BANJARNEGARA, NETRALNEWS.COM - Di era digital seperti sekarang, setiap orang memiliki kebebasan untuk menyampaikan pendapat, saat ini Media sosial (medsos) telah menjadi ruang terbuka bagi siapa pun untuk memberikan kritik, dukungan, bahkan kecaman. Namun sayangnya, akibat terlalu bebasnya sering kali berubah menjadi budaya saling menghujat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Lalu pertanyaannya, apakah keturunan kita ingin terus menjadi generasi yang mewarisi DNA penghujat, atau justru menjadi generasi yang menghadirkan solusi bagi bangsa, hal inilah yang sampai saat ini belum pernah diterapkan, karena pengguna medsos sendiri hampir setengahnya berada di bawah umur. Padahal pada hakikatnya, tidak ada manusia yang sempurna, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan, termasuk para pemimpin, baik di tingkat daerah maupun nasional. Mereka adalah manusia yang juga dapat melakukan kesalahan, menghadapi keterbatasan, dan bekerja di tengah berbagai tantangan yang tidak selalu terlihat oleh masyarakat. Menangapi permasalahan yang sangat darurat moral bagi para generasi tersebut, salah satu aktivisme yang sekaligus Sekjen Aliansi Wargo Hutomo Banjarnegara, berpendapat, bahwa perbedaan pilihan politik sering kali membuat kehilangan objektivitas. “Ketika pemimpin yang kita dukung tidak terpilih, kita cenderung melihat setiap kebijakan pemerintah dengan kacamata negatif, namun sebaliknya, ketika pemimpin yang kita dukung berkuasa, kita lebih mudah memaklumi berbagai kekurangannya, sikap seperti yang perlahan menumbuhkan budaya kebencian dan melontarkan ruang dialog yang sehat,” ungkap Wahono, Kamis, (6/8/2026). Menurut Wahono, permasalahan yang lebih memprihatinkan adalah sering terburu-buru nya para pengguna medsos menyimpulkan, bahwa suatu program pemerintah telah gagal, padahal proses pelaksanaannya belum selesai. “Membangun sebuah daerah atau negara bukanlah pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam hitungan hari atau bulan, ibarat seorang pelari maraton, ketika baru menempuh setengah perjalanan, tentu belum bijaksana jika kita langsung menyatakan bahwa ia kalah atau gagal, keberhasilan membutuhkan proses, evaluasi, dan waktu,” jelas Wahono. Ditanya menanggapi situasi pengguna medsos di Indonesia saat ini, yang setiap hari banyaknya komentar hujatan dibandingkan kritikan membangun terhadap Pemerintah, Wahono melihatnya sebagai salah satu situasi yang sangat ironis, dirinya melihat sebagian justru lebih senang menyaksikan kegagalan daripada mengambil pelajaran dari kegagalan tersebut. "Kritik yang seharusnya menjadi sarana perbaikan sering berubah menjadi ejekan, cercaan, dan bahkan kebencian yang tidak menghasilkan solusi apa pun, itu yang terjadi saat ini di media sosial, akibatnya, energi bangsa lebih banyak habis untuk saling menyalahkan daripada saling memperbaiki, padahal Indonesia sedang menghadapi begitu banyak tantangan besar, seperti pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosial, politik, korupsi, kemiskinan, pengangguran, stunting, kelahiran bayi, pertahanan, hingga keamanan," tambah Wahono. Masih kata Wahono," Saat ini bangsa kira membutuhkan perhatian dan kerja sama dari seluruh elemen bangsa, semua persoalan tersebut tidak akan selesai hanya dengan komentar negatif, hujatan, atau perdebatan tanpa arah, bangsa ini membutuhkan ketenangan dalam berpikir, kedewasaan dalam bersikap, dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Kritik tentu sangat diperlukan dalam kehidupan demokrasi, namun kritik yang membangun selalu disertai data, argumentasi yang sehat, serta alternatif solusi, inilah yang akan mendorong perubahan ke arah yang lebih baik untuk bangsa ini," katanya. Sebagai rakyat, sudah saatnya tidak hanya menjadi penonton yang pandai mengomentari setiap persoalan, tapi juga perlu belajar memahami akar permasalahan bangsa, memperluas wawasan, dan ikut berkontribusi melalui gagasan, tindakan nyata, maupun pengawasan yang bertanggung jawab. Karena dalam sejarah selama ini menunjukkan bahwa sebuah bangsa tidak hancur hanya karena pemimpinnya yang lemah, namun ketika rakyatnya kehilangan persatuan, lebih gemar menyebarkan kebencian daripada membangun harapan, dan lebih sibuk mencari kesalahan daripada menghadirkan solusi, itulah yang membuat rusaknya bangsa, hal itu terjadi bukan hanya di Indonesia bahkan seluruh dunia. "Mari kita hentikan budaya mewariskan DNA penghujat kepada generasi berikutnya. Wariskanlah karakter yang lebih mulia: budaya berpikir kritis, menghargai perbedaan, saling menguatkan, serta berani menawarkan solusi. Dengan demikian, kita tidak hanya menjadi saksi perjalanan bangsa, tetapi juga menjadi bagian dari mereka yang ikut membangun Indonesia menuju masa depan yang lebih baik," pungkas Wahono. Jika melihat realita keadaan negara Indonesia saat ini, seharusnya bukan hujatan yang dibutuhkan, tetapi sebagai bangsa yang besar itu yang dipenuhi oleh masyarakat yang mampu berpikir jernih, bekerja sama, dan bergotong royong untuk mencari solusi atas setiap persoalan. Begitu juga dengan Pemerintah, juga harus mendengarkan aspirasi masyarakatnya agar mampu berkesinambungan dalam menyelesaikan persoalan bangsa, ibarat peribahasa pohon akan tumbuh karena adanya akar.