JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) berhasil melakukan implantasi Left Ventricular Assist Device (LVAD) pertama di Indonesia sebagai terapi bagi pasien gagal jantung stadium lanjut. Keberhasilan tersebut diumumkan dalam konferensi pers pada hari Rabu, 7 Agustus 2026, yang dihadiri Direktur Utama RSCM Dr. Azrar, Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Dr. Azhar Jaya, serta perwakilan HeartSpan dan Fuwai Hospital, Beijing. Implantasi LVAD dilakukan untuk memberikan harapan baru bagi pasien gagal jantung yang tidak lagi merespons terapi obat secara optimal. Menurut tim RSCM, pasien yang dipilih merupakan seorang perempuan berusia 45 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai penjual nasi uduk dan telah berulang kali menjalani perawatan akibat gagal jantung. Setelah melalui seleksi oleh tim multidisiplin, pasien dinilai memenuhi kriteria untuk menjalani pemasangan LVAD. Prosedur implantasi dilakukan di RSCM dengan melibatkan tim multidisiplin yang terdiri atas dokter spesialis jantung, dokter bedah jantung, dokter anestesi, perawat, perfusionis, serta didukung oleh manajemen rumah sakit, Kementerian Kesehatan, HeartSpan, dan Fuwai Hospital. Sebelum tindakan dilakukan, tim medis juga mengikuti serangkaian pelatihan di Beijing untuk mempelajari teknik pemasangan, perawatan sebelum implantasi, hingga penanganan pasien setelah operasi. Hingga hari keempat pascaoperasi, kondisi pasien dilaporkan menunjukkan perkembangan yang baik. Pasien berhasil lepas dari ventilator dalam waktu kurang dari 24 jam setelah operasi, mulai menjalani latihan duduk, dan terus dipantau untuk mengantisipasi risiko infeksi, perdarahan, serta gangguan fungsi ginjal dan hati. Tim medis menyebut seluruh parameter klinis pasien menunjukkan perbaikan. Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Dr. Azhar Jaya, mengatakan keberhasilan implantasi LVAD pertama ini menjadi langkah penting dalam meningkatkan layanan penanganan gagal jantung di Indonesia. Ia juga menilai kolaborasi dengan HeartSpan dan Fuwai Hospital dapat memperkuat transfer teknologi sekaligus membuka peluang pengembangan industri alat kesehatan di dalam negeri sehingga semakin banyak pasien gagal jantung yang dapat memperoleh akses terhadap terapi canggih tersebut.