangkaian program kerja, Rocket Stove ini resmi diserahkan kepada pihak desa. Momen penyerahan simbolis tersebut dilaksanakan bertepatan dengan upacara penutupan program UM BBM di Balai Desa Putukrejo pada 31 Juli. Kehadiran inovasi Rocket Stove dari mahasiswa UM BBM ini diharapkan tidak berhenti hanya sebagai alat percontohan semata. Lebih dari itu, langkah ini diharapkan mampu mengedukasi warga Desa Putukrejo untuk mengelola sampah pekarangan dengan cara yang lebih sehat, demi mewujudkan lingkungan yang lebih bersih dan bebas polusi asap.