JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons spekulasi ekonom Citibank soal kemungkinan Indonesia menaikkan batas defisit anggaran melampaui 3 persen. Pernyataan tegas itu disampaikan saat ia menjadi pembicara di Indonesia Economic Summit 2026, Selasa (3/2/2026). Indonesia Economic Summit merupakan forum tahunan yang membahas isu-isu ekonomi strategis nasional. Acara ini menghadirkan para pembuat kebijakan, pelaku bisnis, dan ekonom untuk membahas arah perekonomian Indonesia. Dalam sesi wawancara, Haslinda Amin selaku pemandu acara menyinggung adanya spekulasi dari ekonom Citiban yang menilai Indonesia kemungkinan akan menggeser batas defisit anggaran melampaui angka 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Batas 3 persen ini merupakan aturan yang tertuang dalam undang-undang keuangan negara. Mendengar pertanyaan tersebut, Purbaya langsung mempertanyakan kredibilitas ekonom yang membuat spekulasi itu. Ia bahkan menyinggung soal gelar akademis. "Dia bukan ekonom sungguhan. Hanya master. Seharusnya tanya yang PhD untuk menjawab pertanyaan itu, yaitu saya," ujar Purbaya sambil menunjuk dirinya sendiri. Ia menegaskan bahwa sebagai menteri keuangan bergelar PhD, dirinya lebih memahami kebijakan fiskal ketimbang pihak yang memberi spekulasi. Purbaya kemudian menjelaskan alasan pemerintah mendorong defisit mendekati batas 3 persen tahun lalu. Pemerintah melihat ekonomi Indonesia mengalami perlambatan yang cukup signifikan sejak awal tahun. Tren perlambatan ekonomi ini sebenarnya sudah terjadi sejak lama, bahkan dimulai sebelum tahun 2010. Pembuat kebijakan di masa lalu sempat sengaja memperlambat pertumbuhan ekonomi dengan berbagai alasan. Kondisi ini terus berlanjut hingga akhirnya ekonomi semakin melemah. Menghadapi situasi tersebut, pemerintah khawatir perlambatan ekonomi akan berubah jadi resesi jika tidak segera ditangani. Resesi adalah kondisi ketika ekonomi mengalami pertumbuhan negatif dalam dua kuartal berturut-turut. Dampaknya bisa sangat buruk bagi masyarakat, mulai dari PHK massal hingga penurunan daya beli. Untuk mencegah skenario terburuk itu, pemerintah mengambil langkah kebijakan fiskal yang ekspansif. Artinya, pemerintah sengaja menambah pengeluaran negara sebagai stimulus ekonomi. Dana stimulus ini disalurkan lewat berbagai program, mulai dari infrastruktur hingga bantuan sosial. Strategi ini ternyata membuahkan hasil. Arah ekonomi mulai berbalik naik pada September 2025. Pembalikan tren ini terus berlanjut hingga Oktober, November, dan bulan-bulan berikutnya. Indikator ekonomi seperti pertumbuhan PDB dan konsumsi masyarakat mulai menunjukkan perbaikan. "Kami berhasil membalikkan arah ekonomi. Ini kerja seorang ahli," kata Purbaya. Ia menambahkan telah belajar kebijakan fiskal dari para ahli terbaik di dunia, baik lewat pendidikan formal maupun pengalaman mengelola keuangan negara. Purbaya dengan tegas menyatakan tidak akan menaikkan batas defisit melampaui 3 persen di masa depan. Ia menyadari bahwa melanggar batas defisit akan menuai kritik tajam dari berbagai pihak, apalagi batas 3 persen ini sudah diatur dalam undang-undang. "Saya tidak ingin melampaui level 3 persen karena media akan bilang saya tidak paham pekerjaan saya," tambah Purbaya.