SURABAYA - Mahasiswa KKN Kolaboratif STAIN Majene dan UIN Sunan Ampel Surabaya menggelar edukasi antibullying di SDN 002 Mapilli, Kamis (20/8/2026). Kegiatan ini diikuti oleh siswa kelas IV hingga kelas VI tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk mengenali perundungan sekaligus merefleksikan perilaku yang selama ini mungkin dilakukan kepada teman sebaya. Kegiatan di awali dengan penayangan suatu video yang menggambarkan peristiwa perundungan terhadap anak sekolah dasar. Tayangan tersebut menjadi pemantik awal bagi siswa untuk memahami bahwa Tindakan mengejek, menyakiti, mengucilkan, maupun mempermalukan teman bukanlah hal yang dapat di anggap sebagai candaan biasa. Setelah penayangan video, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Qurrotul Aini, salah satu mahasiswa KKN. Dalam penyampaiannya, Aini menjelaskan pengertian bulliying, berbagai macam dan bentuk bulliying sebagai perundungan, serta dampak yang dapat di rasakan korban apabila bulliying / perundungan terus terjadi. Tidak berhenti pada penyampaian materi, siswa juga diajak untuk melihat kembali pengalaman mereka masing-masing. Aini membuka ruang bagi anak-anak untuk berani mengakui tindakan yang pernah dilakukan maupun menceritakan pengalaman yang pernah mereka alami. Sejumlah siswa kemudian memberanikan diri untuk maju dan berbagi kisah tentang perundungan yang pernah dialami. Momen tersebut menjadi salah satu bagian yang menyentuh dalam kegiatan. Beberapa siswa tidak hanya berani menceritakan pengalaman sebagai korban, tetapi juga menyadari bahwa candaan atau perlakuan yang mereka anggap biasa ternyata dapat meninggalkan luka bagi orang lain. “Semoga setelah ini teman teman sadar ya kak, biar saya tidak dihina lagi” ujar Qila, salah satu siswa yang mengaku pernah menjadi korban bullying. Suasana semakin haru ketika kegiatan di akhiri dengan renungan dan refleksi diri yang dipandu oleh saudari Annisa Ambarwati, salah satu anggota mahasiswa KKN. Para siswa diajak untuk mengingat kembali perkataan dan perbuatan yang mungkin pernah menyakiti teman, sekaligus menyadari pentingnya meminta maaf dan memperbaiki sikap. Tangis pun pecah di tengah suasana refleksi. Setelah itu, seluruh siswa diajak membentuk lingkaran dan saling meminta maaf serta bersalaman. Momen tersebut menjadi penutup yang menegaskan pesan utama kegiatan: bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi setiap anak untuk belajar, bertumbuh, dan berteman tanpa rasa takut. Melalui kegiatan ini para guru juga menyampaikan harapan agar siswa dapat menuntut ilmu dengan tenang tanpa harus merasa takut menjadi korban perundungan maupun dikucilkan oleh teman-temannya. Lingkungan sekolah di harapkan dapat terus dibangun dengan hudaya saling menghormati, menghargai, menyayangi, dan menjaga satu sama lain. Edukasi anti-bulliying tersebut tidak hanya menjadi penyampian materi bagi siswa, tetapi juga menjadi pengingat bahwa menciptakan lingkungan sekolah yang aman dimulai dari hal sederhana: menjaga ucapan, menghargai perasaan teman, dan berani menghentikan perundungan.