MAGELANG, NETRALNEWS.COM - Aktivitas Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan pada periode pengamatan yang dilakukan Senin (31/8/2026) siang tadi sekitar pukul 12.00 WIB. Dari laporan resmi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melalui sistem MAGMA-VAR mencatat, gunung berapi paling aktif di Jawa tersebut hingga kini masih berstatus Level III (Siaga) dengan sejumlah kejadian vulkanik yang patut diwaspadai. Beda dengan beberapa hari yang lalu, dalam pengamatan selama enam jam hari ini, kondisi cuaca di sekitar puncak Merapi terpantau mendung dengan angin bertiup lemah ke arah timur. Dengan suhu udara berkisar antara 21,7 hingga 26,6 derajat Celcius, dengan kelembaban udara mencapai 65,4 hingga 83,1 persen. Tekanan udara tercatat berada pada angka 876,8 hingga 920,4 mmHg. Dipantau melalui teropong, puncak Gunung Merapi terlihat tertutup kabut dengan tingkat kabut 0 hingga III. Meski begitu, tim pengamat berhasil mendeteksi adanya kepulan asap kawah berwarna putih dengan intensitas tebal yang menyembur setinggi 200 meter di atas puncak. Selain abu vulkanik, BPPTKG juga menyoroti data kegempaan yang menunjukkan aktivitas vulkanik yang masih tergolong tinggi. Tercatat sebanyak 25 kali gempa guguran dengan amplitudo berkisar 2 hingga 17 milimeter dan durasi antara 20,94 hingga 180,87 detik. Selain itu, terjadi pula 14 kali gempa Hybrid/Fase banyak yang mengindikasikan penampakan pergerakan fluida di dalam tubuh gunung, dengan amplitudo 2 hingga 24 milimeter dan durasi 18,59 hingga 41,47 detik. Selain itu, terekamnya 1 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 5 milimeter dan durasi 33,4 detik, dimana menjadi pertanda adanya pergerakan magma yang semakin mendekati permukaan. Dari pantauan lapangan tim BPPTKG juga mengungkapkan, terjadi guguran lahar sebanyak dua kali yang meluncur ke arah barat daya. Material pijar tersebut tercatat meluncur dengan jarak maksimum mencapai 1.800 meter dari puncak, sebuah jarak yang cukup mengingatkan potensi awan panas yang bisa menyusul. Dilansir dari radar jogya, petugas pengamat lapangan, Tri Mujiyanta, melaporkan pasokan magma ke permukaan masih berlangsung hingga saat ini. Kondisi tersebut dapat memicu awan panas guguran (APG) sewaktu-waktu, terutama jika material lava yang menumpuk di puncak runtuh akibat gravitasi. BPPTKG pun mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting bagi masyarakat di sekitar lereng Merapi. Potensi bahaya utama saat ini masih terfokus pada daya selatan hingga barat yang meliputi aliran Sungai Boyong dengan jarak bahaya maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng dengan jarak maksimal hingga 7 kilometer. Masyarakat juga diminta untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di daerah yang masuk dalam zona potensi bahaya. Selain itu, kewaspadaan terhadap bahaya lahar dan awan panas guguran perlu ditingkatkan, terutama ketika hujan turun di sekitar kawasan Gunung Merapi. Gangguan akibat abu vulkanik juga perlu diantisipasi dengan mengenakan masker dan melindungi saluran air bersih. BPPTKG menegaskan bahwa jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan di kemudian hari, status Gunung Merapi akan segera ditinjau dan diperbarui. Masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti informasi resmi dari PVMBG dan BPPTKG melalui kanal-kanal resmi yang telah disediakan di media sosial maupun siaran melalui radio atau televisi.