JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Tidak banyak dokter di Indonesia yang memilih untuk menekuni bidang toksikologi, apalagi yang berkaitan dengan gigitan hewan berbisa. Namun, dr. Tri Maharani menjadi pengecualian. Dokter asal Kediri, Jawa Timur ini dikenal luas karena dedikasinya dalam menangani kasus gigitan ular dan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai bahaya racun hewan berbisa. Lahir pada 31 Agustus 1971, dr. Tri menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Brawijaya, kemudian melanjutkan studi Magister di bidang Imunologi di Universitas Airlangga. Ia juga meraih gelar PhD Biomedical Science dan mendalami Kedokteran Darurat, bidang yang banyak bersinggungan dengan kasus kritis seperti gigitan ular. Perjalanan kariernya dimulai di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Daha Husada Kediri, di mana ia sering menghadapi pasien dengan kasus gigitan ular berbisa. Dari pengalaman inilah, ia sadar bahwa banyak masyarakat dan tenaga medis masih keliru dalam memberikan pertolongan pertama. Sejak itu, dr. Tri aktif memberikan pelatihan dan penyuluhan di berbagai daerah untuk meningkatkan pemahaman mengenai cara penanganan gigitan yang benar. Ia juga sering turun langsung ke lapangan membantu rumah sakit di daerah yang kekurangan informasi atau antivenom. “Kesalahan dalam penanganan justru bisa memperburuk kondisi korban. Edukasi menjadi kunci agar masyarakat tahu langkah awal yang aman,” dikutip dari penjelasan dr. Tri dalam laman Universitas Airlangga. Selain berkiprah di dalam negeri, dr. Tri juga diakui di kancah internasional. Ia dipercaya menjadi bagian dari kelompok kerja WHO yang menyusun roadmap global penanganan gigitan ular berbisa. Melalui peran tersebut, namanya dikenal sebagai salah satu pakar toksikologi Indonesia yang berpengaruh di dunia. Menurutnya, Indonesia masih menghadapi tantangan besar karena keragaman spesies ular berbisa sangat tinggi, namun belum semua jenis memiliki serum penawar racun yang sesuai. Kondisi ini diperparah dengan masih maraknya mitos penanganan tradisional yang tidak tepat, seperti mengisap luka gigitan atau menyayat kulit korban. Meski menghadapi berbagai keterbatasan, dr. Tri tak berhenti berbagi ilmu. Ia aktif di media sosial dan forum edukasi untuk memberikan konsultasi serta sosialisasi tentang pentingnya penanganan gigitan hewan berbisa dengan benar. “Saya hanya ingin lebih banyak nyawa terselamatkan. Itu sudah cukup bagi saya,” ujarnya dalam wawancara lain yang dikutip dari situs snakebiteawareness.org. Dengan keahlian yang langka dan dedikasinya yang tulus, dr. Tri Maharani menjadi contoh nyata bagaimana ilmu dan empati bisa menyelamatkan banyak nyawa. Sosoknya membuktikan bahwa profesi dokter tak hanya soal praktik di rumah sakit besar, tetapi juga tentang turun langsung membantu masyarakat yang membutuhkan. sumber: wikipedia, snakebiteawareness.org, unair.ac.id