BANJARNEGARA, NETRALNEWS.COM – Bupati Banjarnegara, dr. Amalia Desiana, menilai pendampingan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah membawa perubahan signifikan terhadap sistem pengelolaan logistik kebencanaan di Kabupaten Banjarnegara. Hal tersebut disampaikan saat membuka kegiatan Identifikasi Kapasitas Dukungan Sumber Daya Klaster Logistik Kabupaten Banjarnegara yang digelar BNPB bersama Pemerintah Kabupaten Banjarnegara di Fox Harris Hotel & Convention Center, Rabu (5/8/2026). Kegiatan yang berlangsung selama dua hari hingga Kamis (6/8/2026) tersebut diikuti sekitar 80 peserta dari berbagai unsur multiheliks, meliputi BNPB, BPBD, organisasi perangkat daerah (OPD), TNI-Polri, BUMN/BUMD, dunia usaha, organisasi kemanusiaan, akademisi, hingga relawan. Dalam sambutannya, Amalia mengatakan penanganan bencana tidak hanya berfokus pada proses penyelamatan korban, tetapi juga bergantung pada sistem logistik yang mampu menjamin bantuan tersalurkan secara cepat dan tepat sasaran. "Penanganan bencana tidak hanya soal penyelamatkan jiwa di lapangan, tetapi juga pengelolaan logistik. Berkat pendampingan BNPB, Banjarnegara dapat mengelola pendataan dan pendistribusian logistik kepada masyarakat secara jauh lebih baik dan terukur," ujar Amalia. Menurutnya, penguatan sistem logistik menjadi kebutuhan mendesak mengingat Banjarnegara merupakan daerah dengan karakteristik geografis yang rawan terhadap berbagai bencana hidrometeorologi. Selain menghadapi potensi longsor dan banjir di sejumlah wilayah perbukitan, pemerintah daerah saat ini juga tengah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kekeringan yang mulai berdampak pada beberapa kecamatan. Melalui kegiatan tersebut, kapasitas dukungan logistik daerah akan dipetakan secara menyeluruh, meliputi sumber daya manusia, sarana dan prasarana, gudang logistik, armada transportasi, hingga sistem informasi. Analis Kebencanaan Ahli Madya BNPB, Maryanto, menjelaskan hasil pemetaan nantinya akan diintegrasikan ke dalam aplikasi Lapor Klaster sebagai basis data logistik terpadu. Menurutnya, data tersebut akan menjadi acuan dalam penyusunan rencana kontingensi, peningkatan kesiapsiagaan, hingga penanganan keadaan darurat. "Banjarnegara merupakan wilayah dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi, khususnya tanah longsor, banjir, cuaca ekstrem, dan kekeringan. Penguatan kapasitas logistik menjadi kebutuhan strategis agar sistem logistik terencana, terkoordinasi, serta mampu merespons kebutuhan masyarakat secara cepat, tepat, dan akuntabel," kata Maryanto. Sementara itu, Deputi Bidang Logistik dan Peralatan BNPB, Dra. Andi Eviana, M.Si., mengingatkan bahwa penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab bersama sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. Ia juga mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi ancaman El Nino dan potensi kekeringan yang diperkirakan meningkat pada Agustus hingga September 2026. Karena itu, BNPB mendorong pembentukan Tim Reaksi Cepat (TRC) hingga tingkat desa agar penanganan bencana dapat dilakukan sejak awal sebelum bantuan dari pemerintah kabupaten maupun pusat tiba. "Dalam 72 jam pertama saat darurat bencana, penyelamatan dan pemenuhan kebutuhan dasar harus sudah selesai. Karena itu, pembentukan TRC hingga tingkat desa sangat vital sebagai garda terdepan sebelum bantuan dari tingkat kabupaten maupun pusat tiba," tegas Andi Eviana. Melalui kegiatan identifikasi kapasitas dukungan sumber daya logistik ini, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara bersama BNPB berharap terbangun basis data logistik yang akurat, sistem distribusi bantuan yang lebih responsif, serta koordinasi lintas sektor yang semakin kuat sehingga penanganan bencana dapat dilakukan lebih cepat, efektif, dan tepat sasaran.