SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan kesiapan Jawa Timur untuk menjadi pusat pengembangan pendidikan vokasi nasional melalui penguatan ekosistem talenta, sertifikasi kompetensi, kolaborasi dengan industri, serta perluasan kerja sama internasional. Pernyataan tersebut disampaikan Khofifah saat menghadiri Olimpiade Vokasi Indonesia (OLIVIA) XI 2026 di Surabaya, Selasa. Acara tersebut dihadiri oleh para rektor, dekan, akademisi, guru besar, delegasi perguruan tinggi dari berbagai daerah di Indonesia, hingga tamu mancanegara. Menurut Khofifah, kebutuhan dunia kerja saat ini tidak lagi hanya mengandalkan ijazah akademik. Dunia usaha dan industri semakin menuntut tenaga kerja yang memiliki kompetensi terukur dan dibuktikan melalui sertifikasi profesional. "Hari ini ijazah saja tidak cukup. Dunia usaha dan industri membutuhkan kompetensi yang dibuktikan melalui sertifikasi," ujarnya. Di hadapan para peserta forum, Khofifah menjelaskan bahwa Jawa Timur telah membangun sistem pendidikan vokasi yang terintegrasi dan berkelanjutan. Sistem tersebut mencakup pembinaan talenta sejak usia sekolah, peningkatan kapasitas tenaga pendidik, sertifikasi keterampilan, hingga penguatan kemitraan dengan Dunia Usaha, Dunia Industri, dan Dunia Kerja (DUDIKA). Selain itu, pemerintah provinsi juga terus memperluas jejaring internasional melalui program magang, beasiswa, dan penempatan kerja di luar negeri bagi para lulusan pendidikan vokasi. Khofifah menilai berbagai upaya tersebut telah menempatkan Jawa Timur sebagai salah satu daerah yang layak dijadikan rujukan dalam pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia. “Jika melihat perkembangan pendidikan vokasi di Jawa Timur saat ini, kami optimistis daerah ini sudah layak menjadi referensi pendidikan vokasi nasional,” katanya. Keberhasilan tersebut, lanjut Khofifah, merupakan hasil kolaborasi jangka panjang antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur, perguruan tinggi, serta sektor industri dalam membangun sistem pengembangan talenta yang konsisten dan berkesinambungan. Salah satu indikator keberhasilan itu terlihat dari prestasi Jawa Timur yang mampu mempertahankan gelar juara umum Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Nasional selama empat tahun berturut-turut. Menurutnya, pencapaian tersebut tidak lepas dari sistem pembinaan terintegrasi yang memungkinkan peserta didik mendapatkan pendampingan secara berkelanjutan sehingga potensi dan keterampilannya berkembang secara optimal. Tak hanya berprestasi di tingkat nasional, lulusan pendidikan vokasi Jawa Timur juga semakin banyak yang memperoleh kesempatan berkarier di luar negeri. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 4.915 siswa SMK Jawa Timur telah mengikuti program magang maupun bekerja di 13 negara. Selain pendidikan vokasi di tingkat SMK, Khofifah juga menyoroti keberhasilan Program SMA Double Track, yang memberikan keterampilan vokasional dan kewirausahaan kepada siswa sekolah menengah atas sebagai bekal memasuki dunia kerja maupun membangun usaha sendiri. Menurutnya, talenta muda Indonesia akan berkembang lebih maksimal apabila mendapatkan dukungan mentor yang tepat dan berada dalam ekosistem pembelajaran yang mendukung. “Ketika anak-anak berbakat bertemu dengan mentor yang tepat serta lingkungan yang mendukung, mereka akan menjadi kekuatan besar bagi masa depan Indonesia,” ujarnya. Di akhir sambutannya, Khofifah mengajak perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan industri untuk terus memperkuat sinergi dalam membangun pendidikan vokasi yang mampu menjawab kebutuhan pasar kerja modern, perkembangan teknologi, dan tantangan global. Ia optimistis kolaborasi yang semakin erat akan melahirkan lebih banyak talenta muda berkualitas dari jalur pendidikan vokasi yang mampu menjadi penggerak kemajuan ekonomi dan pembangunan nasional. “Dengan kerja sama yang kuat, saya yakin semakin banyak generasi muda Indonesia yang lahir dari pendidikan vokasi dan mampu menjadi motor penggerak kemajuan bangsa,” kata Khofifah.