MIMIKA, NETRALNEWS.COM — Misteri di balik penemuan mayat dalam kondisi mengenaskan di SP7, Distrik Iwaka, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, mulai terkuak. Aparat Polres Mimika telah berhasil mengidentifikasi korban sebagai Bonisius Gaitian, seorang pria asal Watidal, Tanimbar Utara, Kepulauan Tanimbar, yang berdomisili di SP5, Kampung Limau Asri, Distrik Iwaka. Penemuan jasad korban pada Selasa (2/12/2025) menjadi perhatian serius kepolisian setempat. Saat ini, jenazah Bonisius tengah menjalani proses visum di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mimika guna kepentingan penyelidikan lebih lanjut. Kasus Atensi Khusus Kepolisian Meskipun identitas korban telah diketahui, aparat kepolisian hingga kini belum dapat memberikan keterangan rinci mengenai motif atau kronologi pasti yang melatarbelakangi tindak pembunuhan sadis tersebut. Kondisi korban yang ditemukan dengan kepala terpenggal menunjukkan tingkat kekejaman yang ekstrem dalam kasus ini. Kapolres Mimika AKBP Billyandha Hildiario Budiman menegaskan bahwa kasus pembunuhan ini telah menjadi atensi khusus kepolisian dan dipastikan akan diusut hingga tuntas. "Identitasnya sudah diketahui. Jenazah sementara dilakukan visum di RSUD Mimika. Percaya kepada aparat keamanan. Dan kami pastikan akan mengusut tuntas kasus tersebut," ujar AKBP Billyandha. Ia turut memohon dukungan dan doa dari seluruh masyarakat Mimika untuk kelancaran pengusutan kasus ini. Kesaksian Istri Korban: Antar Penumpang dengan Parang Istri korban, Surip Dorji, memberikan keterangan yang sangat penting mengenai aktivitas terakhir suaminya sebelum ditemukan tewas tragis. Bonisius Gaitian diketahui memiliki pekerjaan ganda; ia bekerja di salah satu pabrik batako, dan ketika kehabisan stok pasir, ia akan menyambi menjadi pengemudi ojek. Pada pagi hari sebelum insiden, Bonisius memutuskan untuk mencari penghasilan tambahan dengan menarik ojek. Surip Dorji mengingat percakapan terakhir suaminya: "Suami saya kerja di (pabrik) batako. Tadi pagi keluar ojek. Saat itu, suami saya bilang ada angkut penumpang masyarakat (orang asli Papua) ke SP7," ungkap Surip Dorji kepada media. Yang menjadi poin krusial adalah kesaksian Surip Dorji bahwa saat kembali, penumpang ojek pertama suaminya tersebut terlihat membawa parang bersama seorang kerabat lainnya. “Tadi siang, ojek masyarakat itu bawa parang. Setelah itu kembali lagi dengan pace masyarakat itu,” tambahnya. Selanjutnya, Bonisius kembali mengantar penumpang tersebut ke SP7 dengan alasan hendak menunggu seorang kerabat dari penumpang yang sama. Tak lama kemudian, kabar duka yang sangat mengejutkan tiba di kediamannya. "Hingga saya mendapat kabar bahwa suami saya telah dibunuh," ujar Surip Dorji. Keterangan dari istri korban ini menjadi petunjuk awal yang sangat berharga bagi penyidik untuk mengidentifikasi terduga pelaku dan melacak pergerakan terakhir korban sebelum ia dibunuh secara keji. Pihak kepolisian saat ini terus mendalami keterangan saksi, termasuk mengaitkannya dengan penemuan korban pembacokan lain yang terjadi tak lama setelah mayat Bonisius ditemukan. (Disarikan dari beberapa sumber)