TUBAN – Kesadaran terhadap pentingnya mitigasi bencana perlu ditanamkan sejak usia dini. Berangkat dari semangat tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Malang melaksanakan program GEMPITA (Gerakan Mitigasi Pintar Tanggap Bencana) di SD Negeri 1 Kemlaten, Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban. Program ini mengangkat tema "Edukasi dan Mitigasi Bencana Gempa Bumi melalui Pembuatan Jalur Evakuasi dan Titik Kumpul Aman" sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan warga sekolah dalam menghadapi potensi bencana gempa bumi. Indonesia merupakan salah satu negara yang berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik dunia sehingga memiliki tingkat kerawanan gempa bumi yang tinggi. Kabupaten Tuban juga memiliki potensi risiko gempa akibat aktivitas sesar aktif di wilayah Laut Jawa. Kondisi tersebut menjadikan edukasi mitigasi bencana sebagai kebutuhan penting, khususnya bagi anak-anak sekolah dasar yang termasuk kelompok rentan saat terjadi bencana. Berdasarkan hasil observasi mahasiswa KKN Universitas Negeri Malang di SD Negeri 1 Kemlaten, masih banyak siswa yang belum memahami langkah penyelamatan diri ketika terjadi gempa bumi. Selain itu, sekolah juga belum memiliki pemahaman yang optimal mengenai jalur evakuasi maupun titik kumpul aman sebagai bagian dari sistem kesiapsiagaan bencana. Melalui program GEMPITA yang dilaksanakan pada tanggal 21 Juli 2026, mahasiswa menghadirkan pembelajaran yang dikemas secara interaktif dan menyenangkan. Kegiatan diawali dengan pembukaan dan ice breaking untuk membangun antusiasme siswa sebelum memasuki sesi edukasi. Selanjutnya, siswa diberikan materi mengenai pengertian gempa bumi, penyebab terjadinya gempa, dampak yang dapat ditimbulkan, serta pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Materi kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi teknik penyelamatan diri menggunakan metode Drop, Cover, and Hold On, yaitu berlindung di bawah meja yang kokoh, melindungi kepala dan leher, serta bertahan hingga guncangan berhenti. Mahasiswa memberikan contoh secara langsung, kemudian mengajak seluruh siswa mempraktikkan gerakan tersebut agar mereka memahami langkah yang harus dilakukan ketika terjadi gempa. Tidak berhenti pada penyampaian materi, kegiatan juga diisi dengan simulasi evakuasi menuju titik kumpul aman. Seluruh siswa diajak mengikuti jalur evakuasi yang telah dirancang bersama pihak sekolah sehingga mereka memperoleh pengalaman nyata mengenai proses evakuasi yang tertib, cepat, dan aman. Dalam kesempatan yang sama, mahasiswa juga memperkenalkan penanda arah evakuasi dan titik kumpul aman sebagai sarana mitigasi yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh sekolah. Melalui pendekatan pembelajaran yang didominasi praktik, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengaplikasikan langsung keterampilan penyelamatan diri. Komposisi kegiatan yang lebih banyak diisi praktik dibandingkan penyampaian materi diharapkan mampu meningkatkan pemahaman siswa secara lebih efektif. Program ini juga memberikan manfaat bagi pihak sekolah. Dengan tersedianya jalur evakuasi, serta titik kumpul aman, SD Negeri 1 Kemlaten kini memiliki sarana pendukung yang dapat digunakan sebagai bagian dari upaya mewujudkan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dalam kegiatan pembelajaran maupun simulasi kebencanaan di masa mendatang. Bagi mahasiswa, pelaksanaan program GEMPITA menjadi wujud nyata pengabdian kepada masyarakat sekaligus implementasi ilmu yang diperoleh selama perkuliahan. Selain memberikan edukasi kepada siswa, kegiatan ini juga melatih kemampuan mahasiswa dalam merancang program, berkoordinasi dengan berbagai pihak, serta mengelola kegiatan berbasis kebutuhan masyarakat. Melalui kolaborasi antara mahasiswa, guru, dan seluruh warga sekolah, diharapkan budaya sadar bencana dapat tumbuh sejak dini. Kesiapsiagaan bukan hanya menjadi pengetahuan, tetapi juga menjadi kebiasaan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, ketika bencana terjadi, setiap individu telah memahami langkah penyelamatan yang tepat sehingga risiko korban dapat diminimalkan. Program GEMPITA menjadi bukti bahwa edukasi mitigasi bencana dapat disampaikan dengan cara yang sederhana, menarik, dan mudah dipahami oleh anak-anak. Harapannya, kegiatan ini mampu menjadi langkah awal dalam membangun generasi yang lebih tangguh, sigap, dan siap menghadapi berbagai potensi bencana di masa depan.