JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Politisi sekaligus aktivis sosial politik Ferdinand Hutahaean melontarkan kritik terbuka terhadap Wakil Ketua Umum Partai Garuda, Teddy Gusnaidi, di tengah perdebatan publik yang melibatkan komika Arie Kriting. Pernyataan tersebut disampaikan pada Kamis (8/1/2026) dan langsung menjadi perhatian karena menyentuh irisan antara politik, kebebasan berekspresi, dan etika berpendapat di ruang publik. Kritik Ferdinand muncul saat Teddy dan Arie terlibat perdebatan terkait isu buzzer serta respons terhadap materi komedi yang menyinggung pejabat negara. Dalam pernyataannya, Ferdinand menilai sikap Teddy selama ini terlalu agresif dalam membela penguasa. Ferdinand menyebut bahwa sikap tersebut dinilainya tidak berbanding lurus dengan posisi atau jabatan yang diperoleh. Ia juga menyampaikan pandangan bahwa pola pembelaan politik yang keras kerap disertai harapan akan imbalan kekuasaan, meski hal itu tidak selalu terwujud. Dalam kritik lanjutan, Ferdinand membandingkan sikap Teddy dengan sejumlah figur politik lain yang dinilai vokal di ruang publik. Ia menilai pola tersebut merupakan bagian dari dinamika politik yang kerap terjadi, terutama ketika kritik dan pembelaan dilakukan secara terbuka di hadapan masyarakat. Polemik ini bermula dari keberatan Teddy terhadap salah satu materi komedi yang dibawakan Pandji Pragiwaksono. Dalam materi tersebut, terdapat candaan yang menyinggung kondisi fisik seorang pejabat publik. Teddy menilai materi tersebut tidak pantas dan mempertanyakan etika dalam menyampaikan kritik melalui komedi. Teddy kemudian mengajukan pertanyaan kepada Arie Kriting sebagai sesama komika. Ia mempertanyakan apakah candaan yang menyinggung fisik seseorang dapat dibenarkan sebagai bagian dari profesi, serta apakah hal serupa juga pantas diterima oleh komika lain. Menanggapi hal itu, Arie Kriting tidak langsung menjawab substansi pertanyaan tersebut. Ia justru meminta agar pertanyaan yang diajukan diperjelas terlebih dahulu. Sikap tersebut menunjukkan upaya untuk tidak terjebak dalam perdebatan yang bersifat personal dan melebar dari konteks awal. Perdebatan ini kemudian berkembang dan menarik perhatian figur publik lain, termasuk Ferdinand Hutahaean. Masuknya Ferdinand ke dalam polemik tersebut memperluas diskusi dari sekadar soal komedi menjadi kritik terhadap sikap dan praktik politik di ruang publik. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Teddy Gusnaidi terkait kritik yang disampaikan Ferdinand. Polemik ini pun masih bergulir dan menjadi cerminan bagaimana perdebatan antara politik, kebebasan berekspresi, dan etika publik terus berlangsung di tengah masyarakat. Peristiwa ini menunjukkan bahwa ruang publik masih menjadi arena pertemuan berbagai pandangan, mulai dari seni, kritik sosial, hingga kepentingan politik. Perbedaan pendapat yang muncul menjadi bagian dari dinamika demokrasi yang terus diuji oleh respons para tokoh publik.